Kebun Kakao Pangandaran Berubah Jadi Wisata dan Perumahan

Ningsih R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 77 dibaca
Bisik.id
Kebun Kakao Pangandaran Berubah Jadi Wisata dan Perumahan

Gambar atau konten salah?

Pantai Pangandaran dulu dikenal bukan sebagai tempat bersantai di pantai, melainkan sebagai ladang kakao (Theobroma cacao) yang menutupi garis pantai selatan. Kebun ini tersebar dari Desa Pananjung sampai Wonoharjo, hanya 500 meter dari bibir laut.

Seiring waktu, lahan kakao ini digantikan oleh pembangunan perhotelan dan vila. Jalan masuk wisata, yang dulu gelap karena pohon cokelat menutupi jalur, kini terbuka lebar, memudahkan arus pengunjung.

Salah satu warga yang tinggal tidak jauh dari kawasan tersebut, Irfan Hidayat (47 tahun), mengingat masa kecilnya bermain di kebun cokelat. “Wah dulu tempat bermainnya anak-anak di sini, ya niatnya main tapi terselubung ngambil buah coklat,” ungkapnya.

Menurut Irfan, kenangan paling berkesan adalah saat turis asing datang ke pabrik kakao dan membawa permen. “Pasti kami yang kebetulan ke sana pasti dikasih. Kadang souvenir,” tambahnya.

Ia juga mengakui cinta pertamanya bersemi di antara pepohonan cokelat. “Dulu saya kalau main sama istri ke kebun coklat walaupun harus dikejar-kejar mandor perkebunan, sampai ke pesisir,” jelasnya.

Menurutnya, kebun cokelat masih produktif dan menjadi bahan baku pembuatan cokelat. “Mungkin sudah sejak dulu pabrik kakao itu menyuplai bahan baku Silverqueen,” katanya.

Hari ini, kebun kakao telah berubah menjadi area yang menampung bangunan sekolah dan lapangan olahraga. Di sana berdiri SMPN 1 Pangandaran dan Lapangan Merdeka. “Sekarang mah jadi sekolah sama lapangan merdeka. Dulu belakang situ perkebunan kakao,” ujar Irfan.

Ia juga mengingat gerbang tol (toll gate) pintu masuk wisata Pangandaran yang dulu masih gelap tertutup perkebunan. “Sebelum akhirnya dibuka jalan untuk memudahkan akses wisatawan,” tambahnya.

Era keemasan kebun kakao berlangsung dari 1 Januari 1990 hingga 1 Januari 2000. “Karena waktu krismon 1 Januari 1998 sudah mulai tidak produktif dan perkebunan milik PTPN itu tidak terawat,” jelas Irfan.

DetikJabar mencoba menelusuri foto kebun kakao pada tahun 1 Januari 1993-1 Januari 1994 yang pernah beredar di media sosial. Foto tersebut menampilkan seorang turis asing yang diajak mengunjungi kebun kakao di Desa Pangandaran-Pananjung.

Foto tersebut milik Masrudin, seorang pemandu wisata senior dari Pantai Pangandaran. Ia mengingat generasi 1990-an yang bermain dan memetik buah cokelat di kebun tersebut.

Agus Kusnadi, tokoh masyarakat Pangandaran, menyebutkan bahwa setelah krisis moneter, kebun kakao milik PTPN dikuasai oleh perusahaan lain. “Bahkan tahun 1 Januari 1998 itu sempat mau menjadikan kebun itu Ancol kedua, namun keburu krismon, hingga gedeg seng yang dipasang kiri kanan jalan tol gate masuk wisata ditutup. Cuman rencana pembangunan itu batal,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa warga setempat mengetahui rencana keluarga Presiden Soeharto untuk membangun Ancol di Pangandaran. “Namun gak jadi karena mungkin keburu lengser. Sekarang wilayah tanahnya sudah ada yang beli sebagian,” jelasnya.

Perubahan dari kebun kakao menjadi kawasan wisata dan perumahan mencerminkan pergeseran ekonomi lokal. Sejak era 1990-an, ketergantungan pada produksi kakao berkurang, sementara sektor pariwisata dan real estate menjadi pendorong utama. Kebun yang dulu menambah warna pantai kini menjadi bagian dari sejarah, diingatkan lewat cerita warga dan foto lama yang masih hidup di ingatan kolektif masyarakat Pangandaran.

Pantai Pangandarankebun kakaopariwisatareal estatePTPNkrismonAncol

Komentar

Memuat komentar...