Kehangatan Ramadan di Tiongkok: Mahasiswa Indonesia Bersatu
Gambar atau konten salah?
Menuntut ilmu di Negeri China tidak mengurangi kehangatan Ramadan. Hal ini dirasakan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di sana. Meskipun jarak lebih dari 5.000 km dari Jakarta, budaya kebersamaan selama Ramadan tetap terjaga. Kegiatan bersama di komunitas diaspora justru menjadi lebih hangat karena mereka hidup sebagai minoritas.
Mochamad Iqbal Agustiandori, seorang mahasiswa di University of International Business and Economics di Beijing, mengatakan, “Menjalani Ramadan di Tiongkok memiliki tantangan tersendiri. Cuaca dan waktu yang berbeda, lingkungan mayoritas non-Muslim, serta kesibukan studi atau pekerjaan membuat suasana Ramadan terasa berbeda dibandingkan di Indonesia. Namun, dalam kondisi ini, kebersamaan terasa lebih hangat.”
Di Indonesia, terdapat tradisi pesantren Ramadan. Hal yang sama dirasakan oleh diaspora Indonesia di Tiongkok. Pada Ramadan 2026, mereka meluncurkan Pesantren Ramadan Tiongkok. Ini adalah program kolaborasi antara Lintas Komunitas Muslim Indonesia Tiongkok (LKMIT), KBRI Beijing, dan berbagai organisasi muslim Indonesia di Tiongkok. Kegiatan ini diadakan untuk merayakan semangat kebersamaan dan ibadah yang terus dijaga oleh diaspora. Seluruh kegiatan diselenggarakan secara gratis, sehingga semua orang dapat berpartisipasi tanpa biaya.
“Setiap sore, suasana hangat terasa saat buka puasa bersama. Menu berbuka berbeda setiap hari dan menyajikan cita rasa khas dari Indonesia. Hidangan ini bukan sekadar makanan, tetapi juga pengobat rindu akan tanah air,” ungkap Mochamad Iqbal.
Setelah berbuka, jamaah melaksanakan shalat tarawih berjamaah dan mendengarkan kultum yang disampaikan secara bergiliran oleh mahasiswa dan perwakilan komunitas. Kegiatan ini menjadi tempat belajar disiplin ibadah, berdakwah, dan bertanggung jawab.
Program Pesantren Ramadan di Tiongkok juga menyajikan kajian serta checklist ibadah harian. Selain ibadah utama, ada kelas bahasa Mandarin untuk meningkatkan kapasitas diri selama bulan Ramadan. Mochamad Iqbal menambahkan, “Kegiatan ini mendorong diaspora untuk tetap istiqomah dalam beribadah di bulan suci, meskipun berada di lingkungan minoritas.”
Bagi diaspora, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ini juga tentang menjaga iman di tempat yang jauh dari Tanah Air. “Dalam lingkungan minoritas ini, Ramadan menjadi ruang untuk saling menguatkan dan mengingatkan bahwa jarak tidak pernah memisahkan persaudaraan,” tuturnya.
Mahasiswa dan komunitas Indonesia di Tiongkok terus menjaga semangat Ramadan melalui kebersamaan dan ibadah meskipun dalam kondisi yang berbeda. Komitmen mereka untuk tetap menjalankan tradisi dan menjaga hubungan antar sesama menjadi bukti bahwa persaudaraan tetap kuat meski terpisah oleh jarak.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nilai Inggris Tinggi, Anak Sulit Bicara? Natieva Kids Solusi
Agung Sulistyo: Dari Satpam Jadi Doktor UMY, Inspirasi
Media Sosial Jadi Kunci Belajar Bahasa Inggris di Sekolah
Dr Andryanto Kusmara Dapat Chevalier Palmes Académiques
Polban Buka Jalur SMBM 2026/27: Pilih Hingga 4 Program
Perubahan Media Sosial: Dari Jaringan ke Alat Politik
Berita Terbaru
Cuaca Minggu 14/6: Berawan di Surabaya, Sidoarjo Kabur
Redite Paing: Manusa Yadnya Tidak Dianjurkan 14 Juni 2026
Jadwal Sholat 14 Juni 2026 Bandung: Subuh, Zuhur, Maghrib
Jadwal Salat Surabaya 02 & 14 Mei 2026: Imsak hingga Isya
Timnas Belgia Hadapi Mesir di Piala Dunia 2026, Target Juara
Denpasar Rilis Jadwal Shalat 14 Juni 2026: Subuh 05:09
Jaya Raya Jakarta Juara Yonex‑Sunrise Doubles 2026
Jadwal Sholat Minggu, 14 Juni 2026: Cirebon dan Sekitarnya
Cuaca Jawa Timur 14 Juni: Cerah Berawan Hingga Hujan Berat
Aquilani Jadi Pelatih Baru Sassuolo, Idzes Tantangannya
