Keluarga Kartini: Dari Soesalit hingga Cicit Tantangan

Rudi H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 77 dibaca
Bisik.id
Keluarga Kartini: Dari Soesalit hingga Cicit Tantangan

Gambar atau konten salah?

Raden Ajeng Kartini tetap dikenang sebagai ikon perjuangan perempuan di Indonesia. Namun, kisah keluarga dan keturunannya jarang dibicarakan. Kartini, anak seorang bupati Jepara, menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati Djojoadhiningrat. Dari pernikahan itu lahir seorang anak laki‑laki, Soesalit Djojoadhiningrat, yang menempuh hidup berbeda dari bayang‑bayang sang ibu.

Soesalit lahir pada 13 September 1904 sebagai putra semata wayang Kartini. Kebahagiaan singkat itu berakhir ketika Kartini meninggal dunia empat hari setelah melahirkan, tepatnya pada 17 September 1904. Sejak bayi, Soesalit tidak pernah bertemu dengan sang ibu. Ia diasuh oleh keluarga dan kehilangan ayahnya ketika berusia delapan tahun.

Walaupun tumbuh dalam kehilangan, Soesalit dikenal cerdas dan bersemangat. Ia menempuh pendidikan di Europe Lagere School (ELS) Rembang, kemudian melanjutkan ke Hogere Burgerschool (HBS) Semarang, dan sempat belajar di Rechtschoogeschool (RHS) Batavia. Setelah menuntut ilmu, ia bekerja sebagai pamong praja dan masuk ke dinas intelijen kolonial. Pada masa pendudukan Jepang, ia bergabung dengan PETA dan meniti karier militer yang cukup gemilang. Ia pernah menyandang pangkat setara mayor dan turut berpartisipasi dalam perjuangan pasca‑kemerdekaan.

Namun, perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Keterkaitannya dengan peristiwa PKI Madiun 1948 membuat namanya terseret meskipun tidak pernah terbukti. Jabatan militernya dicopot, dan ia sempat menjalani tahanan rumah. Akhirnya, ia lebih banyak berada di balik layar pemerintahan. Soesalit wafat pada 17 Maret 1962 dan dimakamkan di kompleks makam Kartini di Rembang.

Kisah keluarga Kartini tidak berhenti pada Soesalit. Dari garis keturunan ini lahir cucu tunggal bernama Boedi Setyo Soesalit. Ia menikah dan memiliki lima anak: Kartini, Kartono, Rukmini, Samimum, dan Rachmat. Mereka menjadi cicit‑cicit Kartini yang hidup jauh setelah masa perjuangan sang tokoh emansipasi perempuan.

Setelah Boedi Soesalit meninggal dunia, istri dan anak‑anaknya harus bertahan dalam kondisi ekonomi yang terbatas. Beberapa cicit Kartini menjalani pekerjaan sederhana untuk memenuhi kebutuhan sehari‑hari. Ada yang bekerja sebagai tukang ojek, sementara yang lain menghadapi tekanan ekonomi berat dalam kehidupan rumah tangga. Bahkan, ada anggota keluarga yang hidup dalam kondisi memprihatinkan.

Masalah tempat tinggal juga sempat menjadi beban. Keluarga ini pernah menempati rumah bantuan pemerintah di wilayah Bogor, namun kemudian diminta untuk meninggalkan tempat tersebut. Kondisi hidup mereka semakin sulit. Menurut laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, situasi ini sempat menjadi perhatian daerah yang berencana memberikan bantuan berkelanjutan, seperti pendidikan dan tempat tinggal.

Kisah ini menunjukkan bahwa semangat Kartini tidak cukup hanya dikenang. Ia juga perlu diwujudkan melalui kepedulian nyata, terutama kepada para keturunannya. Meski nama Kartini masih menginspirasi, realitas hidup keluarganya di masa kini menunjukkan tantangan ekonomi dan sosial yang nyata.

Secara keseluruhan, perjalanan hidup Soesalit Djojoadhiningrat dan keturunannya menggambarkan kontras antara nama besar dan realitas sehari‑hari. Dari pendidikan di sekolah‑sekolah Eropa hingga karier militer, hingga menghadapi keterbatasan ekonomi dan tempat tinggal, kisah ini menegaskan bahwa warisan Kartini tidak hanya berupa sejarah, tetapi juga tanggung jawab sosial yang harus terus dipertahankan.

KartiniSoesalit DjojoadhiningratPETAPKI MadiunPemerintah Jawa Tengahketurunan

Komentar

Memuat komentar...