Kemarau Agustus 2026 di Bandung & Jawa Barat diprediksi BMKG

Dani L. · 3 min baca · 1 jam lalu · 29 dibaca
Bisik.id
Kemarau Agustus 2026 di Bandung & Jawa Barat diprediksi BMKG

Gambar atau konten salah?

BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung mengumumkan bahwa musim kemarau di wilayah Bandung Raya dan Jawa Barat akan mencapai puncaknya pada 01 Agustus 2026. Prediksi ini disertai dengan fenomena El Nino yang diperkirakan akan memengaruhi curah hujan.

“Terkait dengan musim kemarau tahun ini di lingkungan Bandung dan sekitarnya, di Jawa Barat mungkin pada umumnya, memang untuk tahun ini, tahun 2026 ini sudah musim kemarau, BMKG memprediksi akan disertai dengan El‑Nino,” kata Yuni Yulianti, Fungsional Pengamat Meteorologi dan Geofisika Muda BMKG Bandung, pada Sabtu (06 Juni 2026).

Yuni menjelaskan bahwa istilah “El‑Nino Godzilla” tidak pernah dipublikasikan oleh BMKG. “Sebenarnya BMKG sendiri tidak pernah merilis adanya El‑Nino Godzilla, jadi penamaan El‑Nino Godzilla ini bukan dari BMKG, jadi BMKG mengategorikan El‑Nino itu menjadi tiga tadi, El‑Nino lemah, El‑Nino moderat atau pertengahan dan El‑Nino kuat,” ujarnya.

El Nino sendiri merupakan anomali suhu permukaan air laut di Pasifik Ekuator yang berada di atas normal. BMKG mengklasifikasikannya menjadi tiga tingkat: lemah, moderat, dan kuat. Setiap tingkat membawa dampak berbeda pada pola cuaca di Indonesia.

“Nah untuk tahun ini diprediksi akan terjadi El‑Nino moderat, sehingga kuat, tentu kuatnya sekitar 20 persen dan lebih banyak ke El‑Nino moderat,” tambah Yuni.

El Nino moderat biasanya menurunkan pertumbuhan awan konvektif secara signifikan. Akibatnya, curah hujan di wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, diperkirakan akan turun drastis.

“Untuk puncak musim kemarau di wilayah Jawa Barat, rata-rata di Bulan Agustus 2026, termasuk juga untuk wilayah Bandung dan sekitarnya, meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, kemudian Bandung Barat, serta Kota Cimahi. Jadi secara sifat musim, untuk musim kemarau tahun ini di Jawa Barat dan di Bandung khususnya, ini di bawah normal atau curah hujannya lebih rendah dan secara durasi diprediksi untuk beberapa wilayah Jawa Barat ini lebih panjang durasi musimnya,” jelas Yuni.

Musim kemarau yang berlangsung lebih lama berarti tanah akan kering lebih lama pula. Hal ini menambah tekanan pada sektor pertanian dan pengairan, yang sangat bergantung pada pasokan air.

BMKG mengimbau semua pihak untuk mempersiapkan diri menghadapi musim kemarau ini. “Ya terkait musim kemarau tahun ini disertai dengan fenomena El‑Nino, maka diprediksi tadi curah hujan akan mengalami penurunan secara signifikan, kemudian juga pasti akan berdampak pada beberapa sektor terutama untuk sektor pertanian, kemudian juga untuk sektor pengairan dan irigasi,” tuturnya.

Masyarakat diminta tetap tenang namun waspada. “Kami juga imbau masyarakat agar melakukan penghematan air bersih, kemudian juga mengurangi hal‑hal yang bisa berdampak pada potensi kebakaran, dan untuk insatansi terkait tentu saja berkaitan dengan petanian, sudah mulai menyesuaikan pola tanam dan juga memilih variatas yang tahan kekeringan, kemudian juga untuk di bagian irigasi dan pengairan, diimbau untuk sudah mulai mengisi waduk atau penumpung, kemudian juga memperbaiki saluran irigasi,” terangnya.

Untuk mencegah kebakaran hutan, Yuni menambahkan, “Untuk bagian kehutanannya mungkin bisa mulai diantisipasi dan dipertahankan daerah‑daerah yang rawan terjadi kebakaran hutan atau lahan. Musim kemarau itu bukan berarti tidak ada hujan sama sekali, jadi musim kemarau masih berpotensi ada hujan, tetapi hujannya sangat rendah,” pungkasnya.

Dengan prediksi ini, pihak BMKG menekankan pentingnya perencanaan dan pengelolaan sumber daya air. Penggunaan air yang bijaksana, perbaikan sistem irigasi, dan pemilihan tanaman yang tahan kekeringan menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif musim kemarau yang dipengaruhi El Nino.

BMKGEl Ninomusim kemarauBandung RayaJawa Baratcurah hujansektor pertanianpengairan

Komentar

Memuat komentar...