Kematian Dokter Internship Cianjur: Peringatan Vaksin Campak

Ika P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 62 dibaca
Bisik.id
Kematian Dokter Internship Cianjur: Peringatan Vaksin Campak

Gambar atau konten salah?

26 Maret 2026 menjadi tanggal yang tak terlupakan bagi warga Cianjur. Seorang dokter internship meninggal setelah terpapar campak, menandai kejadian yang menegaskan betapa berbahayanya penyakit ini bila tidak ada perlindungan.

Setelah kematian tersebut, Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan peringatan. Mereka menegaskan bahwa siapa pun yang belum divaksinasi, atau yang divaksinasi namun belum membentuk kekebalan, sangat rentan mengalami gejala berat setelah terpapar virus campak.

Menurut World Health Organization (WHO), kelompok yang berisiko paling tinggi adalah anak kecil yang belum divaksinasi dan ibu hamil. WHO menjelaskan bahwa keduanya memiliki peluang tinggi untuk mengalami komplikasi serius.

Campak masih sering terjadi, khususnya di beberapa wilayah Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Sebagian besar kematian berhubungan dengan campak terjadi di negara dengan pendapatan per kapita rendah atau infrastruktur kesehatan lemah. Negara-negara ini kesulitan menjangkau semua anak dengan imunisasi.

Kerusakan infrastruktur kesehatan akibat bencana alam atau konflik mengganggu imunisasi rutin. Di kamp-kamp pengungsi, kepadatan tinggi meningkatkan risiko penyebaran virus. Anak-anak yang mengalami kekurangan gizi atau sistem kekebalan tubuh lemah juga berada di garis depan risiko kematian akibat campak.

Gejala campak biasanya muncul 10 hingga 14 hari setelah terpapar. Ruam yang mencolok adalah tanda paling jelas. Gejala awal, seperti pilek, batuk, mata merah dan berair, serta bintik putih kecil di bagian dalam pipi, berlangsung 4 hingga 7 hari.

Ruam biasanya mulai muncul 7 hingga 18 hari setelah terpapar, biasanya di wajah dan leher bagian atas. Ruam menyebar selama sekitar 3 hari, kemudian meluas ke tangan dan kaki. Biasanya, ruam ini tetap selama 5 hingga 6 hari sebelum memudar.

Komplikasi yang sering menyebabkan kematian terkait campak meliputi encephalitis, yaitu infeksi yang menyebabkan pembengkakan otak dan berpotensi merusak otak. Komplikasi lain termasuk diare parah dan dehidrasi, infeksi telinga, serta masalah pernapasan parah seperti pneumonia.

Jika seorang wanita tertular campak selama kehamilan, risiko bagi ibu dan bayi meningkat. Bayi dapat lahir prematur dengan berat badan rendah, dan ibu berpotensi mengalami komplikasi serius.

Komplikasi paling sering terjadi pada anak di bawah 5 tahun dan orang dewasa di atas 30 tahun. Anak-anak yang kekurangan gizi, terutama yang kekurangan vitamin A atau memiliki sistem kekebalan tubuh lemah akibat HIV atau penyakit lain, berada di garis depan risiko.

Campak sendiri melemahkan sistem kekebalan tubuh. Setelah infeksi, tubuh dapat “lupa” cara melindungi diri dari infeksi lain, membuat anak-anak menjadi sangat rentan terhadap penyakit lain.

Kasus meninggalnya dokter internship di Cianjur menegaskan pentingnya vaksinasi. Kementerian Kesehatan RI dan WHO menegaskan bahwa vaksinasi tetap menjadi cara paling efektif untuk melindungi diri dari campak dan komplikasinya. Dengan imunisasi yang tepat, risiko komplikasi fatal dapat dikurangi secara signifikan.

CampakVaksinasiKementerian Kesehatan RIWHODokter InternshipCianjurEncefalitis

Komentar

Memuat komentar...