Kematian Tiga di Kapal MV Hondius Karena Hantavirus
Gambar atau konten salah?
11 April 2024 menandai hari pertama kematian di kapal pesiar MV Hondius. Kapal tersebut, yang berangkat dari Argentina menuju Cape Verde, menampung 149 penumpang dan awak. Tiga orang tewas akibat apa yang diduga hantavirus, sebuah virus yang biasanya menyebar melalui kotoran hewan pengerat.
Seorang pria Inggris berusia 69 tahun menjadi korban kedua. Ia dirawat di unit intensif di Johannesburg, Afrika Selatan, setelah varian hantavirus terdeteksi dalam tubuhnya. Pasien tersebut dievakuasi dalam kondisi kritis namun stabil. Penularan masih dalam penyelidikan, namun hantavirus dianggap sebagai penyebab utama.
Korban pertama, seorang 70 tahun Belanda, meninggal di atas kapal. Pasangan tersebut, suami istri, dipulangkan bersama. Istri kemudian jatuh sakit dan meninggal. Kematian ketiga menimpa penumpang asal Jerman. Semua tiga kematian sedang diselidiki, dan hantavirus diduga kuat sebagai penyebabnya.
"Ketika mendengar tentang wabah di kapal pesiar, kita cenderung memikirkan penyakit lain seperti Covid-19 atau norovirus. Hantavirus jarang dikaitkan dengan lingkungan semacam ini, dan penyebaran virus dari manusia ke manusia juga tidak biasa," sebut Dr. Michael Head, peneliti kesehatan global Southampton University.
"Mengingat kapal tersebut berasal dari Amerika Selatan, masuk akal jika varian virus Andes menjadi penyebab wabah ini. Sebelumnya pernah ada laporan mengenai penularan dari manusia ke manusia dari varian Andes, meskipun belum dapat dipastikan apakah itu yang terjadi dalam kasus ini," cetusnya.
"Hantavirus ditularkan ka manusia ketika mereka menghirup virus dalam bentuk aerosol yang menguar dari kotoran hewan pengerat," sebut Dr. Liam Brierley, dari MRC-University of Glasgow Centre for Virus Research.
"Hantavirus tak menular dari orang ke orang kecuali dalam keadaan sangat langka dan hanya untuk satu jenis hantavirus spesifik yang disebut virus Andes, di bawah kontak jarak dekat sangat intensif, seperti antara pasangan seks atau dari pasien ke staf rumah sakit. Karena itu, sangat mungkin kasus ini akibat dari satu titik paparan yang sama terhadap hewan pengerat," imbuhnya.
"Infeksi Hantavirus tidak umum terjadi dan biasanya dikaitkan paparan hewan pengerat terinfeksi. Walau parah pada beberapa kasus, virus ini tak mudah menular antarmanusia. Risiko terhadap masyarakat luas tetap rendah. Tidak perlu panik atau melakukan pembatasan perjalanan," cetus Dr. Hans Henri Kluge, Direktur Regional WHO Eropa yang dikutip detikINET dari Mirror. Tidak ada pengobatan khusus untuk hantavirus. Petugas medis biasanya hanya mengobati gejala dan menopang kondisi tubuh saat sistem kekebalan berusaha melawan infeksi. Perawatan yang diberikan dapat berupa terapi oksigen, obat antivirus, dan cuci darah.
"Bukan hal yang sepenuhnya aneh jika hewan pengerat menumpang di kapal, itu salah satu kemungkinannya. Orang yang sudah terinfeksi ketika kapal terakhir kali bersandar di pelabuhan Argentina adalah kemungkinan lain, mengingat masa inkubasi bisa mencapai delapan minggu," ujar Dr. Charlotte Hammer, ahli epidemiologi penyakit menular Cambridge University.
"Ada beberapa dugaan penyebaran dari manusia ke manusia dapat terjadi tapi masih belum ada kesepakatan dan bukti belum terkonfirmasi. Jika pun penyebaran manusia ke manusia terjadi, itu sangat langka. Terlalu dini berspekulasi mengenai bagaimana korban bisa terinfeksi, tapi sangat kecil kemungkinan wabah ini menyebabkan peningkatan risiko di Inggris atau di tempat lain di Eropa," ujar Prof. Paul Hunter, pakar penyakit menular University of East Anglia.
Hantavirus dapat menyebabkan dua penyakit serius: Sindrom Paru Hantavirus (HPS) dan Demam Berdarah dengan Sindrom Ginjal (HFRS). HPS sering disalahartikan sebagai flu biasa, namun jika gejala pernapasan berkembang, tingkat kematian dapat mencapai 38%. HFRS menyerang ginjal dan lebih parah lagi.
Infeksi hantavirus biasanya terkait dengan paparan hewan pengerat terinfeksi. Meskipun dapat menjadi parah, virus ini tidak mudah menular antar manusia. Risiko bagi masyarakat luas tetap rendah, sehingga WHO menegaskan tidak perlu melakukan pembatasan perjalanan.
Perawatan hantavirus bersifat suportif. Tanpa pengobatan khusus, tenaga medis fokus pada terapi oksigen, obat antivirus, dan cuci darah untuk membantu tubuh melawan infeksi. Penanganan ini bertujuan menstabilkan kondisi pasien sambil menunggu sistem kekebalan tubuh bekerja.
Kasus ini menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit zoonotik di lingkungan laut. Meskipun penularan manusia ke manusia sangat jarang, potensi penyebaran melalui hewan pengerat tetap ada. Kapal yang terakhir bersandar di pelabuhan Argentina menjadi salah satu kemungkinan sumber paparan, mengingat masa inkubasi hantavirus dapat mencapai delapan minggu.
WHO menegaskan bahwa meskipun wabah ini menimbulkan kekhawatiran, tidak ada bukti kuat bahwa risiko penyebaran luas meningkat. Oleh karena itu, tidak ada pembatasan perjalanan yang diberlakukan. Penelitian dan investigasi masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti dan mengidentifikasi titik paparan yang tepat.
Keberadaan tiga kematian di kapal pesiar ini menekankan perlunya prosedur pencegahan yang ketat terhadap hewan pengerat di fasilitas pelayaran. Meskipun kasus ini masih dalam penyelidikan, langkah-langkah pencegahan dan pengawasan kesehatan tetap menjadi prioritas utama bagi operator kapal dan otoritas kesehatan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
