Kemenkes Usulkan Indonesia Sebagai Lokasi Uji TB 1 Bulan

Vera T. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 46 dibaca
Bisik.id
Kemenkes Usulkan Indonesia Sebagai Lokasi Uji TB 1 Bulan

Gambar atau konten salah?

Terapi tuberkulosis biasanya dibagi menjadi dua bagian: fase intensif yang berlangsung dua bulan pertama dan fase lanjutan yang bisa memakan waktu empat bulan atau lebih. Tujuannya agar bakteri benar-benar mati dan tidak ada bakteri yang tersisa yang bisa membuat pasien menjadi resisten terhadap obat. Compliance atau kepatuhan minum obat menjadi kunci, karena bila tidak, pasien harus memulai pengobatan dari awal lagi.

Baru-baru ini Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan kabar baik mengenai uji klinik obat tuberkulosis yang hampir selesai. Obat ini memiliki frekuensi pemberian yang lebih singkat, bahkan hanya satu bulan. Saat ini, obat tersebut sedang mengakhiri fase dua uji kliniknya.

Jika Badan Pengawas Obat dan Makanan AS atau Food and Drug Administration (FDA) menyetujui fase tiga, obat ini mungkin akan tersedia untuk pasien di Indonesia. Menkes melihat peluang ini secara serius. Ia ingin Indonesia menjadi lokasi uji klinik fase tiga agar efektivitasnya dapat diuji langsung pada pasien di tanah air.

“Kita menawarkan diri, di Indonesia, sehingga pasien Indonesia bisa dapat duluan,” kata BGS dalam rapat kerja bersama DPR pada hari Senin.

Ia juga menegaskan, “Saya juga meminta supaya Biofarma bisa dilibatkan dari awal. Jadi ini (obat TB yang sedang diteliti) satu bulan makan obat, kemudian disuntik,” tambahnya.

Menjelaskan mengapa pengobatan dengan frekuensi lebih pendek penting, ia mengatakan, “Mengonsumsi obat dengan frekuensi waktu lebih pendek menjadi jawaban bagi pasien yang selama ini putus pengobatan di tengah jalan karena merasa terlalu lelah.”

Ia menambahkan, “Kenapa nggak obat saja? Obat itu kalau sudah masuk kan akan keluar. Bah kalau disuntik, itu kan darah mutar tersus, obat yang tadinya pil antibiotik itu akan diganti, yang tadinya masuk ke saluran pencernaan menjadi ke darah.”

“Kalau ini jadi, akan menjadi inovasi besar dalam pengobatan tuberkulosis,” ujarnya.

Menurutnya, obat TB satu bulan ini diperkirakan akan selesai pada 2029. Ia menjelaskan bahwa ketika suatu obat sudah melewati fase satu dan fase dua, itu berarti telah terbukti aman dan efektif. Pada fase tiga, pengujian dilakukan pada populasi yang lebih besar untuk melihat bagaimana obat bekerja di kondisi nyata yang lebih beragam.

“Clinical trial level 3 memang dibutuhkan untuk melihat penerapannya di skala populasi besar. Dan, kami melihat kadang tiap negara punya genetik berbeda,” tutur Menkes.

Ia mencontohkan vaksin malaria yang sudah dirilis. Vaksin tersebut cocok untuk masyarakat di Afrika karena uji kliniknya dilakukan di sana. “Begitu ditaruh di Indonesia, beda.”

“Justru dengan menjadi site clinical trial, kecocokan atau modifikasi terapi bisa disesuaikan dengan masyarakat kita. Selain masyarakat juga mendapatkan akses lebih dulu,” ujarnya.

Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi tempat uji coba, tetapi juga dapat memodifikasi terapi agar sesuai dengan karakteristik genetik dan lingkungan masyarakat setempat. Selain itu, potensi produksi obat sendiri akan mengurangi ketergantungan pada impor, memberi keuntungan ekonomi dan kesehatan bagi bangsa.

tuberkulosisobat TB satu bulanuji klinik fase tigaFDAIndonesia uji klinikBiofarmakompliancegenetik

Komentar

Memuat komentar...