Kemenkes Waspada Hantavirus dari Kapal Pesiar MV Hondius

Dwi H. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 92 dibaca
Bisik.id
Kemenkes Waspada Hantavirus dari Kapal Pesiar MV Hondius

Gambar atau konten salah?

Surabaya, 11 Mei 2023 – Hantavirus, virus yang biasanya menyebar lewat tikus, kini menjadi topik hangat. Kasus ini muncul setelah penumpang kapal pesiar MV Hondius terdiagnosis terinfeksi. Di Indonesia, tiga tahun terakhir tercatat 23 kasus hantavirus. Varian yang ditemukan di Indonesia adalah Seoul Virus, sedangkan di kapal pesiar terdeteksi Andes Virus.

Menanggapi situasi ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada. Pencegahan dapat dimulai dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus atau kotorannya.

Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa hantavirus berhubungan erat dengan hewan pengerat. Ia menegaskan bahwa risiko penularan lebih tinggi bagi orang yang sering berada di area berpotensi terdapat tikus.

“Kelompok yang perlu waspada antara lain petugas kebersihan, petani, pekerja kontruksi, pengendali hama, pekerja selokan, hingga petugas laboratorium,” kata Andi. Ia menambahkan, “Pekerjaan yang berkaitan dengan kontak tikus, petugas sampah, kemudian petani, dan lain sebagainya, juga dengan daerah yang tergenang banjir, juga aktivitas di area berisiko, ruang bawah tanah yang ada tikus, gedung lama, dan lain sebagainya.”

Dalam konferensi pers daring yang diadakan pada Senin (11 Mei 2023), Andi mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan saat berkemah, karena tempat tersebut sering menjadi habitat tikus.

“Dan juga tentunya bahwa di daerah‑daerah kita harus waspada bahwa ketika kita berada di luar ruangan, berkemah contohnya, dan itu biasanya juga ada tikus di daerah situ,” terangnya.

Selain memantau kasus di dalam negeri, Kemenkes menindaklanjuti notifikasi internasional terkait satu kontak erat kasus HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) dari kapal pesiar MV Hondius yang berada di Indonesia. Kontak erat tersebut diperiksa di RSPI Sulianti Saroso, dan hasil laboratorium menunjukkan negatif Hantavirus tipe HPS maupun HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome).

“Begitu notifikasi diterima, kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, koordinasi lintas sektor, pemeriksaan laboratorium, hingga pemantauan terhadap kontak erat tersebut,” ujarnya.

Untuk mencegah penyebaran, Kemenkes memperkuat pengawasan di pintu masuk negara. Langkah-langkahnya meliputi penggunaan thermal scanner, pengamatan visual, dan sistem surveilans bagi pelaku perjalanan. Pemerintah juga menyiapkan jejaring laboratorium yang mampu melakukan pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS). Selain itu, kesiapan 198 rumah sakit jejaring pengampuan infeksi emerging di seluruh Indonesia ditingkatkan.

“Kami terus memperkuat kesiapsiagaan nasional mulai dari surveilans, laboratorium, hingga layanan kesehatan agar setiap potensi kasus dapat ditangani secara cepat dan tepat,” tegasnya.

Dalam konferensi pers tersebut, Kemenkes juga mengimbau cara mencegah terpapar hantavirus. Berikut langkah-langkah yang disarankan:

  • Cuci Tangan Menggunakan Sabun – Masyarakat dianjurkan mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, terutama setelah batuk, bersin, dan setelah beraktivitas di luar rumah.
  • Hindari Kontak Langsung dengan Tikus – Hindari kontak langsung dengan tikus atau celurut, termasuk kotoran, urine, dan sereksinya. Jika perlu membersihkan area terkontaminasi, gunakan alat pelindung diri.
  • Jaga Kebersihan Tempat Tinggal dan Tempat Kerja – Kebersihan rumah dan lingkungan kerja perlu dijaga secara rutin. Apabila ditemukan jejak tikus atau celurut, pembersihan disarankan menggunakan metode wet cleaning agar debu tidak menyebar.
  • Simpan Makanan dan Minuman dengan Aman – Makanan dan minuman sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup, misalnya menggunakan tudung saji untuk mencegah kontaminasi tikus.
  • Tutup lubang di dalam dan luar rumah – Tutup celah atau lubang yang berpotensi menjadi akses masuk tikus agar tidak bersarang di dalam rumah atau area tempat tinggal.
  • Hindari Sumber Infeksi – Saat beraktivitas di alam terbuka seperti berkemah, mendaki, atau wisata luar ruang, masyarakat diminta menghindari area yang berpotensi terkontaminasi, termasuk lokasi dengan jejak tikus.
  • Segera Periksa ke Fasilitas Kesehatan – Segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala yang mengarah pada hantavirus, seperti demam, nyeri tubuh, lemas, batuk, atau sesak napas setelah berada di area berisiko.
  • Patuhi Imbauan Kesehatan – Masyarakat diimbau untuk mengikuti aturan dan imbauan kesehatan di negara tujuan, terutama jika wilayah tersebut melaporkan kasus hantavirus.

Andi juga menekankan pentingnya penanganan bangkai tikus yang benar, terutama di area pertanian atau wilayah dengan populasi tikus tinggi. Ia berkata, “Banyak tikus yang terbunuh, yang mati, itu sebaiknya dilakukan juga prosedur yang baik. Tidak dibuang di tengah jalan, atau di sungai, atau dibiarkan begitu, ada baiknya tikus tersebut juga dimasukkan ke kubur, kemudian ditutup dengan rapat, itu pasti akan sangat aman.”

Keseluruhan pesan Kemenkes menekankan bahwa hantavirus bukanlah ancaman yang tidak dapat diatasi. Dengan langkah pencegahan sederhana, pengawasan yang ketat, dan kesiapsiagaan medis, potensi penyebaran dapat dikurangi. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan mengikuti saran kesehatan yang diberikan, terutama di daerah yang memiliki risiko tinggi terhadap tikus.

HantavirustikusMV HondiusKemenkessurveilansPCRWhole Genome Sequencingthermal scanner

Komentar

Memuat komentar...