Kemenkeu Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 5,5% Q1 2026 Tahun
Gambar atau konten salah?
Kementerian Keuangan menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026 diprediksi mencapai 5,5% meski dunia menghadapi ketegangan geopolitik. Pernyataan ini datang dari Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Febrio Kacaribu, yang memaparkan rencana pemerintah untuk mencapai target tersebut.
Febrio menjelaskan bahwa kontribusi utama bagi pertumbuhan ekonomi berasal dari konsumsi, investasi, ekspor, dan belanja pemerintah. Ia menegaskan bahwa konsumsi menyumbang sekitar 50%, investasi 30%, ekspor 25%, dan belanja pemerintah 8‑9%.
“Tahun‑tahun sebelumnya itu tumbuhnya cuma di bawah 2%. (sektor) pertanian ini share‑nya itu sekitar 13% dari ekonomi kita. Jumlah tenaga kerja yang kerja di sektor pertanian itu sekitar 40 juta. Nah, jadi sektor yang sangat penting selama ini tumbuhnya lambat. Tahun 2025 kemarin pertumbuhan sektor pertanian itu di atas 5%,” ujar Febrio di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta Pusat, pada 9 April 2026.
Ia menambahkan bahwa peningkatan sektor pertanian tidak lepas dari kebijakan pemerintah. Program distribusi pupuk yang disederhanakan dan Makan Bergizi Gratis (MBG) dianggap memicu permintaan produk pertanian serta menghidupkan ekosistem desa. Program MBG, menurut Febrio, meningkatkan konsumsi produk pertanian lokal.
“Yang juga menarik adalah sektor manufaktur. Tahun lalu itu tumbuhnya 5,4 sekian persen. Itu juga tinggi. Biasanya kita di bawah 5%. Nah, ini artinya perekonomian kita memang sangat dinamis, dan kita terus akan melanjutkan ini untuk tahun 2026,” tambahnya.
Febrio menyoroti bahwa pertumbuhan manufaktur di atas 5% menunjukkan dinamika ekonomi yang kuat. Ia menegaskan bahwa sektor ini akan terus didukung melalui kebijakan yang memfasilitasi investasi dan peningkatan produktivitas.
“Pertumbuhan ekonomi Q1, Q2 dan seterusnya ini akan banyak ditentukan oleh belanja negara yang dieksekusi dengan sangat cepat. Contoh, tahun lalu itu kita belanja negaranya itu hanya sekitar Rp 600‑an triliun. Q1 tahun ini kita sudah 815 triliun. Ini pertumbuhan 30 persen. Nah ini pasti langsung akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi untuk Q1,” ujar Febrio.
Ia menjelaskan bahwa realisasi belanja negara pada kuartal pertama tahun 2025 mencapai Rp 600 triliun, sementara pada kuartal pertama tahun 2026 tumbuh 30% menjadi Rp 815 triliun. Peningkatan belanja negara ini dianggap menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi.
“Tantangannya ada jelas. Tiba‑tiba langsung kita harus dihadapkan pada harga crude yang tinggi. Nah, tetapi defisitnya kita jaga, belanja kita jaga, daya beli masyarakat kita jaga. Supaya pertumbuhan ekonomi akan tetap berlanjut,” ujar Febrio.
Meski optimis, Febrio menegaskan bahwa pemerintah sudah menyiapkan bantalan untuk mengurangi dampak kenaikan harga minyak mentah. Upaya tersebut bertujuan menjaga daya beli masyarakat dan memastikan pertumbuhan ekonomi tetap stabil.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IHSG menutup di zona negatif, turun 4,11%; global merosot
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
PPh Final 0,5% Permanen, PT Non‑Perorangan Dikeluarkan
KAI Butuh Rp1,2 Triliun & 8.000 Petugas Perlintasan Sebidang
Dolar AS Beruat Rp 18.000, Rupiah Terdampak Kuat Pada Hari
Pedagang Valas Kaki Lima di Jalan Kwitang Terima Dolar Rusak
Berita Terbaru
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
Mourinho Setuju Kembali ke Real Madrid jika Perez Terpilih
IHSG menutup di zona negatif, turun 4,11%; global merosot
Sumsel Hormati Keputusan Presiden Makan Bergizi Gratis
Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir TJU
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
