Kenaikan Harga Kondom di China, 60 Juta View di Weibo
Gambar atau konten salah?
Di China, peringatan tentang kenaikan harga kondom menjadi topik hangat. Meski diprediksi akan melonjak, banyak warga tetap mengaku akan membeli alat kontrasepsi tersebut untuk mencegah kehamilan dan menghindari biaya besar membesarkan anak.
Topik ini menyebar viral di media sosial China, khususnya di platform Weibo, dengan tagar yang berkaitan dengan kenaikan harga kondom. Video dan postingan tersebut telah ditonton lebih dari 60 juta kali pada 23 April 2026. Percakapan di sana menimbulkan berbagai respons, mulai dari keluhan hingga ajakan menimbun stok.
Diskusi ini dipicu oleh pernyataan bos produsen kondom terbesar dunia, Karex, yaitu Goh Miah Kiat. Ia mengatakan perusahaan asal Malaysia itu berencana menaikkan harga 20 hingga 30 persen, bahkan bisa lebih tinggi jika gangguan rantai pasok akibat konflik Iran terus berlanjut.
Di tengah potensi kenaikan harga, banyak netizen China menilai membeli kondom tetap jauh lebih murah dibanding biaya memiliki anak. Seorang pengguna Weibo menulis: “Beberapa puluh yuan untuk sebuah kondom seratus kali lebih hemat biaya daripada membesarkan anak dengan biaya 1 juta yuan (sekitar 2,5 miliar rupiah),” sebagaimana dikutip. Komentar lain menyarankan masyarakat segera membeli stok lebih banyak.
Seorang pengguna lain menambahkan: “Mulai sekarang, kita tidak hanya harus berhemat, tetapi kita juga harus menimbun kondom terlebih dahulu,” menegaskan pentingnya persiapan.
Fenomena ini muncul di saat pemerintah China sedang berupaya meningkatkan angka kelahiran yang terus menurun selama beberapa dekade. Negara itu menghadapi tantangan populasi menua dan jumlah kelahiran yang terus turun. Pada 2025, angka kelahiran di China bahkan tercatat mencapai rekor terendah.
Namun, di sisi lain, naiknya biaya hidup, tekanan ekonomi, hingga mahalnya membesarkan anak membuat banyak pasangan memilih menunda atau tidak memiliki anak. Biaya kontrasepsi ikut naik, menambah beban perencanaan keluarga di China.
Sejak awal 2026, pemerintah China menghapus pengecualian pajak yang telah berlaku selama tiga dekade untuk obat dan alat kontrasepsi. Akibat kebijakan itu, kondom dan pil KB kini dikenakan pajak pertambahan nilai sebesar 13 persen, sama seperti barang konsumsi lainnya.
Situasi ini membuat kontrasepsi menjadi lebih mahal di tengah keengganan sebagian warga untuk punya anak karena alasan ekonomi. Banyak netizen yang mengekspresikan kekhawatiran bahwa kenaikan harga ini dapat memperburuk ketidaksetaraan dalam akses alat kontrasepsi.
Secara keseluruhan, pergeseran kebijakan pajak dan rencana kenaikan harga oleh Karex menambah ketegangan di masyarakat. Masyarakat kini dihadapkan pada pilihan antara biaya hidup yang terus naik dan kebutuhan akan alat kontrasepsi yang menjadi lebih mahal. Hal ini menyoroti hubungan erat antara kebijakan fiskal, harga barang konsumen, dan dinamika demografi di China.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Bloom Putih Anggur: Lapisan Lilin Alami, Bukan Jamur
Rasa Terbakar Dada: Penyebab Utama dan Tanda Peringatan
Minum 3‑4 Cangkir Kopi Bisa Perlambat Penuaan 5 Tahun
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Berita Terbaru
Riquelme Tantang Perez: Janji Haaland & Beban Anggota
UEA Berhenti Ujian Internasional, Pindah Online Kini
Damri: Rute Bus Palembang–Lampung, Harga Rp 200–228 Ribu
Raffi Ahmad Operasi Benjolan Bahu Setelah Haji, Tertutup
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Indonesia Open 2026: 16 Besar di Istora Senayan, Menang
Prabowo Buka Penerbangan Bandara Bandung & Yogyakarta
