Kenaikan Harga Minyak Tinggi, Pertumbuhan Ekonomi Risiko 4,9%</
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tidak akan melampaui 5% jika harga minyak dunia tetap tinggi dalam jangka panjang. Saat ini, harga minyak telah melebihi asumsi dalam APBN 2026, yakni di kisaran US$ 70 per barel, sementara pasar saat ini berada di US$ 90-100 per barel.
Halim Alamsyah, yang pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia dan anggota Board of Experts Prasasti, menilai bahwa dengan harga minyak tinggi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan berada di level 4,7% hingga 4,9%.
“Dalam skenario harga minyak tinggi yang berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berpotensi melambat. Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat turun ke kisaran 4,7-4,9 persen, di bawah rata-rata pertumbuhan sekitar 5 persen dalam beberapa tahun terakhir,” jelas Halim dalam keterangan tertulis, dikutip 03 April 2026.
Halim juga menyoroti dampak fiskal. Dalam skenario harga minyak sekitar US$ 100 per barel dan Rupiah di kisaran Rp 17.000 per dolar, defisit fiskal Indonesia diperkirakan akan melampaui batas 3%.
“Kami memperkirakan defisit fiskal berpotensi melebar ke kisaran 3,3-3,5% dari PDB, melampaui batas defisit 3% yang selama ini dijaga pemerintah,” ujarnya.
Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, mengingatkan pemerintah untuk mengelola kebijakan makro secara lebih hati‑hati. Ia menilai upaya tidak menaikkan harga BBM merupakan cara menjaga daya beli masyarakat.
“Apabila kenaikan harga minyak berlangsung hingga akhir tahun, akan semakin sulit menahan harga BBM tidak naik. Oleh karena itu masyarakat dan pelaku bisnis perlu memahami bahwa penyesuaian harga energi dalam kondisi tertentu merupakan bagian dari respons kebijakan yang wajar, selama diikuti dengan kompensasi yang tepat sasaran,” ujarnya.
Piter juga menekankan perlunya koordinasi kebijakan antarotoritas ekonomi. Dalam situasi ketidakpastian global yang meningkat, koordinasi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi krusial.
“Dalam kondisi seperti ini, koordinasi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi krusial. Dunia usaha dan pelaku pasar tentu menunggu sinyal kebijakan dari otoritas seperti Bank Indonesia, OJK, serta Kementerian Keuangan mengenai arah stabilitas sistem keuangan ke depan,” tambahnya.
Berbasis data pengalaman sebelumnya, penyesuaian harga BBM dapat memberikan dampak signifikan terhadap inflasi. Analisis Prasasti menunjukkan bahwa penyesuaian harga BBM berpotensi menambah sekitar 0,7 hingga 1,8 poin persentase terhadap inflasi, tergantung pada besaran dan waktu penyesuaian.
Secara keseluruhan, kenaikan harga minyak dunia berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi, memperlebar defisit fiskal, dan meningkatkan inflasi. Pemerintah harus menyeimbangkan kebijakan BBM, nilai tukar, dan fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Tegaskan MBG: Tetap Utuh, Tanpa Korupsi, Porsi Aman
Kenaikan Harga Minyakita Tertinggi Disepakati, Waktu Belum
PHK Januari–Mei 2026 Turun ke 23.470, Proyeksi CORE Naik
MBG Teriak Korupsi: BGN Diputar, Prabowo Tetap Optimis
Sekolah Jember Siapkan Lapangan Sepak Bola Internasional
BKN Tegaskan Poster CPNS 2026 Hoaks, Cek Sumber Resmi
Berita Terbaru
Gempa 4,8 M di Manokwari, Papua Barat, Dirasakan MMI II‑III
Prabowo Tegaskan MBG: Tetap Utuh, Tanpa Korupsi, Porsi Aman
Kenaikan Harga Minyakita Tertinggi Disepakati, Waktu Belum
DPRD Bogor Ubah Peraturan Daerah ke Braille Hari Jadi ke-544
Kasus Katup Jantung Naik di Indonesia, Deteksi Awal Penting
Egy Maulana Vikri: Siap Tampil Maksimal di Skuad AFF 2026
