Keracunan Murid Anambas, Boraks dan Bakteri Terdeteksi

Sigit W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 91 dibaca
Bisik.id
Keracunan Murid Anambas, Boraks dan Bakteri Terdeteksi

Gambar atau konten salah?

Seratusan siswa di Air Asuk, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Pemeriksaan awal oleh Dinas Kesehatan setempat menunjukkan adanya kandungan boraks pada menu telur kecap, tempe goreng, dan tumis sayuran. Hasil lanjutan di Balai Pengawasan Obat dan Makanan menegaskan bahwa kontaminasi ini tidak hanya melibatkan bahan kimia, tetapi juga bakteri berbahaya.

Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap hasil dua tahap pemeriksaan. Pada tahap pertama, uji cepat menunjukkan adanya boraks dengan kadar berkisar 100 hingga 5.000 mg/L. Pada tahap kedua, uji laboratorium menemukan Escherichia coli dan Bacillus cereus.

“Hasil rapid test menunjukkan adanya kandungan boraks pada menu telur kecap, tempe goreng, dan tumis sayuran, dengan kadar berkisar 100 hingga 5.000 mg/L,” kata Arie Karimah Muhammad, Ketua Tim Investigasi BGN, Minggu (03 May 2026). Ia menegaskan bahwa penggunaan boraks pada makanan tersebut tidak boleh dilakukan, karena bahan makanan seperti telur, tempe, dan sayur tidak memerlukan pengawet kimia. “Ini jadi perhatian serius karena penggunaannya tidak sesuai dan berisiko bagi kesehatan,” ujarnya.

Selain boraks, bakteri Escherichia coli dan Bacillus cereus juga terdeteksi. Hal ini menambah kekhawatiran karena kedua bakteri tersebut dapat menyebabkan keracunan serius.

Seratusan murid tingkat PAUD hingga SMP di Kabupaten Kepulauan Anambas juga mengalami keracunan. Tidak hanya siswa, orang tua murid turut terkena dampak karena ikut mengonsumsi menu MBG. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Anambas, Feri Oktavia, mengatakan peristiwa ini terjadi pada Rabu (16 April 2026).

Feri menjelaskan bahwa para siswa yang terdampak berasal dari berbagai sekolah dan jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD hingga SMP. Sumber makanan MBG yang dikonsumsi berasal dari satu SPPG, namun tidak dari satu sekolah saja. “Bukan dari satu sekolah saja, tapi dari beberapa sekolah berbeda. Makanannya dari satu SPPG,” jelasnya.

Beberapa orang tua murid juga melaporkan gejala keracunan karena mereka turut mengonsumsi makanan jatah anak atau cucunya. “Ada juga orang tua yang ikut keracunan karena makan jatah anak atau cucunya yang dibawa pulang,” ujarnya.

Feri menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan awal menggunakan sanitari kit, namun sampel makanan akan dikirim ke laboratorium untuk diuji secara lebih mendalam. “Sampel akan dikirim ke Batam untuk diperiksa di BPOM atau Labkesmas guna memastikan penyebab pastinya,” ujarnya.

Peristiwa ini menyoroti pentingnya pengawasan mutu makanan di lingkungan sekolah. Penggunaan bahan kimia yang tidak sesuai dan kontaminasi bakteri dapat menimbulkan risiko kesehatan serius bagi anak-anak dan orang tua. Penanganan yang cepat dan transparan menjadi kunci untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Keracunan boraksMakanan Bergizi GratisAnambasEscherichia coliBacillus cereusPengawasan mutu makanan

Komentar

Memuat komentar...