Kerupuk Jibachi Senbei, Camilan Jepang Berbahan Tawon Kering
Gambar atau konten salah?
Jibachi Senbei adalah camilan tradisional Jepang yang terbuat dari kerupuk yang diberi tambahan tawon digger kering. Produk ini mulai dikenal pada pertengahan 2010‑an. Menurut Oddity Central (14 Mei 2023), Jibachi Senbei lahir dari kerja sama antara komunitas Omachi Jibachi Aikokai dan seorang pembuat roti lokal. Kolaborasi ini menghasilkan resep baru yang menggabungkan bahan unik ini.
Proses pembuatan dimulai ketika anggota komunitas menangkap tawon menggunakan perangkap di area hutan. Setelah ditangkap, tawon tersebut direbus hingga matang, kemudian dikeringkan. Setelah kering, tawon digger diaduk ke dalam adonan kerupuk. Adonan ini kemudian dipanggang hingga matang, menghasilkan kerupuk yang renyah.
Kerupuk yang dihasilkan memiliki rasa dasar ringan dengan sedikit manis. Tawon kering yang tercampur menambahkan rasa tambahan yang digambarkan sebagian orang mirip rasa kering dan sedikit gosong. Tekstur kerupuk tetap renyah, sementara potongan tawon memberikan sensasi crunch yang berbeda.
Serangga yang digunakan dalam Jibachi Senbei adalah spesies Vespula flaviceps atau kurosuzume bachi. Jenis ini aman untuk dikonsumsi dan sudah lama digunakan dalam beberapa makanan berbahan dasar serangga di Jepang. Keamanan konsumsi ini didukung oleh regulasi makanan Jepang yang ketat.
Dari sisi aroma, camilan ini memiliki bau yang cukup khas ketika kemasan dibuka. Beberapa orang membandingkannya dengan aroma makanan hewan kering. Meskipun aroma kuat, banyak konsumen menyukai keunikan tersebut.
Jibachi Senbei diproduksi dan dijual di beberapa pasar lokal serta toko makanan khusus di kota Omachi. Selain warga lokal, camilan ini juga menarik perhatian wisatawan yang penasaran dengan makanan berbahan serangga. Penjualan di toko-toko khusus menambah eksposur produk ini.
Produk ini menjadi salah satu contoh camilan tradisional Jepang yang menggunakan bahan unik dan masih dikonsumsi pada beberapa daerah tertentu di Jepang. Jibachi Senbei menunjukkan keberlanjutan tradisi kuliner yang menggabungkan bahan tidak biasa.
Keberadaan camilan ini menegaskan bahwa makanan berbahan serangga masih memiliki pasar tersendiri di Jepang, terutama di daerah yang menghargai tradisi kuliner lokal.
Dita Aliccia Armadani/adr
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
