Ketupat Tergantung di Pintu Rumah Jawa Setelah Lebaran
Gambar atau konten salah?
Di beberapa sudut Jawa, masih ada kebiasaan unik yang menempel di pintu rumah: ketupat digantung, tidak untuk dimakan, melainkan sebagai lambang perayaan.
Tradisi ini muncul setelah Idul Fitri, tepatnya pada 8 Syawal. Pada hari itu, masyarakat menyiapkan ketupat dari anyaman janur berisi beras. Sebagian di antaranya diikat di atas atau di samping pintu rumah. Ketupat yang tergantung ini bukanlah makanan, melainkan bagian dari ritual yang berlanjut setelah Hari Raya.
Perlu diketahui, tidak ada dasar ajaran Islam khusus yang mengharuskan penggantung ketupat. Ini lebih merupakan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat, dengan makna yang berbeda di tiap daerah.
Berapa lama ketupat biasanya dibiarkan tergantung? Beberapa rumah menahannya sampai berbulan-bulan, bahkan sampai Lebaran Ketupat berikutnya. Ketupat dan lepet tidak boleh disentuh atau dipindahkan, karena dianggap suci.
Sejarah tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke‑15, ketika Wali Songo dan Kesultanan Demak berkuasa. Menurut jurnal “Makna Simbolik dan Kultural Tradisi Lebaran Ketupat Bagi Masyarakat Jawa” karya Sriyana dan Wiwik Suprapti, Sunan Kalijaga—juga dikenal sebagai Raden Mas Sahid—memperkenalkan istilah bakda, yang berarti “setelah”. Dari sini lahirlah istilah Bakda Lebaran (setelah Idul Fitri) dan Bakda Kupat (setelah kupatan).
Dalam perkembangan budaya, ketupat menjadi simbol yang memadukan nilai lokal dengan nilai Islam. Tradisi ini disebut akulturasi, karena Sunan Kalijaga mengadaptasi kebiasaan kenduri yang sudah dikenal masyarakat sebelum masuk Islam.
Namun, sebelum masuk Islam, ketupat sudah dikenal dalam tradisi lama. Ketupat digunakan sebagai simbol rasa syukur kepada Dewi Sri, serta bagian dari sesajen pada masa Hindu‑Buddha.
Makna ketupat yang digantung di pintu memiliki banyak nuansa. Salah satunya adalah sebagai penolak bala atau perlindungan dari hal‑hal buruk. Masyarakat turun‑turun meyakini bahwa tradisi ini sudah ada sejak zaman Hindu dan Buddha, di mana ketupat dipakai sebagai sesajen untuk membantu arwah manusia yang meninggal, khususnya anak kecil, agar tenang. Ada juga ungkapan khas dalam bahasa Jawa: “nek wes dadi, ojo lali dicentelno neng pawon karo neng lawang ngarep omah” (jika ketupat sudah matang, jangan lupa digantung di dapur dan pintu depan rumah) dan “nek wes mateng, dicentelno neng lawang ngarep kanggo tolak bala” (jika sudah matang, gantunglah di pintu depan untuk menolak bala).
Tradisi ini masih hidup di beberapa daerah, salah satunya di Desa Pengkolrejo, Kabupaten Blora. Menurut jurnal “Menanamkan Nilai Kearifan Lokal Melalui Tradisi Kupatan dalam Pembelajaran IPS” karya Erna Novia Dwi Safitri, masyarakat setempat menyebut perayaan ini sebagai Bodo Kecil atau Lebaran anak‑anak.
Di sana, ketupat yang digantung diyakini menjadi simbol penyambutan bagi anak‑anak yang telah meninggal. Meskipun tidak memiliki dasar agama, tradisi ini tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Nusantara. Lebih dari sekadar hiasan, ketupat yang tergantung di pintu menyimpan makna tentang syukur, perlindungan, dan kearifan lokal yang terus dijaga.
Secara keseluruhan, kebiasaan menggantung ketupat di pintu menggabungkan sejarah, kepercayaan, dan nilai sosial. Tradisi ini menegaskan bahwa budaya lokal dapat bertahan dan berkembang, bahkan ketika tidak terikat pada ajaran agama tertentu. Ia tetap menjadi simbol penghormatan kepada yang telah pergi, sekaligus mengekspresikan rasa syukur atas kehidupan yang masih berjalan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
