Keturunan Disabilitas Carangsari Bikin Kotak Tisu dari Koran

Agus P. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
Keturunan Disabilitas Carangsari Bikin Kotak Tisu dari Koran

Gambar atau konten salah?

Di teras rumah sederhana di Banjar Beng, Desa Carangsari, Badung, Ketut Tirtayasa duduk bersila, menenun gulungan kertas koran menjadi kerangka kotak tisu. Puluhan kerangka kotak tisu yang baru saja dilapisi lem berjajar rapi di halaman rumah, tepat di samping kursi roda yang selalu menemaninya beraktivitas sehari-hari. Pria berusia 40 tahun ini merupakan anak keempat dari lima bersaudara yang memiliki keterbatasan fisik sebagai penyandang disabilitas. Meski ruang geraknya terbatas, ia tetap semangat menjalani keseharian sebagai perajin daur ulang yang mengandalkan kemahiran jemarinya untuk menyambung hidup.

“Saya buat kotak tisu pakai koran ini mulai 2017 setelah sebelumnya jadi tukang sol sandal dan sepatu agar tetangga di desa tidak jauh mencari jasa perbaikan,” tutur Tirtayasa menceritakan awal mula usahanya, Minggu, 26 April 2026. Siang itu, jemarinya nampak gesit menyelesaikan tumpukan kerangka kertas karena ia tengah mengejar target pesanan untuk kantor‑kantor di Puspem Badung. Tak tanggung‑tanggung, sebanyak 200 lebih kotak tisu harus ia rampungkan sendiri untuk memenuhi permintaan dari istri orang nomor dua di Kabupaten Badung.

“Ya syukur kemarin dipesan Ibu Wakil Bupati Badung, beliau memesan 200 biji kotak tisu sekaligus. Sebelum itu ya, rata‑rata orderan memang banyak, ada yang 50 atau 100 biji, tapi karena saya kerja sendiri biasanya butuh waktu 2 sampai 3 bulan baru bisa selesai semuanya,” kata Tirtayasa. Kegiatan mengolah limbah ini bermula dari keisengannya membuat prakarya yang ternyata menarik perhatian warga sekitar. Sejak mulai serius ditekuni pada akhir 2017, ia rajin mengikuti berbagai pelatihan untuk memperluas jaringan dan meningkatkan kualitas produk kerajinannya.

“Awalnya iseng bikin kerajinan, ternyata banyak yang tahu sampai akhirnya tetangga minta tolong dibuatkan tugas sekolah anak‑anak mereka. Saya buatkan kotak tisu sama bokor yang biasanya dipakai orang Bali untuk sarana sembahyang dengan alat seadanya tapi hasilnya lumayan bagus. Dari sana saya mulai ikut pameran‑pameran untuk menambah jaringan sekaligus belajar agar produk saya makin dikenal orang,” tuturnya. Untuk menjaga kelancaran produksi, ia mengandalkan pasokan kertas bekas yang dikumpulkan dari kantor‑kantor pemerintah hingga masyarakat yang masih berlangganan koran cetak. Namun, Tirtayasa mengaku tantangan terberat saat ini adalah ketersediaan bahan baku yang mulai menipis karena pergeseran tren informasi ke media digital.

“Belakangan ini untuk mencari bahan kertas koran itu memang lumayan sulit karena orang jarang beli koran fisik lagi. Beruntung masih ada beberapa kantor pemerintah dan warga yang mau mengumpulkan korannya untuk saya ambil sebagai bahan baku utama,” ungkapnya mengenai kendala bahan baku. Proses kreatifnya dimulai dari memotong koran dengan cetakan hitam putih secara memanjang untuk digulung menggunakan bantuan kawat dan cetok kayu khusus hingga membentuk lidi kertas. Gulungan‑gulungan tersebut kemudian disusun mengikuti mal atau cetakan kayu agar ukurannya konsisten sebelum akhirnya diperkuat dengan lapisan lem cair.

“Biar produk saya hasilnya tidak sembarangan, saya mulai buat pakem dan cetakan sendiri dari kayu termasuk alat gulungnya. Untuk satu kotak tisu itu perlu beberapa hari kerja karena saya sengaja kerja sendiri supaya hasilnya rapi dan tekniknya tetap sama,” ucapnya menjelaskan alasan tidak melibatkan orang lain dalam proses produksi. Tirtayasa sangat detail dalam estetika, bahkan ia khusus mengumpulkan pola warna dari kertas koran untuk dijadikan hiasan berbentuk bunga, daun, dan tangkai. Setelah kerangka dasar kering dan dihias, ia memberikan lapisan pernis agar warna kertas tidak luntur dan tampak mengkilap layaknya rotan atau kayu.

“Misalnya bikin bunga merah atau daun hijau, saya cari pola itu dari kertas koran yang berwarna agar hasil warnanya alami dan tidak sembarangan. Selain kotak tisu, saya juga buat bokor dan keben untuk sarana sembahyang ibu‑ibu PKK atau pesanan pribadi dan kantor,” ujar pria yang mengaku karyanya pernah dibeli Sandiaga Uno saat jadi Menparekraf. Ketekunan Tirtayasa membuahkan hasil dengan masuknya pesanan dari berbagai instansi pemerintah, vila, hingga koleksi pribadi pejabat daerah di Bali. Meski produksinya terbatas karena dikerjakan secara manual tanpa mesin, kualitas kerajinan tangan dari Carangsari ini telah diakui lewat berbagai pameran UMKM.

Harganya bervariasi, kotak tisu mulai Rp 150 ribu sampai Rp 170 ribu, sedangkan bokor kecil bisa Rp 300 ribu per biji karena prosesnya yang memang lumayan rumit. Saya terkadang merasa tidak enak kalau ada pesanan banyak sampai 100 biji karena butuh waktu dua hingga tiga bulan baru bisa selesai,” pungkasnya sambil tersenyum mengenang persiapan suvenir G20 beberapa waktu lalu.

Konsistensi Tirtayasa dalam menggeluti dunia daur ulang ini juga didorong oleh niat mulia untuk memberikan edukasi lingkungan kepada masyarakat luas. Ia berharap karyanya bisa menjadi bukti nyata bahwa tumpukan kertas koran yang kerap dianggap sampah bisa bertransformasi menjadi barang bernilai estetika tinggi sekaligus fungsional. Dengan setiap kotak tisu yang ia buat, ia menegaskan bahwa kertas koran bukan sekadar limbah, melainkan sumber kreativitas yang menunggu untuk diolah.

dau ulangkotak tisukertas korandisabilitasPuspem BadungSandiaga UnoUMKM

Komentar

Memuat komentar...