KFC Ganti Nama di Quebec Menjadi PFK, Perubahan Bahasa

Bambang W. · 2 min baca · 27 hari lalu · 55 dibaca
Bisik.id
KFC Ganti Nama di Quebec Menjadi PFK, Perubahan Bahasa

Gambar atau konten salah?

KFC atau Kentucky Fried Chicken adalah jaringan restoran cepat saji asal Amerika Serikat yang terkenal karena ayam gorengnya. Ia didirikan oleh Harland Sanders pada tahun 1952 di Kentucky dan berkembang menjadi salah satu jaringan waralaba terbesar di dunia. Saat ini, KFC memiliki lebih dari 150 cabang di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Di banyak negara, semua gerai KFC menggunakan nama yang sama. Namun di provinsi Quebec, Kanada, nama gerai tersebut tidak sama. Di Ottawa, gerai tetap memakai sebutan KFC, sedangkan di Quebec, nama yang dipakai adalah PFK, singkatan dari Poulet Frit Kentucky. PFK merupakan terjemahan bahasa Prancis dari KFC.

Penggunaan bahasa Prancis di Quebec berakar pada sejarah kolonial. Quebec pernah menjadi bagian dari New France sejak abad ke-17, yang didirikan oleh penjelajah seperti Samuel de Champlain. Penduduknya mempertahankan bahasa dan budaya Prancis, yang kini dilindungi secara hukum sebagai satu-satunya bahasa resmi provinsi tersebut.

Perubahan besar terjadi pada tahun 1977 ketika Piagam Bahasa Prancis atau Bill 101 diadopsi. Piagam ini menetapkan bahasa Prancis sebagai bahasa resmi Quebec dan mengharuskan semua nama bisnis, tanda publik, serta iklan menggunakan bahasa Prancis. Tujuannya adalah melindungi dan mempromosikan bahasa tersebut di wilayah tersebut.

Sejak diberlakukannya Bill 101, banyak perusahaan asing yang harus menyesuaikan nama mereka agar sesuai dengan peraturan. KFC menjadi salah satu pelopor yang mengadopsi perubahan ini lebih awal, sebelum batas waktu tahun 1980 yang ditetapkan oleh pemerintah provinsi. Dengan cepat menyesuaikan nama menjadi PFK, KFC menunjukkan penghormatan terhadap budaya Quebec dan menghindari potensi sanksi hukum.

Namun, perubahan nama tidak selalu mulus. Pada tahun 2012, lembaga kantor bahasa Prancis Quebec mengalami peningkatan pengaduan terkait nama bisnis non-Prancis. Lembaga tersebut mulai menegakkan kembali ketentuan Bill 101 dengan lebih ketat. Seorang juru bicara lembaga bahasa tersebut, Martin Bergeron, menyatakan hingga saat itu mereka mentolerir papan nama dengan merek dagang non-Prancis.

Pengawasan yang lebih ketat memicu protes dari beberapa merek internasional besar, termasuk Walmart, Costco, Best Buy, Gap, Old Navy, dan Guess. Mereka menolak untuk mengikuti aturan tersebut dan mengajukan gugatan terhadap pemerintah provinsi. Pada tahun 2014, seorang hakim Pengadilan Tinggi Quebec memutuskan bahwa bisnis dengan nama non-Prancis tetap dapat menggunakan nama merek aslinya tanpa melanggar piagam bahasa. Keputusan ini membuka peluang bagi PFK untuk kembali menjadi KFC di papan gerai.

Walaupun keputusan tersebut memungkinkan perubahan nama kembali, hingga kini papan gerai di Quebec masih menampilkan nama PFK. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan dan praktik di lapangan masih beragam, tergantung pada keputusan masing-masing perusahaan dan persepsi konsumen.

Keputusan KFC untuk mengadopsi bahasa Prancis sejak awal memberi keuntungan. Konsumen di Quebec merasa dihargai ketika perusahaan menggunakan bahasa mereka, yang meningkatkan loyalitas terhadap merek. Selain itu, lokalisasi nama membantu KFC menjadi pemimpin pasar restoran cepat saji di Quebec tanpa melanggar hukum.

Keseluruhan, perubahan nama KFC di Quebec mencerminkan bagaimana kebijakan bahasa dapat memengaruhi strategi bisnis global. Meskipun nama berubah, esensi produk tetap sama: ayam goreng yang disukai banyak orang. Adaptasi terhadap budaya lokal, baik melalui nama maupun layanan, menjadi kunci bagi perusahaan multinasional untuk tetap relevan di pasar yang beragam.

Kentucky Fried ChickenPFKBill 101Quebecbahasa Prancisadaptasi budayaloyalitas konsumen

Komentar

Memuat komentar...