Khitanan Air 1 Meter, Musik Dangdut Tetap Mengiringi

Ningsih R. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 59 dibaca
Bisik.id
Khitanan Air 1 Meter, Musik Dangdut Tetap Mengiringi

Gambar atau konten salah?

Di tengah hujan deras yang membuat tanah menjadi lembap, sebuah acara khitanan tetap berlangsung di Kampung Leuwi Bandung, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Meskipun jalan dan halaman rumah terendam air, suasana tetap riang dengan musik dangdut yang mengalun.

Air di area hajatan mencapai tinggi 10 hingga 30 sentimeter, sementara jalan utama yang harus dilalui tamu lebih parah, dengan genangan mencapai 60 sentimeter. Di sisi lain, di Kampung Cijagra, genangan sampai 1 meter, seolah menjadi ujian bagi siapa saja yang ingin datang.

Para tamu tidak gentar. Mereka menembus air, melangkah perlahan, menjaga keseimbangan di tengah arus yang tenang namun pasti menghambat. Di bawah tenda sederhana, musik tetap mengalun. Dangdut tak peduli pada banjir, ia tetap mengajak siapa pun untuk bergoyang.

“Alhamdulillah (hajatan) lancar, agak sedikit terhambat sih,” ujar Acep Mamat Rohimat (35), perwakilan keluarga, dengan nada tenang meski situasi tak sepenuhnya bersahabat.

“Iya, tetap lanjut saja. Kalau selutut juga tetap lanjut, alhamdulillah undangan pada datang,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa tidak ada pilihan untuk membatalkan. Undangan sudah tersebar, persiapan sudah matang, dan harapan sudah terlanjur dipasang tinggi.

“Nggak ada, nggak ada (ngebatalin undangan), tetap lanjut saja. Ya kan soalnya undangan sudah kesebar,” jelasnya. Ia menekankan bahwa semua tamu datang dari berbagai arah: selatan, timur, barat, semuanya membawa cerita yang sama, perjuangan menembus banjir demi sebuah silaturahmi.

“Iya tamu kebanjiran memang, datang dari sana, dari selatan, dari timur, dari barat, kebanjiran tamu teh,” ucapnya, menegaskan bahwa meski kondisi sulit, semangat kebersamaan tetap terjaga.

Untuk makan bersama, kursi dipindahkan ke rumah yang tidak terdampak banjir, menciptakan ruang aman di tengah genangan yang tak bisa dihindari. “Makan di rumah, kursi juga disediain. Area rumah nggak banjir semenjak ada polder itu. Makan juga di rumah berarti,” bebernya.

Bagi warga setempat, banjir bukan hal baru. Leuwi Bandung sudah lama dikenal sebagai wilayah langganan genangan. Namun kini, setidaknya ada sedikit perubahan. “Biasanya kan ini (Leuwi Bandung) dalam, kalau di orang dewasa lah segini (dada). Alhamdulillah semenjak ada polder di sana (sungai Cikapundung), jadi agak surut. Jadi kalau Ria Busana, Dayeuhkolot, kalau banjir selutut orang dewasa, di sini laput, istilahnya mah tenggelam lah kalau orang dewasa gitu,” pungkasnya.

Acara khitanan ini, yang telah direncanakan jauh hari, menjadi bukti bahwa kebersamaan dan kepercayaan dapat mengatasi rintangan fisik. Meskipun air menenggelamkan sebagian akses, para tamu tetap datang, menyesuaikan diri, dan merayakan momen penting bersama keluarga dan tetangga.

khitananbanjirdangdutLeuwi BandungDayeuhkolotpolderCikapundung

Komentar

Memuat komentar...