Kimberly Holland Hentikan Gula Tambahan 30 Hari, Hasilnya

Sinta R. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 69 dibaca
Bisik.id
Kimberly Holland Hentikan Gula Tambahan 30 Hari, Hasilnya

Gambar atau konten salah?

Gula seringkali menjadi bagian dari kebahagiaan, baik dalam kue, yogurt, atau saus. Namun, 74% makanan olahan mengandung gula tambahan, menurut penelitian di University of California San Francisco. Fakta ini membuat seorang kreator konten makanan, Kimberly Holland, memutuskan untuk menantang diri sendiri: berhenti mengonsumsi gula selama 30 hari.

Awalnya, Kimberly ragu. Ia sangat menyukai makanan manis. Tetapi setelah menyadari bahwa ia membeli camilan manis hampir setiap hari, ia memutuskan untuk istirahat dari gula. Ia menetapkan aturan ketat: tidak memakai gula tambahan, tidak menggunakan pemanis buatan, namun masih boleh mengonsumsi gula alami dari buah dan susu.

Menurut American Heart Association, konsumsi gula tambahan sebaiknya dibatasi maksimal 9 sendok teh per hari untuk pria dan 6 sendok teh untuk wanita. Rata‑rata konsumen seringkali dua hingga tiga kali lipat batas tersebut. Dengan demikian, tantangan Kimberly menjadi cara praktis untuk meninjau kebiasaan makan sehari‑hari.

Setelah 30 hari, hasilnya tidak selalu terukur dalam angka. Kimberly mengatakan, “Saya mungkin tidak mengurangi karbohidrat, tetapi saya juga tidak menambah berat badan. Dan itu adalah tujuan saya.” Ia tidak mengalami penurunan berat badan, namun beratnya juga tidak bertambah. Tanpa camilan manis harian, ia menyadari bahwa kebiasaan konsumsi gula selama ini cenderung berlebihan. Ia baru menyadari bahwa banyak makanan, seperti sup, saus, dan makanan siap saji, mengandung gula tersembunyi. “Saya segera menyadari banyak saya mengonsumsi gula secara sembarangan,” tambahnya.

Selama fase adaptasi, Kimberly merasakan energi lebih stabil sepanjang hari. Ia tidak lagi membutuhkan minuman manis atau soda di sore hari untuk menambah tenaga. Kondisi ini diyakini terjadi karena tubuh tidak lagi mengalami lonjakan gula darah yang drastis.

Setelah 30 hari, lidahnya menjadi lebih sensitif terhadap rasa manis. Bahkan, segelas anggur merah yang ia minum di hari ke-25 terasa lebih seperti permen kapas. “Kue cokelat chip terasa terlalu manis, saya bahkan tidak bisa menghabiskan bagian saya,” tuturnya.

Namun, tantangan ini tidak mulus. Pada fase awal, ia merasa mudah marah, tidak memiliki energi, dan sulit fokus. “Saya juga mudah marah, yang membuat pekerjaan menjadi sulit. Fase ini berlangsung sekitar 24 jam sebelum akhirnya membaik,” jelas Kimberly. Ia juga menemukan bahwa banyak produk mengandung gula dengan nama berbeda, seperti sirup atau sari tebu yang diuapkan, sehingga sulit menghindarinya.

Berhenti gula juga membuatnya sulit makan di luar. Ia harus ekstra hati‑hati dalam memilih makanan di restoran. Menurutnya, menu yang paling aman adalah salad, karena ia masih bisa mengontrol bahan dan sausnya. Bahkan, Kimberly terpaksa menolak makanan manis di acara yang dihadirinya. Ia memilih jujur kepada teman-temannya tentang tantangan yang sedang dijalani.

Kimberly tidak berniat berhenti total selamanya. Pengalaman ini membuatnya lebih bijak dalam mengonsumsi gula. Ia kini mencoba membatasi gula tambahan, lebih memilih sumber gula alami, dan mengatur konsumsi gula hanya di waktu tertentu. Ia menilai tantangan ini membuka mata tentang kebiasaan makan sehari‑hari. “Ini adalah cara yang membuka mata untuk memahami seberapa banyak gula yang sebenarnya Anda konsumsi,” pungkasnya.

Pengalaman Kimberly menunjukkan bahwa mengurangi gula tidak selalu berarti kehilangan berat badan, namun dapat meningkatkan kesadaran akan kandungan gula tersembunyi dalam makanan. Dengan menyesuaikan pola makan, seseorang dapat mengontrol energi dan rasa manis tanpa harus mengorbankan semua makanan favorit.

tantangan tanpa gulakonsumsi gula tambahankebiasaan makanenergi stabilpembatasan gulaAmerican Heart Associationpenyakit jantung

Komentar

Memuat komentar...