Kios Batu Cincin Medan: Penjualan Turun, Penjual Tetap

Lina F. · 2 min baca · 27 hari lalu · 59 dibaca
Bisik.id
Kios Batu Cincin Medan: Penjualan Turun, Penjual Tetap

Gambar atau konten salah?

Di Medan, sebuah kios batu cincin yang terletak di samping Pos Bloc masih beroperasi, meski kunjungan pelanggan kini lebih jarang dibandingkan satu dekade lalu.

Rifai Khana, pemilik kios ini, telah berjualan selama 32 tahun dan tidak memiliki pekerjaan lain selain berdagang batu cincin. “Ini sudah termasuk hobi, jadi enak ngejalaninnya. Saya nggak ada pekerjaan lain atau kerja sampingan,” kata Rifai.

Batu cincin yang ia jual berasal dari berbagai daerah, seperti Pulau Jawa dan Sumatra. Jenisnya beragam, mulai dari blue safir, jambrud, ruby, cat eye, hingga blue topas dan akik cempaka madu. Selain batu, Rifai juga menyediakan cangkang dan jasa pemasangan cincin.

“Kalau saya jual batu, jual cangkang juga. Bisa kita pasang sekalian kalau mau. Paling murah Rp 50 ribu. Kalau paling mahal tergantung jenis batunya sebenarnya. Ada yangblue safir, jambrud, ruby, cat eye, blue topas, akik cempaka madu, banyaklah. Itu pun semua tergantung kualitasnya juga,” jelasnya.

Secara keseluruhan, kios ini menjual lebih dari seribu jenis batu, sehingga ia sering menyebutnya “beribu batu”.

Rifai mengingat masa kejayaan batu akik dan batu lainnya sekitar tahun 2015. Saat itu, permintaan meningkat drastis dan penjualan berlangsung setiap hari. Ia bahkan bisa menjual batu senilai puluhan juta rupiah.

“Waktu itu memang musimnya, tiap hari nggak pernah kosong. Minimal sehari bisa dapat Rp 2 jutaan. Pernah juga saya jual batu sampai Rp 20 jutaan, itu blue safir. Sekarang sudah jauh menurun,” tuturnya.

Hari ini, penjualan cenderung tidak menentu. Meski pernah ada tren batu bio solar dari Aceh, stok cepat habis dan minat kembali menurun.

Rizal, penjual batu cincin lainnya, juga telah berjualan lebih dari 30 tahun. Ia mulai berjualan sejak lulus SMP dan mengaku kondisi penjualan kini jauh berbeda dibanding masa lalu.

“Saya udah 30 tahun lebih jualan akik di sini, dari lulus SMP-lah. Dari dulu saya cuma jualan ini. Memang sempat ramai, tapi sekarang agak sepi,” kata Rizal.

Penjualan sehari-hari pun tak menentu, kadang ada, kadang tidak sama sekali. Meski begitu, Rizal tetap bertahan karena usaha ini menjadi satu-satunya sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kadang ramai, kadang sedikit, bahkan kadang nggak ada sama sekali. Yang penting lepas untuk di rumah, untuk anak sekolah,” ujarnya.

Meski tren batu cincin telah meredup, para penjual di kawasan tersebut memilih tetap bertahan. Mereka mengandalkan pembeli yang masih datang, sembari menjaga usaha yang telah dijalani puluhan tahun.

Di Medan, kios batu cincin yang dulu ramai kini lebih tenang, namun tetap berfungsi sebagai sumber penghasilan bagi para penjual yang telah mengabdikan diri selama lebih dari tiga dekade.

Medankios batu cincinbatu akikpenjualantren batu bio solarpenurunan permintaanpenghasilanpengalaman 30 tahun

Komentar

Memuat komentar...