Kirab Pusaka 1 Suro 16 Juni 2026 di Keraton Solo

Lina F. · 4 min baca · 1 jam lalu · 24 dibaca
Bisik.id
Kirab Pusaka 1 Suro 16 Juni 2026 di Keraton Solo

Gambar atau konten salah?

Paku Buwono XIV Purbaya akan menggelar Kirab Pusaka 1 Suro pada Selasa, 16 Juni 2026, malam hari. Pihak pelaksana, Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (KGPH) di bawah Panembahan Agung Tedjowulan, turut terlibat. Acara ini menjadi bagian penting dari tradisi keraton, menampilkan kerbau bule dan pusaka keraton yang diarak sebagai sarana doa.

Gusti Rumbay, GKR Panembahan Timoer Rumbay, menjelaskan jalannya kirab. “Kalau malam satu suronya sendiri kan karena itu sudah berjalan bertahun-tahun, mestinya seperti biasa, tidak ada perubahan yang signifikan. Dan kebetulan kebonya yang akan dikeluarkan juga sudah, tahun kemarin, tahun-tahun kemarin juga sudah pernah dikirabkan,” katanya saat ditemui di Kori Talang Paten, Keraton Solo, pada Kamis, 4 Juni 2026. Ia menegaskan bahwa rangkaian upacara adat Malam Satu Suro akan berlangsung seperti tahun-tahun sebelumnya.

Rumbay juga mengungkapkan detail tentang kerbau bule yang akan menjadi cucuk lampah. “Pada kirab pusaka nanti ada 5 kerbau bule yang akan menjadi cucuk lampah. Lima kerbau tersebut rencananya akan menjalani gladi resik pada hari Sabtu, 13 Juni 2026.” Ia menambahkan, “(Kerbaunya ada berapa ya?) Lima kerbau kalau enggak salah, lima. Karena yang disiapkan itu, jadi nanti pada hari Sabtu tanggal 13 Juni akan gladi resik,” ungkapnya. Kerbau-kerbau tersebut dipilih karena sudah sering mengikuti prosesi kirab pada tahun-tahun sebelumnya. “Kerbau tahun sebelumnya juga sudah pernah kirab, jadi relatif lebih apa namanya istilahnya, sudah pinter lah gitu, enggak perlu berlatih yang harus seperti apa. Itu satu. Kemudian apa namanya, rutenya pun juga tidak berubah seperti tahun-tahun yang lalu,” jelasnya.

Keputusan mengenai jumlah pusaka keraton yang akan dikeluarkan masih menjadi misteri. Rumbay menegaskan bahwa keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan Paku Buwono XIV Purbaya. “Pusakanya belum ada dhawuh (perintah). Kan biasanya itu dawuh dari Sinuhun akan mengeluarkan berapa,” jelasnya. Ia menyebut bahwa jumlah dan jenis pusaka yang diarak baru akan diketahui setelah Sinuhun mendapatkan wisik atau petunjuk spiritual terkait pusaka mana yang paling tepat dikeluarkan. Pusaka-pusaka tersebut nantinya diarak sebagai sarana doa dan memohon keselamatan. “Jadi pusaka itu akan keluar setelah dawuhnya Sinuhun itu, wisiknya itu apa, untuk apa istilahnya, untuk doa, untuk doa di tahun baru ini, untuk keraton, untuk negara, untuk masyarakat. Itu memakai pusaka yang mana, biasanya seperti itu,” bebernya.

Ketika ditanya mengenai kepastian waktu turunnya perintah dari Sinuhun—apakah biasanya keluar pada H-1 atau beberapa hari sebelum Malam Satu Suro—Rumbay enggan berspekulasi. “Itu kan adat ya, jadi kita enggak bisa bicara apakah itu akan H-1, H-2, enggak bisa. Kita enggak bisa bicara seperti itu,” pungkasnya.

Di sisi lain, Kanjeng Pakoenegoro, juru bicara KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, mengungkapkan hasil rapat bersama Kementerian Kebudayaan. “Prinsipnya Selasa malam ya. Jamnya belum tahu, karena itu mengikuti dinamika di keadaan pada waktu itu. Bisa segera jam 23.30 mungkin, bisa agak, agak malam mungkin jam 1 dini hari, mungkin jam 2 dini hari, kurang tahu kami. Karena itu kami tidak, tidak di bidang itu. Yang jelas malam, Selasa malamnya, Selasa malam Rabu,” katanya pada Kamis, 4 Juni 2026. Ia menegaskan bahwa kirab pusaka akan digelar pada Selasa, 16 Juni 2026.

Ketika ditanya mengenai potensi tabrakan dengan kirab Grebeg Besar yang juga diadakan pada tanggal yang sama, Pakoenegoro menyatakan bahwa hal tersebut menjadi perhatian. “(Pihak PB XIV Purbaya juga di tanggal sama apakah akan tabrakan?) Nah itu dia, yang menjadi perhatian dari Gusti Tedjowulan. Harapan beliau kan rukun, rukun, rukun, kompak, gitu lho. Kalau, kalau kemarin itu kan Grebeg Besar, oke lah, masih bisa dua tanggal, gitu ya, dua pihak, dua tanggal,” ungkapnya. Ia menambahkan, “Tapi kalau malam 1 Suro ini kan nggak bisa dua tanggal. Artinya akan bertemu kan, kalau masih ada kepentingan personal atau kelompok, akan ada lebih dari satu kelompok, bertemu di satu tanggal, bertemu di satu malam, bertemu di satu tempat, itu kan dinamikanya cukup, cukup mengkhawatirkan ya, gitu,” sambungnya.

Pakoenegoro menegaskan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Paku Buwono XIV Purbaya selama rapat bersama Kementerian Kebudayaan. Ia menekankan netralitasnya sebagai pelaksana keraton. “Semua pihak diundang waktu rapat dengan Kementerian Kebudayaan. Jadi harapannya memang rukun saja. Dari dulu kami pesannya juga itu aja, rukun, kompak, gitu. Jangan, jangan lagi mengatasnamakan personal atau kelompok. Tapi kenyataannya dinamikanya kan seperti ini sampai sekarang,” terangnya. Ia menegaskan bahwa Gusti Tedjowulan berada di tengah, bukan yang mengadakan acara. “Gusti Tedjowulan ini netral, berada di tengah. Bukan Gusti Tedjowulan yang mengadakan, ini keraton yang punya gawe,” lanjutnya.

Lebih lanjut, pihaknya mengaku terus menjalin komunikasi, termasuk dengan putra dan putri Dalem Paku Buwono XII, dalam keberadaan pusaka Keraton Solo. “Gusti Tedjowulan juga akan melibatkan Gusti-Gusti sepuh, putra dalem, putri dalem yang sawargo PB XII. Karena beliau-beliau ini yang lebih memahami tentang keberadaan dan keadaan pusaka-pusaka. Kan tidak bisa sembarang orang, harus putra-putri dalem yang sudah disumpah,” bebernya.

Menanggapi pendataan pusaka Keraton Solo, Pakoenegoro menyebut bahwa proses tersebut sudah dimulai sejak sebulan yang lalu. “Sudah sekitar sebulan yang lalu pihak pendata, yaitu dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah wilayah X dan Kementerian Kebudayaan, memulai pendataan kekayaan budaya di Keraton Surakarta Hadiningrat, dan masih berjalan sampai sekarang. Artinya berkelanjutan, dan pusaka-pusaka juga menjadi prioritas dari pendataan itu,” pungkasnya.

Peristiwa ini menegaskan kembali pentingnya tradisi keraton dalam menjaga warisan budaya. Dengan melibatkan berbagai pihak—dari pengurus keraton hingga lembaga pelestarian budaya—acara kirab pusaka diharapkan dapat berlangsung lancar dan penuh makna. Pusaka yang diarak akan menjadi sarana doa bagi keraton, negara, dan masyarakat, menandai keberlanjutan nilai-nilai leluhur dalam kehidupan modern. Dengan persiapan yang matang, termasuk gladi resik kerbau bule dan koordinasi antara pihak keraton dan kementerian, harapan besar terletak pada kelancaran acara pada Selasa, 16 Juni 2026.

Kirab PusakaPaku Buwono XIVKeraton SoloKerbau BuleKementerian KebudayaanSelasa 16 Juni 2026Tradisi Keraton

Komentar

Memuat komentar...