Kisah Petrus dan Pengemis: Iman Mengangkat Kita

Bambang W. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
Kisah Petrus dan Pengemis: Iman Mengangkat Kita

Gambar atau konten salah?

08 April 2026 – Renungan harian ini mengajak kita untuk bangkit dan berjalan, menegaskan bahwa Tuhan tidak membiarkan kita terpuruk. Di tengah keterbatasan, Dia memanggil kita melangkah penuh harapan.

Di bacaan pertama, Kisah 3:1-10, kisah Petrus dan Yohanes bertemu dengan seorang pengemis lumpuh di Gerbang Indah. Setiap sore, pengemis itu diletakkan di depan pintu, menunggu sedekah dari orang yang masuk. Saat Petrus dan Yohanes hendak masuk, pengemis itu memohon. Petrus menatapnya dan berkata, "Lihatlah kepada kami." Pengemis itu menatap mereka, berharap mendapat sesuatu. Petrus kemudian berkata, "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" Ia memegang tangan pengemis, membantu dia berdiri. Seketika, kaki dan mata pengemis itu kuat. Ia melompat, berjalan, dan memuji Allah. Semua orang melihatnya, terkejut melihat perubahan yang terjadi pada orang yang biasanya duduk menunggu sedekah.

Makna kata Petrus menegaskan bahwa kekuatan tidak datang dari harta, melainkan dari iman kepada Yesus. Dengan nama-Nya, pengemis itu disembuhkan, lalu berjalan menuju Bait Allah, menandakan bahwa iman dapat mengangkat kita dari keterbatasan.

Selanjutnya, bacaan Mazmur 105:1‑2, 3‑4, 6‑7, 8‑9 mengajak kita bersyukur kepada Tuhan. Mazmur ini memuji perbuatan-Nya di antara bangsa, menekankan bahwa Tuhan adalah Allah yang berkuasa di seluruh bumi. Dalam teks ini, kita diajak untuk mengingat perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub.

Di Injil, Lukas 24:13‑35, dua murid Yesus berjalan menuju desa Emaus. Mereka membicarakan peristiwa terakhir Yesus. Saat mereka sedang berbicara, Yesus sendiri datang dan berjalan bersamanya. Namun, mata mereka tidak mengenal-Nya. Yesus bertanya, "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Mereka berhenti, wajah muram. Salah satu murid, Kleopas, bertanya, "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Yesus menjawab, "Apakah itu?" Mereka menjelaskan tentang kematian Yesus, pengkhianatan, dan berita bahwa Ia hidup kembali. Yesus menegur mereka, "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!" Ia menjelaskan tulisan-tulisan Musa dan nabi tentang Mesias. Saat mereka makan bersama, Yesus memecah roti; mata mereka terbuka, namun Ia lenyap. Mereka teringat bagaimana Ia mengajar mereka Kitab Suci. Mereka kembali ke Yerusalem, bertemu dengan murid-murid lain, dan menceritakan pengalaman mereka.

Renungan hari ini menekankan bahwa “bangkit dan berjalan” bukan sekadar tindakan fisik, melainkan perjalanan iman. Kita diingatkan bahwa ketika kita mengalami keterbatasan—baik fisik maupun rohani—kita dapat menemukan kekuatan melalui iman kepada Yesus. Seperti pengemis lumpuh yang disembuhkan, kita juga dapat dipulihkan jika kita menyerahkan diri kepada-Nya.

Pengingat ini penting bagi siapa saja yang merasa terpuruk, terjebak, atau enggan pergi ke gereja. Terkadang, alasan seperti “tidak ada waktu” atau “tidak cukup kuat” menjadi penghalang. Namun, bacaan hari ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu memanggil kita untuk bangkit. Ia tidak menunggu kita menjadi sempurna, melainkan mengajak kita untuk berjalan, bahkan ketika langkah kita masih lemah.

Dalam konteks Ekaristi, mengingat bahwa hari Minggu adalah hari suci, tidak hadir secara sadar dapat dianggap melanggar perintah ketiga sepuluh perintah: “Kuduskanlah hari Tuhan.” Namun, lebih penting adalah sikap hati. Jika kita merasa tidak mampu, kita bisa memohon pertolongan Tuhan untuk memberi kekuatan, sehingga kita dapat hadir dan merasakan kasih-Nya.

Kesimpulannya, renungan ini mengajak kita untuk melihat bahwa setiap hari, di tengah kesulitan, Tuhan menawarkan kesempatan untuk bangkit. Dengan iman kepada Yesus, kita dapat mengatasi keterbatasan, menemukan kekuatan baru, dan berjalan menuju Bait Allah—atau ke tempat ibadah kita—dengan hati yang penuh syukur.

BangkitPetrusPengemis LumpuhYesus KristusImanKekuatanBait AllahRenungan

Komentar

Memuat komentar...