Klungkung Perketat Screening Hantavirus di Nusa Penida

Tika M. · 2 min baca · 23 hari lalu · 56 dibaca
Bisik.id
Klungkung Perketat Screening Hantavirus di Nusa Penida

Gambar atau konten salah?

Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung menguatkan proses screening dan surveilans hantavirus di Nusa Penida pada 11 Mei 2026. Langkah ini diambil setelah catatan peningkatan kasus penyakit tersebut di seluruh Indonesia. Nusa Penida menjadi sorotan karena tingginya arus wisatawan domestik dan mancanegara, termasuk pekerja kapal pesiar yang kembali dari luar negeri.

Kepala Dinas Kesehatan Klungkung, I Gusti Ayu Ratna Dwijawati, menegaskan bahwa semua fasilitas kesehatan diminta lebih aktif melakukan pengawasan dan mendeteksi pasien dengan gejala mencurigakan. “Sejauh ini aman. Saya juga sudah meminta surveilans kita untuk lebih aktif. Faskes (fasilitas kesehatan) juga untuk screening surveilans-nya kita perketat,” ujar Ratna, Senin (11 Mei 2026).

Selain memperketat screening, Dinkes Klungkung juga mulai menggencarkan edukasi kepada masyarakat. “Booklet-booklet tentang hantavirus juga sudah kita sebarkan,” imbuh Ratna. Buku panduan ini berisi informasi tentang gejala, cara pencegahan, dan langkah-langkah pertama bila terindikasi terpapar.

Ratna menegaskan bahwa hingga kini belum ada laporan kasus hantavirus di Klungkung. Namun, petugas medis di puskesmas hingga rumah sakit diminta lebih peka terhadap pasien dengan gejala menyerupai flu. “Petugas medis di faskes sudah kami instruksikan untuk lebih peka. Kami pastikan kesiapan faskes dalam melakukan screening jika ditemukan pasien dengan gejala hantavirus ini. Sejauh ini belum ada laporan,” jelasnya.

Kewaspadaan ini meningkat setelah Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus konfirmasi hantavirus di Indonesia sepanjang 2024‑2026. Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta dan DIY masing‑masing enam kasus, disusul Jawa Barat sebanyak lima kasus.

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui urin, kotoran, atau air liur tikus terinfeksi yang menyebar lewat udara (dust aerosol) dan terhirup manusia. Mayoritas kasus di Indonesia didominasi jenis Seoul Virus yang menyerang fungsi ginjal.

Dinkes Tabanan juga memastikan belum ada laporan kasus hantavirus di wilayahnya. Meski demikian, edukasi terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terus digencarkan untuk mencegah penyebaran virus.

Direktur Utama RSUD Tabanan, I Gede Sudiartha, mengatakan pasien suspek hantavirus nantinya akan ditangani berbeda dengan pola penanganan saat pandemi COVID‑19. “Investigasi langsung tidak seperti pasien COVID‑19, karena gejalanya seperti pasien flu biasa. Baru pendeteksian awal saja, mudah‑mudahan tidak sampai ada kasus hantavirus di Tabanan,” ujar Sudiartha. Ia menjelaskan pasien yang dicurigai terpapar hantavirus akan ditempatkan sementara di ruang isolasi sebelum menjalani prosedur penanganan lanjutan. “Perawatannya tetap dipisahkan dan tidak digabung dengan pasien lain,” jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Tabanan, IB Surya Wira Andi, mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus di sekitar rumah untuk mencegah penularan. “Sejauh ini belum ada laporan kasus virus itu di Tabanan. Masih aman dan mudah mudahan tidak ada,” tutupnya.

Dengan langkah‑langkah preventif yang terus diperkuat, kedua kabupaten menegaskan kesiapan mereka untuk menanggapi potensi wabah hantavirus, sambil menjaga kesehatan masyarakat di tengah arus wisatawan yang tinggi.

hantavirusscreeningNusa PenidaDinas Kesehatan Klungkungpuskesmasdust aerosolflu

Komentar

Memuat komentar...