Konferensi Asia Afrika 1955: Bandung Menjadi Pusat Diplomasi

Fajar H. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Konferensi Asia Afrika 1955: Bandung Menjadi Pusat Diplomasi

Gambar atau konten salah?

18 April 1955 hingga 24 April 1955 menandai hari-hari penting di Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Gedung Merdeka, Bandung. Konferensi ini menjadi ajang bagi negara-negara baru merdeka di Asia dan Afrika untuk berdiskusi tentang kolonialisme dan ketegangan global. Sejumlah delegasi, antara lain 25 negara, hadir untuk menandai momen bersejarah ini.

Namun, tidak semua negara bersedia ikut. Federasi Afrika Tengah menolak undangan karena masih berada di bawah penjajahan Prancis. Status belum merdeka membuat wilayah tersebut tidak memiliki kedaulatan penuh untuk menghadiri forum internasional.

Gedung YPK di Jalan Naripan 7‑9 menjadi pusat pameran hortikultura. Tanaman seperti anggrek dan teratai dipamerkan bersama kerajinan khas Jawa Barat. Nadya Ingrida mengungkapkan: “Pada saat KAA banyak event‑event sampingan, pameran holtikultura itu salah satu yang diselenggarakan. Waktu KAA nama (gedung) nya sudah berubah jadi Yayasan Pusat Kebudayaan,” ia katakan saat ditemui di sela Walking Tour KAA di Bandung.

Delegasi juga menikmati waktu luang di Jalan Braga. Toko‑toko menampilkan bendera negara delegasi, sementara para tamu bersantai, melihat lukisan, dan berinteraksi dengan warga. Nadya menambahkan: “Saat KAA berlangsung, Jalan Braga itu dihias untuk menyambut acara. Setiap toko‑tokonya memamerkan bendera‑bendera negara delegasi yang hadir. Begitu selesai berkegiatan dari gedung, mereka nongkrong di Braga, melihat lukisan dan karya‑karya seniman,” papar ia.

Negara Sudan memanfaatkan konferensi untuk memperkenalkan budaya lewat pemutaran film. Nadya menjelaskan: “Negara Sudan melakukan pemutaran film. Ingin menunjukan pada rakyat Bandung seperti apa film‑film Sudan. Jadi KAA itu juga menjadi ajang diplomasi oleh negara‑negara peserta lainnya,” jelasnya.

Berbeda dari acara lain, pemerintah Indonesia menyediakan layanan medis khusus. Hotel Preanger berfungsi sebagai pusat kesehatan, menampung dokter umum dan dokter gigi secara cuma‑cuma bagi delegasi. Nadya menulis: “Hotel Preanger ini jadi salah satu health center saat KAA berlangsung. Selain dokter umum, disediakan dokter gigi bagi para delegasi secara cuma‑cuma,” papar ia.

Area yang kini menjadi museum Konferensi Asia Afrika dulunya adalah ruang press. Pada saat konferensi, jurnalis dari berbagai negara mengetik laporan dan beristirahat di sana. Ruang tersebut kemudian diubah menjadi ruang pamer setelah acara.

Beberapa bangunan dan jalan di Bandung mengalami perubahan nama menjelang konferensi. Gedung Societeit Concordia menjadi Gedung Merdeka, sementara Gedung Indische Pension Fondsen di Jalan Diponegoro berubah menjadi Gedung Dwi Warna. Jalan Raya Timur, yang melintasi lokasi utama, berganti nama menjadi Jalan Asia Afrika, yang kini menjadi ikon kota Bandung.

Untuk mengakomodasi kebutuhan transportasi, panitia membutuhkan 143 kendaraan yang terdiri dari mobil taksi, bus, dan sedan. Mereka meminjam mobil milik warga. Salah satu guru, Abah Landoeng, membantu mengumpulkan kendaraan. Ia berkata: “Saya waktu itu dengan sukarela membantu panitia untuk mengumpulkan kendaraan bagi delegasi, dengan cara meminjam mobil dari orang tua wali murid saya,” ujar ia sebagaimana dilansir dari laman web Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Selama dua minggu, ia berhasil mengumpulkan 14 mobil mewah, seperti Mercy, Dodge, dan Impala.

Konferensi Asia Afrika 1955 tidak hanya menjadi tonggak diplomasi, tetapi juga memperlihatkan sisi sosial dan logistik yang kompleks. Dari pameran hortikultura hingga pemutaran film Sudan, hingga layanan dokter gigi gratis, semua menunjukkan upaya Indonesia sebagai tuan rumah. Nama-nama bangunan dan jalan berubah, kendaraan dipinjam, dan delegasi bersantai di Jalan Braga. Semua elemen ini menambah warna sejarah konferensi yang seringkali hanya dikenal lewat dokumen resmi.

Konferensi Asia AfrikaBandungGedung MerdekaPameran HortikulturaHotel PreangerJalan BragaSudanFederasi Afrika Tengah

Komentar

Memuat komentar...