Konflik Timur Tengah Bisa Turunkan Ekspor Indonesia 2026

Lina F. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 63 dibaca
Bisik.id
Konflik Timur Tengah Bisa Turunkan Ekspor Indonesia 2026

Gambar atau konten salah?

Konflik geopolitik yang sedang berlangsung di Timur Tengah berpotensi menurunkan kinerja ekspor Indonesia. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pertumbuhan ekspor tahun ini bisa turun dibandingkan tahun lalu jika perang tidak segera berakhir.

Menurut data, nilai ekspor Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai US$ 282,91 miliar atau naik 6,15% dibandingkan tahun 2024. Namun, pertumbuhan tersebut terancam tidak terjadi lagi jika konflik antara Iran dan Amerika Serikat terus memanas.

“Tentu kalau ini (perang) nggak selesai, misalnya, nggak selesai, terus-menerus ya bisa dampaknya ke ekspor kita. Paling tidak ekspor kita bisa pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu. Tapi mudah-mudah cepat selesai,” ujar Budi saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (27 Maret 2026).

Budi menjelaskan bahwa permintaan barang dari negara-negara Timur Tengah masih stabil. Kendala utama muncul di sisi biaya logistik. Harga minyak yang bergejolak dan penutupan beberapa pelabuhan memaksa kapal pengangkut mencari rute alternatif yang lebih jauh.

“Nah, kemarin kita komunikasi juga dengan eksportir. Jadi menurut mereka teman-teman ini masih bisa memenuhi permintaan sebenarnya. Ya, cuman itu tadi, cost-nya mungkin lebih tinggi untuk biaya transportasinya,” tambah Budi.

Nilai ekspor Indonesia ke Timur Tengah pada 2025 mencapai US$ 9,87 miliar, setara 3,49% pangsa pasar total ekspor dunia. Dari total tersebut, Uni Emirat Arab (UAE) menjadi tujuan terbesar dengan porsi 40% berkat perjanjian kerja sama IUAE-CEPA. Disusul oleh Arab Saudi sebesar 29%, dan Iran sekitar 2,5% atau setara US$ 250 juta.

Menanggapi situasi ini, Budi telah menyiapkan beberapa strategi:

  • Regulasi logistik – Pemerintah bekerja sama dengan Dewan Pengguna Jasa Angkut (Dipalindo) untuk memperbaiki regulasi agar lebih efisien dan kompetitif.
  • Diversifikasi pasar – Fokus ekspor ke Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika Latin melalui skema business matching.
  • Pengawasan harga komoditas – Memperhatikan kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) dan batu bara, yang dapat menambah nilai ekspor.

“Harga komoditas untuk CPO tahun lalu itu kan turun sekitar 16% ya harga ya harga komoditas. Kemudian batu bara turun 19% kurang lebih. Nah, sekarang harga komoditas keduanya tahun ini kan mulai naik. Artinya kalau naik berarti ya nilai ekspor kita ya pasti meningkat, pasti meningkatnya,” pungkas Budi menjelaskan.

Dengan strategi yang disusun, pemerintah berharap dapat memitigasi dampak konflik di Timur Tengah dan menjaga pertumbuhan ekspor Indonesia tetap stabil.

Ekspor IndonesiaTimur Tengahkonflik geopolitikharga minyaklogistikCPObatu barastrategi diversifikasi pasar

Komentar

Memuat komentar...