Konsumsi Rumah Tangga 5,52%: Daya Beli Indonesia Tetap Tahan

Teguh A. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 101 dibaca
Bisik.id
Konsumsi Rumah Tangga 5,52%: Daya Beli Indonesia Tetap Tahan

Gambar atau konten salah?

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menegaskan bahwa daya beli masyarakat Indonesia tetap kuat meski kondisi geopolitik global masih tidak menentu.

Menurut data triwulan I 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 %. Angka ini menandakan aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat masih tinggi. Konsumsi rumah tangga menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi, yang pada kuartal tersebut mencapai 5,6 %.

“Konsumsi rumah tangga itu adalah sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia, begitu dia di bawah 5% itu adalah tanda-tanda daya beli masyarakat menurun. Kemarin masih 5,52%, artinya daya beli, daya ekonomi masyarakat masih terjaga dengan baik,” jelas Juda Agung dalam acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) Tahun 2026, Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.

Sampai April 2026, pendapatan negara mencapai Rp 918 triliun atau tumbuh 13,3 %. Sektor perpajakan mencatat pertumbuhan 16,1 %, sementara belanja negara melonjak tinggi hingga 34,3 %.

Di tengah belanja yang cukup tinggi, Juda menyampaikan defisit APBN masih terkendali di level 0,64 % terhadap PDB, turun dibanding kuartal I yang mencapai 0,92 %.

“Keseimbangan primer bahkan surplus di bulan April ini Ini semua menunjukkan bahwa APBN kita ekspansif tetapi masih terukur,” ujar Juda Agung.

Eks Deputi Gubernur Bank Indonesia menepis anggapan bahwa ekonomi Indonesia sedang menuju krisis seperti 1997‑1998. Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi saat ini kuat di tengah tekanan global dan jauh dari penyebab krisis.

“Tadi Pak Misbakhun sempat menyinggung bahwa banyak kalangan, baik di media termasuk media sosial mengatakan ekonomi kita menuju krisis seperti 97, 98. Kalau melihat angka-angka tadi, kita itu jauh dari situasi krisis,” tegas Juda menekankan.

Secara keseluruhan, data menunjukkan konsumsi rumah tangga dan pendapatan negara tumbuh, belanja negara tinggi namun defisit tetap terkendali. Hal ini menegaskan bahwa ekonomi Indonesia masih berada pada jalur pertumbuhan yang stabil, meski menghadapi tekanan eksternal.

Konsumsi rumah tanggaDaya beli masyarakatPertumbuhan ekonomiAPBNDefisitPendapatan negaraBelanja negaraKrisis ekonomi 1997-1998

Komentar

Memuat komentar...