Kontroversi Bakpia: Apakah Masih Mengandung Daging Babi?
Gambar atau konten salah?
Di kota Yogyakarta, bakpia telah lama menjadi oleh‑oleh favorit. Baru-baru ini, sebuah thread di platform Threads menimbulkan kontroversi ketika seorang pengguna bernama @narhuya81 menuduh bakpia yang dijual di pasar tradisional mengandung daging babi.
Dalam unggahan tersebut, ia menulis: “Ya ampun apa lagi ini?? Bakpia isi babi?? Ini seriusan warga Jogja gak ada yang emosi makanan khas mereka dilecehkan gini? Kenapa sih suku yang itu sukanya apa apa dibikin jadi babi. Heran deh,” menandakan ketidakpuasan atas perubahan resep yang dianggap tidak sesuai dengan nilai budaya lokal.
Reaksi publik pun segera mengalir. Beberapa netizen menanggapi dengan mengingat sejarah bakpia, yang pada dasarnya berasal dari kata “bak” (daging) dan “pia” (kue) dalam bahasa Hokkin. Mereka menegaskan bahwa bakpia memang semula berisi daging babi, namun kini telah beradaptasi menjadi produk halal.
Bakpia, yang kini sering diisi dengan keju, cokelat, kacang hijau, atau susu, memiliki akar sejarah yang panjang. Asal usulnya dapat ditelusuri kembali ke China, di mana kue ini dikenal dengan nama “Tou Luk Pia”. Ketika para imigran China tiba di Yogyakarta pada awal abad ke-20, mereka membawa resep ini ke tanah Jawa.
Awalnya, bakpia tidak dijual secara komersial. Ia hanya dibuat dan disajikan pada perayaan hari besar Imlek. Pada masa itu, hanya masyarakat China yang menikmati kue ini, sementara penduduk Yogyakarta belum mengenalnya. Bakpia juga memiliki ukuran lebih besar dibandingkan varian yang dikenal sekarang, yaitu bakpia pathuk.
Di tahun 1940-an, seorang pengusaha bernama Kwik Sun Kwok memperkenalkan resep asli China. Ia menggunakan minyak babi untuk kulitnya, menciptakan tekstur renyah dan rasa gurih. Isiannya pun berisi daging babi cincang. Namun, karena mayoritas penduduk Yogyakarta beragama Muslim, produk ini tidak laku. Akibatnya, resep bakpia mulai dimodifikasi menjadi halal.
Perubahan signifikan terjadi ketika Kwik Sun Kwok mengganti daging babi dengan kacang hijau. Kacang hijau ini segera disukai banyak orang. Usaha bakpia milik Kwik Sun Kwok kemudian menarik perhatian Niti Gurnito, yang sewaktu itu menyewakan lahan usahanya kepada para imigran China.
Hasilnya, bakpia Niti Gurnito lahir. Ukurannya lebih kecil, kulitnya lebih tebal, dan isian kacang hijau menjadi andalan. Bakpia ini kemudian dipasarkan secara luas, bahkan dijajakan menggunakan pikulan kayu di pasar tradisional. Pada sekitar 1980-an, bakpia kacang hijau menjadi populer, dan banyak pedagang lokal mulai membuat dan menjualnya.
Seiring waktu, bakpia terus berinovasi. Mulai dari keju, susu, hingga rasa matcha green tea, bakpia kini hadir dalam berbagai varian. Proses pembuatannya melibatkan pemanggangan pada suhu 180 derajat Celsius selama 20-25 menit. Selain bakpia panggang, ada juga bakpia kukus yang lebih lembut dan lembap, biasanya diisi dengan cokelat, keju, atau kacang hijau.
Varian-varian modern tidak hanya terbatas pada rasa tradisional. Beberapa pembuat kini menambahkan topping kekinian seperti Kit‑Kat, green tea, red velvet, dan kopi. Inovasi ini menunjukkan betapa bakpia tetap relevan dalam budaya kuliner Yogyakarta, sekaligus menyesuaikan dengan selera generasi muda.
Kontroversi yang muncul di Threads menyoroti betapa pentingnya menjaga identitas kuliner lokal. Meskipun bakpia kini telah berubah menjadi produk halal, sejarahnya tetap mengingatkan bahwa makanan tradisional seringkali mengalami transformasi seiring waktu. Perubahan tersebut, bila dilakukan dengan rasa hormat terhadap budaya asli, dapat memperkaya warisan kuliner tanpa menghilangkan nilai-nilai yang melekat pada makanan tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Warung Nasi Goreng Salatiga Viral karena Timun Utuh
Jagakarsa: 7 Tempat Kuliner Tradisional yang Harus Dicoba
Gading Serpong: Pusat Kafe Favorit Warga BSD dan Tangerang
Jennifer Coppen nikah Justin Hubner di Bali, tradisi Jawa
Rahasia Tempura Jepang: Adonan Ringan dan Minyak Tepat
Tujuh Tempat Makan Legendaris di Cilandak Menjelajah Rasa
Berita Terbaru
Denpasar Rilis Jadwal Shalat 14 Juni 2026: Subuh 05:09
Jaya Raya Jakarta Juara Yonex‑Sunrise Doubles 2026
Jadwal Sholat Minggu, 14 Juni 2026: Cirebon dan Sekitarnya
Cuaca Jawa Timur 14 Juni: Cerah Berawan Hingga Hujan Berat
Aquilani Jadi Pelatih Baru Sassuolo, Idzes Tantangannya
Perbanas Juara Campus League Basketball 2026, UBAYA Putri
Unpas Gelombang Kedua Wisuda, 1.075 Lulusan dan Kerja Sama
Brasil Hadapi Maroko 14 Juni 05.00 WIB di MetLife Stadium
Brasil vs Maroko: Piala Dunia 2026 Pagi Pukul 05.00 WIB
