Kopi & Gamelan Live di Surabaya, Kedai Tradisional Hangat

Kartika D. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 64 dibaca
Bisik.id
Kopi & Gamelan Live di Surabaya, Kedai Tradisional Hangat

Gambar atau konten salah?

Di tengah keramaian kota Surabaya, ada sebuah tempat yang menonjol karena kombinasi unik antara kopi dan musik tradisional. Pengunjung dapat menikmati secangkir kopi sambil mendengarkan alunan gamelan yang dimainkan secara live di sebuah kedai yang tampak lebih seperti rumah tua daripada kafe modern.

Tempat ini berlokasi di Jalan Dukuh Kupang 14 Nomor 10, Surabaya. Dari luar, bangunan tersebut tidak menonjol dengan papan nama besar atau desain industrial. Sebaliknya, ia menampilkan nuansa rumah Jawa klasik, lengkap dengan atap joglo dan dinding kayu yang dipenuhi tanaman hijau. Rambu kecil di depan menandai masuknya kedai, namun tidak ada pencahayaan neon atau dekorasi modern yang mencolok.

Sesampainya di dalam, pengunjung disambut oleh suara gamelan yang mengalun lembut. Alunan gending Jawa terdengar dari ruang utama, di mana instrumen-instrumen seperti gender, gong, kempul, kenong, kendang, suling, dan gambang tersusun rapi. Gamelan tersebut bukan hanya diputar melalui speaker; beberapa instrumen dimainkan langsung oleh pemilik dan pengunjung dapat menyentuhnya.

Manajer kedai, M. Mursyid Tamam (19), menjelaskan alasan di balik nama Sasana Bhagavadgita. “Sasana itu artinya tempat berkumpul. Sementara Bhagavadgita diambil dari kisah dalam kitab suci Hindu tentang kisah Krishna dan Arjuna di perang Mahabarata,” ujarnya. Nama tersebut mencerminkan filosofi kedai sebagai ruang bagi orang-orang yang bingung dan resah untuk mencari ketenangan.

Menurut Tamam, kedai ini dirancang sebagai tempat refleksi. “Jadi dikomparasikan, tempat ini adalah tempat orang-orang yang bingung dan resah. Jadi ketika orang-orang tersebut mengunjungi Sasana Bhagavadgita, dengan harapan bisa dapat satu kepastian dari arti kehidupan. Seluruh overthinking lah kalau bahasa anak sekarang, di sini bisa dapat kepastian dengan ketenangan yang kami suguhkan,” imbuhnya. Ia menekankan bahwa suasana rumah kakek yang hangat membantu menenangkan pikiran.

Gamelan di sini memiliki nilai historis. Instrumen-instrumennya merupakan koleksi pribadi keluarga pemilik, berusia puluhan tahun. Tamam menambahkan, “Ada juga saron demung. Kebetulan hari ini kita adakan event, jadi dikeluarin. Kalau hari-hari biasa kita keluarin yang alusan saja, nggak pakai balungan saron demung tadi soalnya dipakai sanggar juga,” kata Tamam. Dengan pendekatan santai, gamelan dihadirkan dekat pengunjung, bukan di panggung formal.

Selain musik, interior kedai dipenuhi barang-barang antik. Mesin tik, telepon kabel, kaset beserta pemutarnya, mainan retro, dan vespa tua menghiasi ruangan. “Nggak cuma gamelan sama wayang aja, tapi semua dekorasi lawas ini milik kakungnya owner. Kakung itu kan orangnya ngeman primpen,” kata Tamam. Nuansa Jawa tidak hanya berasal dari alunan gamelan, tetapi juga dari barang-barang bersejarah yang menambah kehangatan suasana.

Pengunjung tidak hanya datang untuk minum kopi. Mereka sering merasa seperti sedang bertamu di rumah nenek. Salah satu pengunjung, Hera Marthaningdyah (52), mengungkapkan kepuasan terhadap konsep ini. “Bagus juga sih, jadi kita mengenalkan budaya ke kalangan muda yang sekarang sukanya modern gitu. Dengan kedai ini, mereka bisa berkarya, pentas kecil-kecilan seperti ini, jadi pengunjung apalagi yang suka dengan alunannya, merasa nyaman,” kata Hera. Ia menilai kedai ini sebagai tempat yang mendukung kreativitas dan apresiasi budaya.

Gamelan di Sasana Bhagavadgita tidak dianggap mistis. Tamam menegaskan, “Selama ini gamelan sering dianggap mistis atau horor. Padahal ya nggak gitu. Gamelan itu cuma besi dipukul.” Ia mengajak pengunjung untuk mencoba memetik instrumen, mengubah rasa takut menjadi rasa penasaran. Interaksi ini menambah kedalaman pengalaman, di mana musik menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana kopi.

Dengan suasana rumah kakek, nuansa Jawa, dan alunan gamelan yang autentik, kedai ini menawarkan lebih dari sekadar minuman. Ia menjadi ruang bagi orang-orang yang mencari ketenangan, refleksi, dan apresiasi terhadap warisan budaya. Pengalaman di Sasana Bhagavadgita mengingatkan bahwa di tengah kota yang sibuk, masih ada tempat di mana tradisi dan modernitas dapat bersatu dalam kedamaian sederhana.

Sasana BhagavadgitakopigamelanSurabayarumah kayuantikaketenangan

Komentar

Memuat komentar...