Kopitiam Singapura: Warung Kopi Sehari-hari, Budaya
Gambar atau konten salah?
kopitiam di Singapura bukan sekadar tempat nongkrong, melainkan bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian. Dari jam pagi yang masih gelap hingga malam hari, warung kopi ini selalu dipenuhi pengunjung yang menggemari kopi khas Nanyang. Racikan populer seperti kopi O, kopi-C, dan Kopi Peng menjadi andalan bagi para pencinta kopi.
Perkataan kopitiam sendiri berasal dari dua kata: “kopi” dalam bahasa Melayu dan “tiam” dalam bahasa Hokkien atau Fujian yang berarti toko. Sejak abad ke-19, tempat ini dibuka oleh orang Tionghoa sebagai warung sederhana di pinggir jalan, tempat buruh berkumpul. Mereka datang pada pukul 06.00 untuk meminum secangkir kopi kental yang disajikan dengan cepat, agar bisa segera berangkat kerja.
Singapura, sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan, menampung beragam etnis. Budaya kopi di kota ini tercermin dalam cara penyajian yang beragam, mencerminkan keberagaman tersebut. Masyarakat Melayu memiliki tradisi kopi sendiri, sementara orang-orang dari China Selatan dan India membawa praktik kopi mereka ke sini. Semua ini menyatu dalam gaya kopi Nanyang.
Secara tradisional, kopi Nanyang dibuat dengan memanggang biji robusta bersama gula, margarin, dan sedikit garam. Setelah diseduh, kopi biasanya ditarik dengan tangan dan disaring. Proses ini menambah aroma khas yang membuat kopi ini berbeda dari kopi lain di dunia.
Di Singapura, kebiasaan makan lima kali sehari menjadi norma: sarapan, makan siang, teh sore, makan malam, dan makan larut malam. Karena itu, orang sering mampir ke kopitiam untuk minum kopi sebelum melanjutkan aktivitas. Kopi menjadi bagian penting dari pola hidup mereka.
Memesan kopi di sini sangat fleksibel. Pelanggan dapat menyesuaikan jenis susu dan tingkat kematangan sesuai selera. Kopi C menggunakan susu evaporasi, bukan susu kental manis, dan dinamai “C” karena merek susu evaporasi Carnation. Sedangkan Kopi O adalah kopi hitam.
Variasi Kopi O lebih lanjut dibagi berdasarkan tingkat kemanisan: siu dai (kopi hitam dengan susu kental manis dan sedikit gula), kosong (tanpa gula), dan Kopi Peng (kopi hitam dingin dengan susu kental manis). Selain itu, warga lokal dapat menambahkan sepotong mentega, dikenal sebagai kopi gu you, untuk rasa yang lebih kaya.
Untuk para pelancong, cara memesan kopi cukup sederhana. Sebutkan “kopi” untuk kopi hitam dengan susu kental manis, “kopi poh” untuk kopi encer dengan susu kental manis, atau “yuanyang (yinyang)” untuk campuran setengah teh dan setengah kopi dengan susu kental manis. Semua istilah ini sudah dikenal luas di kota ini.
Penulis, yang bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara (fem/fem), menyoroti betapa kopi di Singapura menjadi cerminan sejarah dan kebudayaan yang beragam. Kopi di sini bukan sekadar minuman, melainkan simbol interaksi sosial dan warisan budaya yang terus hidup.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Alfin Setyo Tunggal Pemaafkan Pelaku Pencuri Uang Toko
Indonesia vs Kamboja di Piala AFF U-19 2026, Sabtu 13 Juni
Cucurella Tegaskan Tidak Pindah Chelsea, Bahagia di London
Elon Musk Jadi Miliarder Pertama Dunia Setelah IPO SpaceX
OKU Kirim Paket Sembako ke Korban Kebakaran Pasar Baru
Indonesia Raih Final Ganda Putri Australian Open 2026
Jember Pimpin 6,35% Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
