Kredit Investasi BI Naik 20,85%: Fokus ke Produksi Real
Gambar atau konten salah?
Di tengah ketegangan konflik di Timur Tengah, pelaku usaha di dalam negeri tetap menambah investasi. Laporan Bank Indonesia (BI) menunjukkan kredit investasi naik 20,85% dibanding tahun sebelumnya.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menjelaskan bahwa peningkatan ini muncul karena para pelaku masih melihat nilai jangka panjang dari investasi, bukan sekadar kredit modal kerja.
“Padahal yang paling bagus untuk ekonomi itu sebenarnya modal kerja. Karena modal kerja itu untuk bahan baku, biaya tenaga kerja, bahan penolong. Sementara investasi banyak ke bangunan dan aset tetap. Jadi, dalam situasi seperti sekarang, uang yang ada daripada menganggur dan kondisi belum pasti, mereka memilih investasi saja,”
Menurut Ahmad, investasi yang berfokus pada bangunan dan aset tetap tidak selalu menghasilkan lapangan kerja langsung. Ia menekankan pentingnya memfokuskan kredit pada sektor manufaktur.
“Kalau kita lihat sekarang, banyak investasi itu bukan di manufaktur tetapi lebih ke sektor jasa, bangunan, lahan, toko retail, dan sebagainya. Menurut saya seharusnya ke pembangunan industri, pabrik, itu yang paling penting,”
Ahmad juga menyoroti lokasi investasi. Ia menilai bahwa mayoritas kredit investasi saat ini diarahkan ke luar kawasan industri yang telah disiapkan pemerintah.
“Saya kira pemerintah harus memastikan kawasan industri justru lebih murah dan lebih menarik dibandingkan di luar kawasan. Insentifnya juga bisa diberikan lebih kuat,”
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menambahkan faktor pendorong lain: proyek hilirisasi, khususnya di sektor berbasis sumber daya seperti nikel dan tembaga. Ia juga melihat peluang relokasi industri dari negara lain ke Indonesia.
“Selain itu, ada peluang relokasi industri dari negara lain yang masuk ke Indonesia. Di sisi perbankan, likuiditas juga masih longgar, sehingga ruang untuk menyalurkan kredit terbuka lebar,”
Manilet mengamati bahwa kredit modal kerja tumbuh jauh lebih lambat dibanding kredit investasi. Ia menilai bahwa ekspansi kredit belum diikuti oleh aktivitas produksi dan permintaan yang kuat.
“Ini memberi sinyal bahwa ekspansi yang terjadi belum diikuti oleh aktivitas produksi dan permintaan yang kuat. Perusahaan mungkin sudah membangun kapasitas, tetapi belum sepenuhnya yakin untuk menjalankan produksi secara agresif. Ada kecenderungan wait and see,”
Selanjutnya, ia menyoroti pertumbuhan kredit untuk segmen UMKM dan konsumsi yang masih belum pulih kuat karena dianggap lebih berisiko. Namun, ia menegaskan bahwa sektor ini menyerap tenaga kerja terbesar.
“Sementara itu, pertumbuhan kredit untuk segmen UMKM dan konsumsi belum pulih kuat karena dianggap lebih berisiko. Padahal, Yusuf menilai sektor ini yang paling besar menyerap tenaga kerja.”
Manilet menegaskan tantangan utama: memastikan kredit tidak hanya tumbuh, tetapi mengalir ke aktivitas ekonomi riil dan menciptakan lapangan kerja.
“Jadi tantangannya bukan sekadar mendorong kredit tumbuh, tetapi memastikan kredit tersebut benar-benar mengalir ke aktivitas ekonomi riil dan menciptakan lapangan kerja,”
BI mencatat bahwa kredit perbankan secara keseluruhan tumbuh 9,49% pada 01 Maret 2026, sedikit lebih tinggi dibandingkan 9,37% pada 02 Februari 2026. Pertumbuhan kredit investasi, modal kerja, dan konsumsi masing-masing mencapai 20,85%, 4,38%, dan 5,88% pada 01 Maret 2026.
BI memperkirakan pertumbuhan kredit pada tahun 2026 akan tetap berada di kisaran 8-12%, dipengaruhi oleh sisi permintaan dan penawaran. Data ini menegaskan bahwa meski kredit investasi meningkat, masih ada kebutuhan untuk menyesuaikan kebijakan guna memastikan aliran kredit mendukung produksi nyata dan penciptaan lapangan kerja.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
PPh Final 0,5% Permanen, PT Non‑Perorangan Dikeluarkan
Dolar AS Beruat Rp 18.000, Rupiah Terdampak Kuat Pada Hari
Pedagang Valas Kaki Lima di Jalan Kwitang Terima Dolar Rusak
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
AS Pasang Tarif 10‑12,5% ke Barang Indonesia dan 59 Negara
Berita Terbaru
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Perpres No.27 2026: Potongan Ojek Online 8% Belum Berlaku
Brasil Bayar 203 Miliar Rupiah ke Ancelotti, Piala 2026
PPh Final 0,5% Permanen, PT Non‑Perorangan Dikeluarkan
