Kresek Hitam di Idul Adha: Risiko dan Solusi Pakai Daun Pisang

Endah K. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 86 dibaca
Bisik.id
Kresek Hitam di Idul Adha: Risiko dan Solusi Pakai Daun Pisang

Gambar atau konten salah?

Idul Adha menandai tradisi kurban di Indonesia. Pada perayaan ini, daging hewan kurban biasanya dibungkus sebelum disajikan. Meski plastik kresek hitam sering dipakai, bahan ini tidak termasuk food grade, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang keamanan pangan.

Di beberapa wilayah, kresek hitam tetap menjadi pilihan karena mudah didapat dan murah. Namun, pemerintah sudah menetapkan standar untuk kemasan makanan. Masyarakat, khususnya panitia kurban, semakin sadar akan risiko tersebut dan mulai beralih ke bahan alami seperti daun pisang atau besek.

Dr. Andhika Rachman SpPD-KHOM, seorang spesialis penyakit dalam dan konsultan hematologi-onkologi, menanggapi situasi ini. Ia mengatakan bahwa jika penggunaan plastik non‑food grade terpaksa, tidak masalah asalkan daging segera dipindahkan ke wadah yang aman.

“Itu kan sebentar, artinya nggak lama‑lama. Nggak berhari‑hari dan interaksinya ketika dia panas dan sebagainya, memuai, baru kita akan lihat bagaimana senyawa itu berinteraksi dengan di dalamnya,” kata dr Andhika ketika berbincang dengan detikcom di sela‑sela 6th Siloam Oncology Summit di Shangri‑La Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu (23 Mei 2026).

Ia menambahkan bahwa biasanya daging kurban segera dipindahkan atau bahkan langsung diolah ketika sampai di rumah. “Yang kita tahu kan setiap habis ngambil (daging kurban), dibagi, kemudian nggak usah jauh‑jauh, di hari itu juga, di sore hari atau malam hari sudah diambil, sudah diproses,” katanya.

Menurut dr Andhika, risiko kesehatan akibat kontaminasi plastik non‑food grade relatif kecil jika kontak bersifat singkat. Namun, risiko yang lebih besar muncul saat proses pengolahan. Membakar daging sampai gosong atau mengonsumsi daging olahan berpotensi memicu kanker lebih tinggi dibandingkan kontak singkat dengan plastik.

“Daging merah sebenarnya tidak menyebabkan kanker. Tapi pengolahan yang salah, artinya dibakar sampai gosong, atau kebanyakan makan daging merah lebih dari sekilo seminggu seperti pada pasien diet ketofastosis untuk menurunkan berat badan misalnya,” terang dr Andhika.

Ia juga menyoroti tiga faktor risiko lain. “Atau yang ketiga, terlalu banyak makan yang di kaleng. Karena lama‑lama dia akan bersenyawa, karena dia memang potensial. Kemudian makan makanan yang preserved food, contoh nugget dan sebagainya. Lamanya dia disimpan, itu yang bikin kanker,” tegas dr Andhika.

Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, profesor teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), menegaskan adanya risiko kontaminasi plastik non‑food grade. Ia berkata, “Banyak plastik yang beredar, yang kresek hitam itu, bukan food grade. Artinya kalau dia kontak dengan makanan maka komponen dari plastik itu pun, yang digunakan untuk membuat plastik akan terlucuti dan masuk ke dalam makanan.”

Penjelasan Prof. Purwiyatno menekankan bahwa bahan dianggap food grade ketika tidak memindahkan zat berbahaya ke dalam makanan. Plastik kresek hitam biasanya berasal dari daur ulang, seringkali tidak diketahui asal-usulnya. Bisa jadi berasal dari wadah pestisida, limbah, atau logam berat.

Komposisi utama kresek hitam adalah polivinil klorida (PVC), yang secara internasional dianggap zat berbahaya bagi kesehatan. Karena itu, plastik berbahan ini tidak boleh digunakan langsung pada makanan jenis apapun.

Dalam konteks Idul Adha, meski plastik kresek hitam masih banyak digunakan, kesadaran akan risiko kesehatan mendorong panitia kurban untuk beralih ke bahan alami. Penggunaan plastik non‑food grade tetap dapat dipertahankan selama daging segera dipindahkan ke wadah aman dan proses pengolahan dilakukan dengan benar. Hal ini menegaskan pentingnya tindakan sederhana namun efektif dalam menjaga keamanan pangan.

Idul AdhaKurbanPlastik Kresek HitamFood GradeRisiko KesehatanBahan AlamiPolivinil Klorida

Komentar

Memuat komentar...