Kusnandar Bangun Hidroponik Selada 1 Kwintal di Pangandaran
Gambar atau konten salah?
Kusnandar berusia 28 tahun tinggal di Pangandaran, dan ia memutuskan untuk menanam sayur di lahan kosong di belakang rumahnya. Ia memilih hidroponik, sebuah cara menanam tanpa tanah, yang kini mulai menghasilkan panen.
Perjalanan dimulai pada 2025 ketika program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang bagi sayuran. Lihat potensi itu, Kusnandar memanfaatkan lahan yang ada dan menanam selada secara hidroponik. Ia belajar sendiri lewat video di YouTube, dan usahanya mulai dari satu papan tanam sederhana.
Seiring berjalannya waktu, usaha kecil itu tumbuh. Melalui kelompok Taruna Tani Mekar Bayu, ia mengajak pemuda setempat untuk terlibat dalam pertanian modern, khususnya budidaya hidroponik. Selada dipilih karena permintaan pasar lokal cukup tinggi dan stabil. “Alasan menanam seladah dengan sistem hidroponik karena metode ini dinilai lebih efisien ramah lingkungan dan mampu menghasilkan produk yang lebih bersih segar serta berkualitas tinggi,” ucap Kusnandar belum lama ini.
Hasil panen yang baik membuat selada hidroponik miliknya diminati berbagai pihak, mulai dari dapur hingga pedagang pasar. “Karena bagus kualitasnya dan tidak terlalu banyak yang dibuang,” katanya. Namun, awalnya ia kesulitan menemukan pembeli karena keterbatasan jaringan dan kepercayaan pasar. “Dulu mah buat kebutuhan sendiri, paling yang beli tetangga,” ujarnya.
Perubahan mulai terjadi ketika ia mencoba menawarkan produknya ke dapur program MBG. Respons positif menjadi titik balik. Permintaan meningkat, dan Kusnandar memperluas skala produksi dengan membentuk kelompok tani. “Setelah itu saya bangun kelompok tani biar pemberdayaan warga setempat,” ia jelaskan.
Kelompoknya kini mampu memproduksi lebih dari 1 kwintal selada setiap hari. Sistem hidroponik yang digunakan memungkinkan panen bergilir karena usia tanam berbeda. “Alhamdulillah sekali kirim kelompok kami bisa mencapai 1 kwintal, dengan masa panen sehari sekali, karena usia sebidang hidroponiknya beda-beda bisa tiap hari panen,” terangnya.
Meski demikian, permintaan pasar sebenarnya mencapai 2 kuintal per hari, sementara kapasitas produksi mereka baru mampu memenuhi setengahnya. Hasil penjualan tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga diinvestasikan kembali untuk pengembangan usaha, termasuk perbaikan fasilitas dan pembagian hasil kepada anggota kelompok. “Perbaikan-perbaikan fasilitas hidroponik dan honor kelompok, kita bagi hasil rata,” ia menambahkan.
Kusnandar mengajak generasi muda untuk tidak terpaku pada stigma terhadap dunia pertanian. Menurutnya, setiap usaha memiliki peluang berkembang jika dijalani dengan kesungguhan. “Karena saya pikir, kita tidak akan tahu usaha mana yang kita kerjakan dan membawa keberkahan,” ucapnya.
Secara kasat mata, selada hidroponik tampak lebih segar dan bersih karena tidak bersentuhan langsung dengan tanah, melainkan menggunakan media tanam khusus. Saat ini, terdapat dua greenhouse yang dikelola oleh delapan warga lokal di Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.
Untuk memperluas sumber pendapatan, Kusnandar bersama kelompoknya juga mulai mengembangkan budidaya komoditas lain seperti anggur, tomat, dan timun dengan metode hidroponik. Upaya ini menjadi langkah lanjutan dalam membangun pertanian modern yang berkelanjutan di tingkat desa.
Dengan pendekatan sederhana namun terencana, Kusnandar menunjukkan bahwa pertanian modern tidak harus mahal atau rumit. Ia memanfaatkan teknologi yang mudah diakses, melibatkan komunitas, dan terus memperbaiki fasilitas. Hasilnya, produksi selada meningkat, pasar terjaga, dan anggota kelompok mendapatkan penghasilan serta pelatihan yang berharga. Ini menegaskan bahwa inovasi sederhana dapat membawa perubahan positif bagi kehidupan lokal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
