Lahan Subak Denpasar Berkurang, Ancaman Ketahanan Pangan
Gambar atau konten salah?
I Ketut Suamba, Ketua Unit Subak Universitas Udayana, mengungkapkan keprihatinan atas penurunan lahan subak di Denpasar. Ia menilai bahwa sisa subak hanya 1.915 hektare yang dapat menimbulkan ancaman bagi lingkungan dan budaya.
“Subak tidak hanya menyediakan pangan beras, tetapi sangat erat kaitannya dengan aspek sosial dan budaya,” ujar Suamba. Ia menekankan bahwa subak memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat.
Suamba menegaskan bahwa ketahanan pangan, khususnya beras di Denpasar, akan terancam bila luas subak terus berkurang. “Apalagi sekarang arahnya sudah kedaulatan pangan yang berarti ketersediaan mencukupi, terjangkau dan dihasilkan sendiri khususnya Bali termasuk Kota Denpasar,” jelasnya.
Ia menyerukan agar Pemerintah Kota Denpasar menerapkan hasil analisis Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang dituangkan dalam LSD dan Pergub. “Tetap dilakukan subsidi terhadap input, bahkan juga terhadap output dan juga sinergi subak dalam pengembangan pariwisata dalam bentuk agrowisata atau agroekowisata,” tutur Suamba.
Data menunjukkan bahwa luas lahan subak aktif di Denpasar kini tersisa sekitar 1.915 hektare dari total 42 subak yang tersebar di empat kecamatan. Lahan tersebut mencakup area persawahan dan perkebunan hortikultura yang masih produktif.
Menurut Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Denpasar, AA Gde Bayu Brahmasta, “Itu termasuk sawah dan tanaman hortikultura, bukan sawah saja. Yang kami catat yang aktif yang tentu masih bisa ditanam untuk kami beri bantuan, bantuannya beragam, bisa bibit seperti itu,” katanya saat dikonfirmasi pada 13 Mei 2026.
Distan menyebutkan bahwa area subak yang mulai kritis berada di Denpasar Selatan dan Denpasar Utara, akibat pembangunan permukiman. Saat ini terdapat 8 subak di Denpasar Barat, 10 di Denpasar Selatan, 10 di Denpasar Utara, dan 14 di Denpasar Timur.
Pengawasan keberlangsungan subak dilakukan oleh desa/kelurahan setempat bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Denpasar.
Subak, sistem pertanian tradisional yang mengatur irigasi dan kebijakan bersama, kini menghadapi tekanan pembangunan. Penurunan luas subak dapat mengurangi produksi beras dan mengikis nilai budaya yang melekat pada komunitas lokal. Menjaga dan memperkuat subak menjadi langkah penting untuk mempertahankan ketahanan pangan serta warisan budaya Denpasar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
Cuaca cerah berawan Bali, hujan ringan Badung Denpasar
Kamis 04 Juni 2026: Hari Ala Ayuning Dewasa, Waktu Lahan
Badung Bangun Tempat Penampungan Sampah B3 di Mengwitani
SMPN 5 Pupuan, Disdik Tabanan Atasi Rendahnya Siswa
Berita Terbaru
Gempa Magnitudo 3,1 Guncang Padangsidimpuan, Sumut
Mortir Perang Dunia II Ditemukan di Jayapura, Papua, Risiko
Rupiah Jatuh 14.000, Pasar Saham Turun 4.1%, Risiko Kredit
Timnas U‑19 Siap Hadapi Timor Leste, Kaka Fokus Evaluasi
Pasangan Adnan-Indah Kalah 18‑21, China Laju ke 16 Besar
Operasi Benjolan Bahu Raffi Ahmad, Dorong Pemeriksaan Rutin
122 Program Studi Tutup Akhir 2026, Menteri Jelaskan Alasan
Telur Ceplok Balado Jadi Pilihan Pagi di Rumah
Kemenpar Luncurkan Program Penertiban Akomodasi 2026
