Lebaran Ketupat 2026: Tradisi Satu Minggu Setelah Idul Fitri

Rizki W. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 93 dibaca
Bisik.id
Lebaran Ketupat 2026: Tradisi Satu Minggu Setelah Idul Fitri

Gambar atau konten salah?

Lebaran Ketupat 2026 akan dirayakan pada Sabtu, 28 Maret 2026, tepat satu minggu setelah Idul Fitri. Tradisi ini biasanya menandai hari ketujuh setelah 1 Syawal 1447 H yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Pada hari itu, umat Muslim menyelesaikan puasa sunah enam hari di bulan Syawal, lalu menutupnya dengan perayaan ketupat.

Lebaran Ketupat bukanlah ibadah wajib dalam Islam, melainkan sebuah tradisi budaya yang telah menyebar luas di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Tradisi ini juga dikenal dengan sebutan Syawalan atau bakda kupat. Pada hari ini, keluarga dan masyarakat berkumpul, berdoa, dan menikmati ketupat sebagai simbol kebersamaan serta rasa syukur.

Menurut laman resmi NU Online, asal usul tradisi ini berkaitan dengan Sunan Kalijaga. Ia tidak menghapus tradisi lama, melainkan menambahkan nilai-nilai Islam seperti rasa syukur, sedekah, dan pentingnya menjaga hubungan antar sesama. Sunan Kalijaga menyisipkan ketupat ke dalam budaya slametan, sehingga ketupat menjadi media dakwah yang dekat dengan kehidupan sehari‑hari. Seiring waktu, ketupat dikenal juga sebagai bakda kupat, istilah yang berasal dari ungkapan Jawa “ngaku lepat” yang artinya mengakui kesalahan.

Di momen Lebaran Ketupat, orang-orang tidak hanya berkumpul dan makan bersama. Mereka saling meminta maaf dan memulai kembali dengan hati yang lebih ringan. Ketupat pun menjadi simbol keikhlasan untuk memaafkan. Sejarawan Agus Sunyoto menambahkan bahwa tradisi ini semakin kuat karena selaras dengan ajaran Islam, khususnya puasa enam hari di bulan Syawal. Setelah menyelesaikan puasa Ramadan, umat Muslim melanjutkan puasa sunah, lalu menutupnya dengan perayaan ketupat di hari ketujuh.

Setiap bagian ketupat memiliki makna mendalam. Anyaman janur yang rumit melambangkan kesalahan manusia yang berlapis‑lapis. Namun begitu dibuka, isinya justru nasi putih bersih, simbol bahwa manusia dapat kembali suci setelah saling memaafkan. Bentuk ketupat menyerupai segi empat juga memiliki makna tersendiri dalam filosofi Jawa, yaitu kiblat papat lima pancer, yang berarti ke mana pun manusia melangkah, pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.

Hidangan pelengkap ketupat biasanya berupa opor ayam bersantan. Dalam bahasa Jawa, “santen” dimaknai sebagai “pangapunten” atau permohonan maaf. Jadi, saat Lebaran Ketupat, seluruh sajian di meja seperti menceritakan tentang kesalahan, maaf, dan harapan untuk memulai lagi.

Berbagai daerah di Jawa Timur menampilkan tradisi Lebaran Ketupat dengan cara yang unik. Berikut beberapa contoh:

  • Mojokerto – Kirab gunungan ketupat. Ketupat disusun membentuk gunungan besar yang kemudian diarak oleh warga menuju alun‑alun kota. Prosesi ini diiringi kesenian tradisional dan pakaian adat. Setelah arak‑arakan selesai, gunungan diperebutkan oleh masyarakat, yang percaya membawa ketupat akan membawa berkah bagi keluarga.
  • Pasuruan – Larung ketupat. Di beberapa desa nelayan, ketupat, hasil bumi, dan makanan tradisional disusun menjadi sesaji yang kemudian dilarutkan ke laut. Ritual ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil laut dan doa keselamatan para nelayan. Acara dimulai dengan doa bersama, lalu rombongan perahu membawa sesaji ke tengah laut. Selama larung, biasanya ada pertunjukan musik tradisional, pasar rakyat, dan lomba‑lomba warga.
  • Gresik – Selametan desa. Masyarakat berkumpul di masjid, musala, atau balai desa dengan membawa ketupat dan lauk‑pauk. Acara diawali doa bersama, lalu semua makan bersama dalam suasana keakraban.
  • Bangkalan – Festival kupatan. Di sini, ketupat dihias dengan warna‑warna cerah dan disusun kreatif untuk ikut serta dalam kirab budaya epik. Jalanan dipenuhi warga yang berjalan bersama, diiringi musik tradisional, tarian daerah, dan pertunjukan khas Madura, menciptakan suasana yang meriah.

Lebaran Ketupat 2026 menegaskan bahwa tradisi ini lebih dari sekadar makanan. Ia menyatukan nilai-nilai Islam, kebudayaan Jawa, dan rasa kebersamaan. Setiap daerah menambahkan nuansa lokalnya, namun inti pesan tetap sama: bersyukur, memaafkan, dan memulai lagi dengan hati bersih.

Lebaran KetupatSyawalSunan KalijagaKetupatTradisi Budaya JawaPuasa Sunah Enam HariOpor AyamMemaafkan

Komentar

Memuat komentar...