Lebaran Palembang: Sanjo, Kue Maksuba, dan Kearifan Lokal

Ayu W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 43 dibaca
Bisik.id
Lebaran Palembang: Sanjo, Kue Maksuba, dan Kearifan Lokal

Gambar atau konten salah?

Idul Fitri di Kota Palembang memiliki nuansa yang berbeda dari daerah lain. Masyarakat Palembang menegaskan kebersamaan melalui tradisi dan kuliner khas yang melekat pada perayaan hari kemenangan.

Di meja makan, tidak ada pemisah antara yang kaya dan yang miskin. Seorang pengusaha besar dan penarik becak saja bisa bertukar ketupat, opor ayam, bebek, rendang, pempek, dan kue basah atau kering. Semangat berbagi berlangsung sepanjang minggu, membuka rumah bagi siapa saja yang ingin bersilaturahmi.

Berikut contoh hidangan utama yang biasanya disajikan: ketupat, opor ayam, bebek, rendang daging sapi, pempek, dan beragam kue basah serta kering. Semua diatur agar tamu merasakan rasa kebersamaan.

Perayaan ini tak hanya spiritual, namun juga memerlukan biaya. Perkiraan kebutuhan keluarga dengan dua anak minimal Rp 5 juta, termasuk: Rp 1,5 juta untuk bahan dapur, Rp 2 juta untuk pakaian baru, dan Rp 1 juta tambahan untuk THR dan transportasi ke rumah kerabat.

Berbagai tradisi menambah makna Lebaran di Palembang. Berikut rincian tradisi yang masih lestari: Sanjo, Munjung, Rumpak‑Rumpakan, Masak Bersama, Ziarah Kubur, Takbiran, dan Kue Mewah.

  • Sanjo – tradisi bertamu setelah shalat Id. Tamu mengunjungi rumah, biasanya menyiapkan hidangan terbaik.
  • Munjung – mengantar makanan satu hari sebelum Lebaran. Makanan dibawa oleh menantu atau adik ke rumah mertua.
  • Rumpak‑Rumpakan – perkelahian musik dan tarian di beberapa kawasan, di mana anak-anak mendapatkan uang saku dari tiap rumah.
  • Masak Bersama – laki‑laki turut membantu menyalakan api dan memasak ketupat, rendang, dan malbi.
  • Ziarah Kubur – membersihkan makam dan mendoakan leluhur sebelum atau pada hari Lebaran.
  • Takbiran – suara takbir diiringi obor, bedug, atau mobil bak terbuka mengisi jalanan.
  • Kue Mewah – dua kue legendaris, Maksuba dan Kue Delapan Jam, menjadi simbol prestise. Maksuba bisa mencapai Rp 280 000 per loyang, sedangkan Kue Delapan Jam memerlukan proses pengukusan 8 jam.

Tradisi Lebaran di Palembang mencerminkan perpaduan ajaran agama, kearifan lokal, dan nilai sosial. Dari makanan hingga takbiran, setiap unsur menambah kehidupan hari raya yang unik.

Ringkasan: Idul Fitri di Palembang menonjolkan kebersamaan tanpa batas kelas sosial, menu khas yang melibatkan semua anggota keluarga, serta tradisi tradisional yang masih dipertahankan. Biaya per keluarga diperkirakan minimal Rp 5 juta, dan tradisi seperti Sanjo, Munjung, serta takbiran menjadi bagian penting perayaan.

Artikel ditulis oleh Ani Safitri, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker.

Idul Fitri Palembangtradisi Lebaransanjokue delapan jampempekketupatopor ayam

Komentar

Memuat komentar...