Liu Hanqing: Matematika Tanpa Kekayaan, Sukses Tanpa Gaji
Gambar atau konten salah?
Liu Hanqing lahir di keluarga petani miskin di Taizhou, sebuah desa di China. Kini, ia menjalani hidup sederhana di pedesaan dengan subsidi bulanan hanya 400 yuan atau sekitar Rp 1 jutaan. Meskipun hidupnya tampak sederhana, perjalanan hidupnya memuat kisah yang menarik.
Sejak kecil, Liu menunjukkan kecerdasan luar biasa. Ia mampu menghafal teks klasik dan belajar kalkulus secara otodidak pada usia 11 tahun. Pada masa SD dan SMP, ia selalu menjadi juara pertama di seluruh sekolah. "Saya selalu menjadi juara pertama di seluruh sekolah saat SD dan SMP," kenang Liu dalam wawancara tahun 01 Januari 2017.
Usia 16 tahun menandai titik balik ketika ia diterima di Institut Teknologi Harbin dengan nilai ujian masuk hampir sempurna, 398,5 dari 400. Ia memilih jurusan pemrosesan termal. "Nilai ini lebih dari 10 poin di atas standar nilai untuk universitas unggulan," ia ungkap. Pada tahun itu, 3,33 juta orang mengikuti ujian masuk universitas, namun hanya 280.000 yang diterima. Bagi pelajar pedesaan di awal 1980-an, masuk ke universitas top menjadi pencapaian luar biasa.
Keberhasilannya menjadi kebanggaan kampung halaman. Ayahnya menggelar pesta, warga berkumpul, dan mereka mengantarkannya ke universitas dengan perahu sambil memukul genderang. "Tidak ada yang menyangka phoenix emas bisa terbang dari desa kecil kita," kata kepala desa pada saat itu.
Di kampus, Liu menjadi mahasiswa termuda di kelasnya. Dosen menaruh harapan besar padanya. Namun, pada tahun ketiga, ia membaca tentang matematikawan China, Chen Jingrun, yang memecahkan sebagian dari Konjektur Goldbach. Liu menjadi terobsesi. Sejak saat itu, ia mengabaikan kuliah jurusannya dan bertekad melampaui pencapaian Chen. Ia tidur dua jam sehari dan menghabiskan hampir seluruh waktunya di perpustakaan.
Universitas mengizinkannya bekerja paruh waktu di departemen matematika, sementara para profesor memantau risetnya. Namun, ditemukan kelemahan mendasar dalam logikanya dan metode yang digunakannya tidak memiliki fondasi kuat. "Saat itu, saya tidak peduli semua itu. Saya hanya belajar sendiri dan tidak menghadiri kelas jurusan apa pun," ia katakan. Akhirnya, ia gagal lulus dan terpaksa meninggalkan universitas.
Di 01 Januari 1985, ketika banyak teman sekelasnya mendapatkan pekerjaan top, Liu kembali ke desanya. Ia tidak mencari pekerjaan, melainkan terus meneliti matematika. Awalnya, orang tuanya mendukungnya. Namun, seiring berjalannya waktu, keyakinan itu memudar. Selama tiga dekade berikutnya, Liu hanya menghasilkan satu makalah akademik.
Temannya mengunggah makalah tersebut di media sosial luar negeri. Seorang pemegang gelar PhD matematika asal Finlandia melaporkan bahwa karya itu terlalu banyak kesalahannya sehingga tidak layak menjadi makalah ilmiah.
Menjelang 01 Januari 2007, kesehatan Liu memburuk dan ia tidak lagi sanggup begadang untuk melanjutkan pekerjaannya. Di 01 Januari 2008, sekolah setempat mengundangnya untuk mengajar SD, tapi ia menolak karena kesehatannya.
Ia kini tinggal di rumah tua yang mulai hancur dengan sedikit barang berharga. Beberapa tahun lalu, pihak desa membantunya mengajukan tunjangan. Pada 01 Januari 2017, mantan teman-teman sekelasnya menggalang dana untuk memperbaiki rumahnya, membelikannya ponsel, dan memasang internet.
Kisahnya baru-baru ini kembali viral di media sosial China. Sebagian orang menggambarkannya sebagai pria yang termakan obsesi. Sementara yang lain memandangnya sebagai sosok yang menghabiskan puluhan tahun untuk mengejar ilmu tanpa memedulikan kekayaan ataupun status.
Ketika ditanya apakah ia menganggap dirinya sukses, Liu memberikan jawaban yang tenang. "Apa itu sukses? Apakah memiliki uang dan karier berarti sukses?" ucapnya. "Saya rasa jika Anda pandai dalam matematika, itu bisa disebut sukses. Bagi saya, saya tidak ingin berubah. Saya mungkin tidak memiliki kekayaan materi, tetapi saya memiliki kebebasan batin," pungkasnya.
Perjalanan Liu Hanqing menyoroti bahwa pencapaian akademis dan kebahagiaan pribadi tidak selalu terkait dengan kekayaan material. Ia memilih jalur yang berbeda, memprioritaskan kebebasan batin dan dedikasi terhadap ilmu pengetahuan, meski hidupnya sederhana dan penuh tantangan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Telkom Luncurkan AIcosystem: Ekosistem AI Jakarta Nusantara
Lazada Ungkap Produk Terlaris Libur Sekolah + Diskon 6.6
Fabiola Terjebak, Scammer Internasional Jangkau Sukoharjo
Ariston Luncurkan Pemanas Air Andris 3, Kamar Mandi Smart
Cisco Luncurkan Foundry Security Spec untuk Keamanan AI
Fabiola Pimpin Scam Internasional dengan Video Call Online
Berita Terbaru
Gaji Tertinggi Pelatih Tim Nasional: Ancelotti Rp 182,2 M
Telkom Luncurkan AIcosystem: Ekosistem AI Jakarta Nusantara
Mengajar di Ponpes Cipasung: Santri Kuasai Konten Digital
Indonesia 108 GW, 85% Fosil, 15% Terbarukan, Target Tercapai
IHSG Tutup 5.839,78, Garuda Naik Setelah Jatuh Pasar
Fiskal Indonesia Aman: Defisit APBN 0,7% PDB, Purbaya
