Lucky Cup: 10.000 Gerai, Jaringan Kopi Tiongkok Terbesar
Gambar atau konten salah?
Lucky Cup adalah merek kopi yang baru muncul di panggung global, namun sudah menorehkan jejak besar di Tiongkok. Perusahaan asal China, Mixue Group, yang dikenal lewat jaringan es krim dan bubble tea murah, memanfaatkan sistem logistik dan operasionalnya untuk meluncurkan Lucky Cup pada tahun 2017.
Mixue Group kini menjadi salah satu jaringan F&B terbesar di dunia. Menurut data yang pernah dipublikasikan, pada tahun 2025 perusahaan ini memiliki lebih dari 45.000 gerai di berbagai negara, dengan mayoritas berada di Tiongkok. Keberhasilan ini memberi fondasi kuat bagi Lucky Cup untuk memperluas bisnis kopi.
Dalam kurang dari satu dekade, Lucky Cup berhasil membuka lebih dari 10.000 gerai di Tiongkok. Angka ini menempatkan Lucky Cup sebagai salah satu jaringan kopi terbesar di negara tersebut, hanya tertinggal di belakang Luckin Coffee dan Cotti Coffee yang sudah lama beroperasi.
Kecepatan ekspansi ini terlihat jelas ketika Lucky Cup mampu menambah lebih dari 1.000 gerai hanya dalam satu bulan. Strategi ini didukung oleh model bisnis franchise yang diterapkan sejak 2020, memungkinkan pertumbuhan tanpa menanggung seluruh biaya ekspansi.
Harga menjadi salah satu kunci kesuksesan Lucky Cup. Produk kopi mereka dijual di kisaran 6-8 yuan atau sekitar Rp 15.100 - Rp 20.300. Harga ini jauh lebih rendah dibandingkan banyak merek kopi lain di Tiongkok. Fokusnya adalah menjadikan kopi sebagai minuman sehari-hari yang terjangkau, bukan lagi produk premium.
Target pasar Lucky Cup meliputi pelajar, pekerja, dan warga lokal yang sensitif terhadap harga. Meskipun harganya murah, Lucky Cup tetap menguntungkan berkat biaya produksi yang efisien, didukung oleh rantai pasok Mixue yang terintegrasi. Konsep franchisenya memungkinkan pemilik gerai lokal mengelola usaha dengan modal lebih kecil.
Lucky Cup kini hadir di lebih dari 300 kota di Tiongkok. Pada awal tahun 2025, perusahaan mulai membuka gerai di luar negeri, termasuk di Malaysia. Beberapa negara di Asia Tenggara juga menjadi target ekspansi berikutnya.
Keberhasilan Lucky Cup tidak lepas dari filosofi Mixue yang menekankan harga terjangkau. Filosofi ini diterapkan secara konsisten di semua gerai, baik di Tiongkok maupun di luar negeri. Sistem operasional yang sudah matang membantu menjaga kualitas produk sekaligus meminimalkan biaya.
Ekspansi yang agresif ini menunjukkan bahwa Lucky Cup tidak hanya sekadar meniru tren kopi global, tetapi juga mengadaptasi model bisnis yang sesuai dengan pasar lokal. Dengan jaringan gerai yang luas dan harga yang bersaing, Lucky Cup berpotensi menjadi pemain utama di industri kopi di Asia.
Secara keseluruhan, Lucky Cup menunjukkan bagaimana sebuah merek baru dapat tumbuh dengan cepat melalui kombinasi harga terjangkau, model franchise, dan dukungan logistik yang kuat. Keberhasilan ini mungkin menjadi contoh bagi perusahaan lain yang ingin memasuki pasar kopi global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kari Minang Depok, Gyudon Jakarta, Diet Rendah Sodium Jadi Tren
Telur Ceplok Balado Jadi Pilihan Pagi di Rumah
Tahu: Protein Nabati, Rasa Martabak, Bola, Gejrot Tradisional
Kelas Memasak Mentolo dan Petulo di Jakarta: Tradisi Kue Jawa
Disney Adventure Bayar Rp106.000 Setiap Room Service
Makanan Ular di Asia: Sup Hong Kong, Sate Indonesia, dan Lagi
Berita Terbaru
Silmy Karim Serahkan Diri ke KPK, Ternyata Miliki Aset Berlimpah
Santerra De Laponte: Tujuan Foto Keluarga di Pujon Malang
Enam Pemancing Diselamatkan Setelah Perahu Terbalik Buleleng
Bernardo Silva: Barcelona & Atlético bersaing keputusan 2026
Debat Akhir HIPMI 2026: Kandidat BPP Bersaing Pasar Modal
Kari Minang Depok, Gyudon Jakarta, Diet Rendah Sodium Jadi Tren
Mourinho Jadi Pelatih Real Madrid, Bek Konate & Dumfries
