Makam Pangeran Arya Kemuning di Kuningan Dibuka untuk Ziarah

Ani R. · 4 min baca · 26 hari lalu · 85 dibaca
Bisik.id
Makam Pangeran Arya Kemuning di Kuningan Dibuka untuk Ziarah

Gambar atau konten salah?

Di kota Kuningan, Jawa Barat, tersembunyi makam adipati pertama yang pernah memerintah daerah tersebut. Makam itu adalah tempat beristirahat Pangeran Arya Kemuning, yang darahnya berasal dari keturunan China. Pangeran Arya Kemuning dikenal sebagai adipati pertama Kabupaten Kuningan, dan makamnya menjadi salah satu warisan sejarah yang paling berharga bagi masyarakat setempat.

Lokasi makam terletak di Astana Gede, Blok Cipicung, Kecamatan Kuningan. Karena berada di tengah permukiman padat, para peziarah harus menuruni gang sempit, melewati beberapa rumah warga, sebelum akhirnya sampai di area pemakaman umum. Di pintu masuk kompleks, sebuah gapura candi bentar megah berdiri kokoh, terbuat dari bata merah. Di tengah gapura, tiang bendera tinggi menjulang, menandai tempat suci. Di samping gapura, sebuah musala berfungsi sebagai tempat peribadatan. Lebih jauh, pintu besi berwarna emas menjadi akses utama menuju makam Pangeran Arya Kemuning.

Di dalam ruang makam, empat makam keramat tersusun rapi. Mereka dibangun dari bata merah dengan batu nisan yang dibalut kain putih. Empat makam tersebut menampung jenazah Pangeran Arya Kemuning, istrinya Nyi Mas Manawati, Syekh Maulana Arifin (putra Syekh Maulana Akbar), serta Pangeran Putih, kerabat dekat sang adipati. Di sisi pintu makam terpasang kode QR yang memuat informasi sejarah Pangeran Arya Kemuning. Data digital tersebut menampilkan beberapa versi asal-usul beliau.

Salah satu versi sejarah menyebutkan bahwa Pangeran Arya Kemuning memerintah pada abad ke‑15 Masehi. Ia merupakan putra Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien, seorang wanita asal China. Nama “Kemuning” diberikan karena sejak kecil ia memiliki rona kulit kekuningan, mirip dengan ciri fisik ibundanya. Menurut Indra Hermanto, juru kunci makam, pada masa itu Kuningan masih bagian dari wilayah Kerajaan Cirebon. Sunan Gunung Jati, sebagai penguasa Cirebon, melantik Pangeran Arya Kemuning sebagai adipati Kuningan pada 01 September 1498. Karena statusnya sebagai adipati pertama, tanggal pelantikan tersebut kemudian dijadikan hari jadi Kabupaten Kuningan.

Setelah prosesi pelantikan, Pangeran Arya Kemuning dikisahkan menunggangi kuda putih bernama Si Windu menuju Luragung, didampingi panglima perangnya, Ewangga. Kuda Si Windu menjadi simbol kekuatan, keberanian, ketangguhan, dan kegesitan. “Sunan Gunung Jati itu menginginkan dengan kekeluargaan, Jadi menyebarkan agama Islam itu dengan kekeluargaan, pernikahan, kemudian didudukkan posisi anak‑anaknya di mana, di mana wilayahnya itu. Nah, kebetulan anak yang dari Ong Tien untuk menghindari konflik dititipkan untuk menjadi pemimpin di Kuningan,” tutur Indra.

Selama masa kepemimpinannya, Pangeran Arya Kemuning menanggung tugas menjaga wilayah Kerajaan Cirebon dari potensi serangan Kerajaan Galuh (Kawali) yang berbatasan langsung dengan Kuningan. Selain urusan pertahanan, ia aktif mengajarkan teknik pertanian kepada masyarakat yang saat itu masih mengandalkan sistem huma atau sawah kering. Ia menginisiasi revolusi hijau dengan mengadopsi konsep pertanian dari Demak dan Mataram, yaitu sistem sawah basah yang masih dipraktikkan hingga kini. Pangeran Arya Kemuning juga memperkenalkan sumber pangan baru berupa boled atau ubi jalar. Ide ini muncul saat beliau berkunjung ke kaki Gunung Ciremai, tepatnya di Lembah Cilengkrang. Ia menemukan areuy atau bibit ubi jalar, yang kemudian dibudidayakan sebagai tanaman konsumsi masyarakat.

Pangeran Arya Kemuning wafat pada 1529. Ia dimakamkan di Astana Gede, Blok Cipicung, Kecamatan Kuningan. Menurut Indra, dahulu terdapat tradisi “Tilawatan.” Dalam tradisi ini, masyarakat berkumpul untuk membersihkan area makam, mendoakan leluhur, serta makan bersama guna mempererat tali silaturahmi. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut kini tidak lagi dilaksanakan. “Kalau dulu itu waktu tahun 60‑an sampai 70‑an kata kakek saya suka ada tilawatan. Nah di situ orang diundang kayak Kuwu dan para ulama itu duduk bersama dengan masyarakat, tahlilan, kemudian membacakan sejarah. Sudah membacakan sejarah itu jadi tukeran makanan itu tuker‑tuker gitu, tilawatan namanya. Tapi sekarang sudah nggak, mungkin takutnya dianggap klenik. Seringnya ada orang berziarah saja,” pungkas Indra.

Pengunjung yang datang ke makam Pangeran Arya Kemuning dapat merasakan suasana yang tenang namun penuh makna. Setiap batu nisan, setiap lapisan bata merah, dan setiap kain putih yang membalut batu nisan mengingatkan akan sejarah panjang dan warisan budaya yang masih hidup di tanah Kuningan. Kode QR di pintu makam memudahkan pengunjung untuk mempelajari cerita-cerita yang tersembunyi di balik makam ini, meski beberapa versi sejarah masih bersifat spekulatif.

Di balik gemerlap sejarah, makam ini menjadi saksi bisu perjalanan bangsa Indonesia yang pernah dipengaruhi oleh budaya dan etnis asing. Pangeran Arya Kemuning, dengan darah China, menjadi contoh bagaimana integrasi budaya dapat memperkaya identitas lokal. Ia tidak hanya memimpin, tetapi juga memperkenalkan inovasi pertanian yang masih relevan hingga kini. Tradisi “Tilawatan” yang pernah ada menandakan betapa pentingnya hubungan sosial dan spiritual bagi masyarakat Kuningan.

Makmal Pangeran Arya Kemuning kini menjadi tempat ziarah bagi warga yang ingin mengenang sejarah, sekaligus tempat bagi generasi muda untuk belajar tentang nilai-nilai kepemimpinan, keberanian, dan inovasi. Meskipun tradisi lama telah berubah, warisan budaya tetap hidup melalui cerita yang diceritakan oleh para penjaga makam dan pengunjung yang datang. Makam ini bukan hanya sekadar tempat beristirahat, melainkan juga ruang bagi refleksi tentang perjalanan sejarah, identitas, dan kebudayaan yang terus berkembang di Kuningan.

Pangeran Arya KemuningMakam KuninganKuninganKerajaan CirebonIntegrasi BudayaTradisi TilawatanWarisan Sejarah

Komentar

Memuat komentar...