Manicure UV Lamp 18 Tahun Menyebabkan Kanker Kulit Awal

Sinta R. · 2 min baca · 5 hari lalu · 45 dibaca
Bisik.id
Manicure UV Lamp 18 Tahun Menyebabkan Kanker Kulit Awal

Gambar atau konten salah?

Seorang wanita berusia 52 tahun pernah rutin melakukan manicure dengan lampu UV nail lamp setiap 3 minggu selama 18 tahun di sebuah salon kecantikan. Ia tidak pernah menyadari bahwa kebiasaan tersebut dapat menimbulkan risiko bagi kulitnya.

Beberapa tahun kemudian, pada 29 Mei 2026, ia mulai mencatat munculnya lesi kulit di punggung tangan dan kaki. Menurut catatan dokter yang menulis di Threads, “Dalam satu tahun terakhir, pasien yang tidak disebutkan identitasnya itu mulai mengalami banyak benjolan kecil kemerahan yang menebal, kasar, dan bersisik di punggung tangannya,” jelasnya. Dokter tersebut tidak menyebutkan nama pasien, namun ia menegaskan bahwa kondisi tersebut serius.

Untuk memeriksa lebih lanjut, tiga lesi di punggung tangan pasien diambil untuk biopsi. Hasilnya, “Tiga lesi di punggung tangan pasien diambil untuk biopsi. Hasilnya, dua lesi sudah termasuk kanker kulit tahap sangat awal (SCC in situ), satu lesi lain termasuk actinic keratosis (AK) yang merupakan lesi prakanker akibat paparan UV,” tertera pada postingan tersebut. Dokter juga menemukan lebih dari 25 lesi prakanker di area tersebut.

Dr. I Gusti Nyoman Darmaputra, SpDVE, SubspOBK, FINSDV, FAADV, seorang spesialis kulit dan kelamin, menanggapi kasus ini. Ia mengatakan, “Namun, penggunaan UV nail lamp secara rutin setiap 3 minggu selama 18 tahun kemungkinan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap akumulasi paparan UV pada punggung tangan.” Menurutnya, meski belum ada bukti pasti bahwa lampu UV nail lamp menjadi penyebab tunggal, paparan berulang dapat menambah risiko.

Dr. Darmaputra menambahkan, “Temuan AK sendiri merupakan tanda kerusakan kulit akibat paparan UV kronis.” Ia menekankan bahwa pasien dengan kulit terang atau fototipe Fitzpatrick I-II lebih rentan terhadap kerusakan DNA akibat sinar UV karena melanin yang lebih sedikit. Ia juga menjelaskan bahwa sebagian besar UV nail lamp memancarkan sinar UVA (UV A) yang risikonya relatif lebih rendah dibandingkan paparan sinar matahari langsung.

Namun, ia memperingatkan, “Tetapi, paparan berulang dalam jangka panjang tetap berpotensi menyebabkan photoaging, pigmentasi, dan kerusakan DNA kumulatif.” Dengan kata lain, meski lampu UV nail lamp tidak sekuat sinar matahari, penggunaan berulang dapat menimbulkan efek negatif seiring waktu.

Kasus ini menyoroti pentingnya kesadaran akan risiko paparan UV, baik dari sinar matahari maupun perangkat kecantikan. Meskipun belum ada konfirmasi definitif, dokter menekankan perlunya pemeriksaan rutin bagi mereka yang menggunakan lampu UV nail lamp secara teratur.

lampu UV nail lamppaparan UVkanker kulitactinic keratosisphotoagingfototipe Fitzpatrickdermatologi

Komentar

Memuat komentar...