Mantan Chef Inggris Buka Warung All You Can Eat di Kedah
Gambar atau konten salah?
Seorang mantan chef yang pernah bekerja di Inggris memutuskan kembali ke kampung halamannya di Kedah, Malaysia. Ia membuka warung sederhana yang menawarkan makanan sepuasnya dengan harga sangat terjangkau.
Nicky, berusia 51 tahun, memiliki pengalaman bekerja di restoran dan hotel di Inggris serta pernah memasak di dapur hotel di Singapura. Setelah ayahnya sakit dan meninggal, ia memilih pulang untuk merawat ibunya dan memikirkan cara berbagi kepada orang lain.
Pengalaman di dapur profesional memberi Nicky kemampuan mengolah makanan dalam jumlah besar tanpa mengurangi kualitas. Ia memutuskan tidak membuka restoran mewah, melainkan warung yang mudah diakses oleh semua kalangan.
Konsep warung ini mengusung sistem All You Can Eat (AYCE). Setiap pelanggan hanya membayar 3 Ringgit Malaysia atau setara dengan Rp 13.300. Dengan harga tersebut, pelanggan dapat mengambil makanan sebanyak yang mereka inginkan.
Menu yang disajikan terdiri dari bihun, kwetiau, dan mie. Setiap hari, Nicky menghabiskan hingga 12 kilogram masing-masing bahan tersebut. Pilihan menu ini dirancang agar mudah diterima oleh pelanggan yang berasal dari berbagai latar belakang ekonomi.
Warung ini menjadi tempat favorit bagi pekerja pabrik yang gajinya di bawah upah minum. Banyak pelanggan datang untuk membeli tiga porsi sekaligus, lalu menyimpan makanan tersebut untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Ini membantu mereka menghemat biaya hidup yang semakin tinggi.
“Aku juga tumbuh dalam kondisi miskin dan menerima banyak pertolongan dari orang lain di masa lampau, sekarang aku ingin berbagi kepada masyarakat,” ujar Nicky. Ia menekankan bahwa keberuntungan setiap orang berbeda, dan ia ingin memberi kesempatan kepada yang kurang mampu.
Harga Rp 13 ribu per porsi membuat warung ini menjadi alternatif bagi mereka yang mencari makanan enak dengan biaya rendah. Meskipun harga terjangkau, kualitas makanan tetap terjaga berkat pengalaman Nicky di dapur profesional.
Dengan konsep sederhana namun efektif, warung Nicky menunjukkan bahwa solusi untuk masalah biaya hidup dapat ditemukan di tingkat lokal. Ia memanfaatkan keterampilan yang dimilikinya untuk menciptakan peluang bagi banyak orang.
15 Mei 2026, cerita Nicky menjadi contoh bagaimana pengalaman internasional dapat diadaptasi untuk membantu masyarakat di tingkat komunitas. Warungnya terus beroperasi, menunggu pelanggan yang ingin menikmati makanan sepuasnya tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kelas Memasak Mentolo dan Petulo di Jakarta: Tradisi Kue Jawa
Disney Adventure Bayar Rp106.000 Setiap Room Service
Makanan Ular di Asia: Sup Hong Kong, Sate Indonesia, dan Lagi
Han Lewat 25 Tahun di KFC, Buka Warung Ayam Mantan KFC
Zushiku: Sushi Grab‑n‑Go Menyajikan Rasa Autentik di Jakarta
Bump: Kue Protein Sehat 170 Kalori dari Montreal Fitness
Berita Terbaru
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
Curacao masuk Piala Dunia 2026, Chong satu pemain asli
Beasiswa AGRTPS 2026: 5 Slot Buka, Pendaftaran Hingga 18 Juni
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
AS Pasang Tarif 10‑12,5% ke Barang Indonesia dan 59 Negara
