Marathon Tanpa Persiapan, Rhabdomyolysis Ancam Ginjal

Fitri A. · 2 min baca · 8 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Marathon Tanpa Persiapan, Rhabdomyolysis Ancam Ginjal

Gambar atau konten salah?

Marathon dan lari jarak jauh kini bukan sekadar olahraga biasa. Banyak orang di kota-kota besar menjadikannya bagian dari rutinitas harian, bahkan gaya hidup. Tapi sayangnya, tren ini tidak selalu dibarengi dengan pemahaman medis yang memadai.

Banyak pelari pemula berpikir bahwa tekad kuat dan mental baja sudah cukup untuk menaklukkan lintasan sepanjang 42 kilometer. Kenyataannya, lebih dari sekadar kemauan keras. Ketidaktahuan dan ketidaksiapan justru bisa memicu masalah kesehatan serius.

Ancaman Rhabdomyolysis

Memaksakan tubuh melewati batas wajar di lintasan marathon tanpa persiapan matang bisa berakibat fatal. Salah satu bahaya paling nyata adalah kerusakan otot ekstrem yang disebut rhabdomyolysis.

Rhabdomyolysis adalah kondisi medis serius. Ini terjadi ketika jaringan otot rangka rusak atau mati secara cepat. Kerusakan ini menyebabkan zat-zat di dalam sel otot—seperti protein mioglobin dan elektrolit—bocor ke aliran darah. Akibatnya, bisa memicu kerusakan organ, terutama ginjal.

Pada dasarnya, olahraga memang bertujuan untuk 'merusak' otot, tapi dalam skala kecil. Saat berlari atau mengangkat beban, otot mengalami robekan mikroskopis (mikrotrauma). Saat istirahat, tubuh memperbaiki robekan ini sehingga otot tumbuh lebih kuat. Proses ini normal.

Namun, ketika olahraga dilakukan terlalu intens, dipaksakan, dan bahkan dilakukan di bawah cuaca ekstrem, proses adaptasi alami ini gagal total. Bukan robekan kecil yang membawa manfaat. Yang terjadi justru kehancuran sel-sel otot secara masif.

Tanda-tanda Kerusakan Otot yang Mengancam Ginjal

Dokter spesialis penyakit dalam, dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, mengatakan bahwa dalam konteks rhabdomyolysis, tubuh sebenarnya sudah memberikan tanda alami. Sayangnya, banyak orang yang menyepelekan dan tetap melanjutkan aktivitas.

"Dia kelelahan (akut, red). Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," kata dr Tunggul saat dihubungi pada 20 Juni 2026.

dr Tunggul menambahkan bahwa kondisi ini bisa menjadi Acute Kidney Injury (AKI) jika terlambat atau tidak ditangani dengan baik. Tanda-tandanya bisa dilihat dari warna urine.

"Acute Kidney Injury artinya mendadak. Bisa terlihat kencingnya misalnya menjadi, proteinnya banyak (tercampur) kemudian kegelapan warna kencingnya," katanya.

"Karena memang mioglobin itu, pecahan protein dari otot. Nah kalau ini cepat ditangani, sebenarnya reversible itu," sambungnya.

Risiko di Semua Olahraga Ekstrem

Kerusakan sel otot yang mengancam ginjal, menurut dr Tunggul, tidak hanya terjadi di olahraga lari. Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi seperti Hyrox juga berisiko serupa jika tidak diimbangi dengan kesadaran untuk memahami dan mendengarkan sinyal-sinyal tubuh.

"Menurut saya, itu (hyrox) termasuk risk juga itu. Kan itu berarti penggunaan otot yang masif juga," katanya.

Untuk menghindari atau setidaknya meminimalkan risiko kerusakan otot yang mengancam ginjal, dr Tunggul mengatakan perlunya pemanasan yang baik dan hidrasi cukup.

"Pemanasannya menjadi kunci juga. Jadi warming up-nya, makannya seluruh olahraga berat itu kan di-warming up dulu, apalagi olahraga berat," katanya.

"Tentu cukup minum, harus malah lebih saya kira," tutupnya.

Intinya, tren lari marathon dan olahraga ekstrem lainnya memang menarik. Tapi jangan lupa bahwa tubuh punya batas. Memahami sinyal kelelahan, melakukan pemanasan, dan menjaga hidrasi bukan sekadar saran—itu bisa menyelamatkan ginjal Anda.

Marathonlari jarak jauhrhabdomyolysiskerusakan ototginjalakuthidrasipemanasan

Komentar

Memuat komentar...