Masjid Agung Garut: Sejarah Renovasi dan Perubahan Atap

Bayu K. · 1 min baca · 2 bulan lalu · 64 dibaca
Bisik.id
Masjid Agung Garut: Sejarah Renovasi dan Perubahan Atap

Gambar atau konten salah?

Masjid Agung Garut, yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Paminggir, menjadi salah satu ikon kota Swiss van Java. Lahan masjid sekitar 4.000 meter persegi.

Masjid ini didirikan pada 15 September 1813, bersamaan dengan peletakan batu pertama Garut sebagai ibu kota baru. Sejarah menyebutkan pendirian bersamaan dengan bangunan Pendopo, penjara, kantor polisi dan Babancong.

Pada abad ke-19, atap masjid berbentuk nyungcung, limas dengan alas bujur sangkar, khas masjid agung Jawa pada masa itu.

Di abad ke-20, atap tetap tajuk tetapi diperluas area utama. Pada 1 Januari 1925 ruang samping masjid juga diberi atap tajuk. Pada 1 Januari 1979 atap diubah menjadi kubah beton, kemudian pada 1 Januari 1994 kubah dirubah menyerupai kopiah.

Renovasi terbesar dilakukan pada 1 Januari 1994 oleh pemerintah. Bentuk atap diganti ala masjid Timur Tengah, satu kubah dikelilingi empat menara. Prosesnya mencakup penggunaan helikopter untuk pemasangan menara. Wartawan Sony MS menjadi saksi dan memotret proses tersebut.

Sejak 2017, masjid dikelola oleh Yayasan Masjid Agung Garut dengan Ketua Yayasan KH Aceng Irfan Nauval.

Masjid Alun-alun ini seringkali dipenuhi jemaah, terutama di bulan Ramadan. Dalam 10 hari terakhir Ramadan, jemaah dari berbagai daerah datang untuk sholat tarawih, fardhu, dan itikaf.

Ringkasan: Masjid Agung Garut, didirikan 1813, telah melalui beberapa renovasi—1925, 1979, dan 1994—yang mengubah atap menjadi kubah dengan menara. Saat ini dikelola oleh Yayasan Masjid Agung Garut dan tetap menjadi pusat ibadah, khususnya pada Ramadan.

Masjid Agung Garutrenovasiatap kubahSwiss van JavaPendopo GarutYayasan Masjid Agung GarutRamadanjemaah

Komentar

Memuat komentar...