May Day Nglundo: Kaus Marsinah Terjual Pasca Ziarah Makam

Dian P. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 52 dibaca
Bisik.id
May Day Nglundo: Kaus Marsinah Terjual Pasca Ziarah Makam

Gambar atau konten salah?

Peringatan Hari Buruh Internasional berlangsung di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk pada 01 Mei 2026. Ramainya buruh dan pengunjung yang datang berziarah ke makam Pahlawan Nasional Marsinah menjadi peluang usaha bagi warga.

Di halaman makam, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Karang Taruna Desa Nglundo membuka lapak penjualan kaus bergambar Marsinah. Dalam hitungan menit, lapak tersebut langsung diserbu pembeli. Rombongan peziarah mulai berdatangan sekitar pukul 09.30 WIB, dan dalam satu jam belasan kaus terjual.

kaus ini harga Rp100 ribu per potong. Ada beberapa warna pilihan, ada putih dan hitam dan juga sablon warna-warni,” ujar Kuni Musyayadah, Pengurus Pokdarwis Desa Nglundo.

Kuni menjelaskan bahwa kaus tersebut diproduksi secara mandiri oleh warga. “Ini kami produksi dan sablon sendiri bersama teman-teman Pokdarwis, dibantu pemuda Karang Taruna Nglundo. Alhamdulillah, responnya bagus, banyak yang membeli,” ujarnya.

Ketua Karang Taruna Desa Nglundo, Yoga Satria, menambahkan bahwa momentum May Day menjadi peluang ekonomi yang tidak disia-siakan warga. “Adanya kegiatan ziarah ini benar-benar membawa dampak bagi warga. kaus yang kami jual langsung diminati, apalagi pengunjungnya cukup banyak,” kata Yoga.

Kepala Desa Nglundo, Mohammad Ansori, menyatakan bahwa penetapan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional memberi dampak positif bagi desanya. Ia juga mengungkapkan rencana pengembangan desa wisata edukasi berbasis sejarah perjuangan Marsinah. “Pengembangan desa wisata ini akan melibatkan masyarakat secara langsung. Harapan kami, setelah Museum Marsinah diresmikan, desa kami akan semakin banyak menerima kunjungan wisata edukasi dan sejarah,” ujar Ansori.

Ansori menambahkan bahwa selain area makam, Monumen Marsinah dan Museum‑Rumah Singgah Marsinah juga menjadi titik lokasi potensial pengembangan desa wisata. Rencananya, kawasan monumen di tepi Jalan Raya Surabaya‑Solo akan dikembangkan menjadi rest area dengan stan produk unggulan warga. “Kami akan berkoordinasi dengan Pemkab Nganjuk agar rencana itu bisa terwujud dan warga desa benar-benar bisa terlibat di dalamnya,” pungkas Ansori.

Peristiwa ini menegaskan bahwa nilai sejarah dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan lokal. Dengan memadukan kegiatan ziarah, produksi barang lokal, dan rencana wisata edukasi, Desa Nglundo menunjukkan potensi ekonomi yang berkelanjutan dari warisan budaya.

Hari Buruh InternasionalPahlawan Nasional MarsinahDesa NglundoKaus MarsinahDesa Wisata EdukasiPokdarwisMuseum Marsinah

Komentar

Memuat komentar...