MBG Jadi Sumber Pendapatan bagi Relawan Miskin Penghentian BGN

Ani R. · 3 min baca · 1 jam lalu · 21 dibaca
Bisik.id
MBG Jadi Sumber Pendapatan bagi Relawan Miskin Penghentian BGN

Gambar atau konten salah?

Badan Gizi Nasional (BGN) kini menjadi pusat perhatian setelah Kepala BGN, Dadan Hindayana diberhentikan dan kemudian ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan korupsi terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di balik perdebatan publik, program tersebut ternyata memiliki dampak berbeda bagi masyarakat yang lebih miskin. Bagi sebagian warga, MBG menjadi sumber penghasilan tambahan yang membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Salah satu contoh nyata adalah Jajang Nurjaman, seorang perempuan berusia 25 tahun yang tinggal di Dusun Citutut, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Selama tujuh bulan terakhir, Jajang bekerja sebagai relawan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program MBG. Pekerjaan ini memberinya penghasilan yang selama ini sulit ia dapatkan saat masih bekerja serabutan.

Jajang mulai bekerja setiap hari dari pukul 13.00 WIB hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Bersama relawan lain, ia bertugas membersihkan peralatan makan atau ompreng yang digunakan dalam program MBG. Sebelum bergabung, kehidupannya jauh dari kata pasti. Ia mengaku hanya mengandalkan pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia pernah bekerja di jasa sablon, kadang memperbaiki motor di bengkel kecil miliknya di rumah. Namun pekerjaan itu tidak selalu mendatangkan penghasilan. “Dulu mah serabutan, penghasilannya nggak tentu, kadang ada, kadang nggak ada sama sekali,”

Jajang tidak sempat menyelesaikan pendidikan hingga lulus SMP. Karena itu, peluang mendapatkan pekerjaan tetap tidak mudah baginya. Kesempatan datang ketika ia mendengar ada pembukaan relawan dapur MBG di wilayahnya. Ia pun langsung mendaftarkan diri.

Ia mengaku sempat menunggu selama hampir tiga bulan tanpa kabar setelah menyerahkan berkas lamaran ke SPPG di wilayah Cijeungjing. “Saya daftar waktu ada dapur baru dibuka. Awalnya nunggu lama, sekitar tiga bulan nggak ada kabar. Saya kira nggak diterima. Ternyata suatu hari dihubungi lewat WhatsApp untuk ikut seleksi, alhamdulillah lolos,”

Setiap bulan, Jajang kini menerima penghasilan sekitar Rp 2,4 juta. Nilai itu menurutnya jauh lebih baik dibandingkan saat mengandalkan pekerjaan serabutan. “Kalau dibanding dulu, sekarang lebih jelas. Ada penghasilan tetap setiap bulan. Jadi bisa ngatur kebutuhan. Sedikit-sedikit bisa bantu renovasi rumah orang tua juga,”

Penghasilan tersebut bahkan membuat Jajang mulai berani merencanakan masa depannya. Ia kini tengah menabung untuk biaya menikah. “Saya anak kedua. Sekarang lagi nabung buat nikah. Kalau dulu waktu masih serabutan rasanya susah mau punya target karena penghasilannya nggak pasti,”

Selama enam bulan, Jajang sempat merantau ke Kalimantan Tengah. Ia bekerja membuat batako dan sesekali bekerja di area perkebunan sawit. Namun karena jauh dari keluarga dan penghasilannya tidak sesuai harapan, ia memutuskan pulang kampung. “Merantau pernah ke Kalimantan. Kerja batako sama sawit sekitar enam bulan. Tapi jauh dari keluarga dan akhirnya balik lagi ke Ciamis,”

Selain menjadi relawan SPPG, Jajang masih menjalankan usaha tambal ban dan bengkel kecil di rumahnya pada pagi hingga siang hari sebelum berangkat bekerja. Ia berharap program MBG tetap berjalan dalam jangka panjang karena manfaatnya sangat dirasakan masyarakat kecil. “Harapan saya program ini terus berlanjut. Soalnya bukan cuma membantu penerima manfaat, tapi juga membuka lapangan pekerjaan buat warga seperti saya,”

Orang tua Jajang, Ining, juga bersyukur anaknya kini memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang lebih pasti. Menurutnya, sebelum bekerja di dapur MBG, pendapatan Jajang sering kali tidak menentu karena bergantung pada pekerjaan serabutan. “Alhamdulillah sekarang ada penghasilan tetap. Dulu mah kadang ada uang, kadang tidak ada. Sebagai orang tua tentu senang karena anak bisa lebih mandiri,”

Ia mengenal anaknya sebagai sosok pekerja keras. Kemampuan memperbaiki motor yang dimiliki Jajang bahkan dipelajari secara otodidak sejak kecil. “Anak saya memang rajin kerja. Dari dulu suka ikut di bengkel. Belajarnya otodidak dari ayahnya. Makanya sekarang bisa buka bengkel sendiri di rumah,”

Ining berharap program MBG tetap dilanjutkan karena tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa penerima makanan bergizi, tetapi juga membantu perekonomian masyarakat yang bekerja di dalamnya. “Mudah-mudahan programnya terus ada. Banyak warga yang merasakan manfaatnya, termasuk anak saya,”

Program MBG, yang awalnya dirancang untuk menyuplai makanan bergizi bagi siswa, kini juga menjadi sumber pendapatan bagi relawan. Melalui kerja keras Jajang dan keluarga, program ini menunjukkan potensi positif di luar tujuan semula. Dengan dukungan berkelanjutan, manfaat ekonomi bagi masyarakat kecil dapat terus terwujud.

Badan Gizi NasionalDadan HindayanaMakan Bergizi Gratisrelawanpenghasilan tetapkorupsiCiamis

Komentar

Memuat komentar...