MBG Lele Mentah Viral, 45 SPPG Pamekasan Diperiksa Kebersihan
Gambar atau konten salah?
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berisi lele mentah, disiapkan dengan marinasi, menjadi viral setelah satu SMA di Pamekasan menolak hidangan tersebut. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang standar penyajian makanan bagi pelajar.
Untuk menanggapi, Satuan Tugas (Satgas) Program MBG Kabupaten Pamekasan mengumumkan temuan terbaru. Dari total 117 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut, setidaknya 45 diketahui memiliki masalah serius.
“Ini sesuai dengan hasil pemantauan bersama yang kami lakukan bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dalam sepekan terakhir ini,” ujar Sukriyanto, Ketua Satgas MBG Pamekasan, pada Kamis. Ia menambahkan bahwa pemeriksaan bersama telah mengidentifikasi berbagai kendala.
Masalah yang terungkap meliputi dapur yang kotor dan tidak memenuhi standar, serta cara penyajian makanan yang dianggap kurang hati‑hati. Selain itu, kualitas tenaga kerja menjadi sorotan. Beberapa pengelola menggunakan juru masak yang kinerjanya dinilai kurang optimal.
“Karena itu, terkait temuan pekerja SPPG yang kurang bagus ini, BGN merekomendasikan agar pengelola memberikan pelatihan teknis tentang cara menyajikan dan memasak menu makanan,” tambahnya. Rekomendasi ini menegaskan perlunya peningkatan keterampilan di lapangan.
Sukriyanto, yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Pamekasan, menegaskan bahwa pihaknya bersama BGN telah memberikan teguran langsung kepada pengelola SPPG yang bermasalah. “Intinya, kami meminta agar pengelola SPPG harus terus meningkatkan dan memberikan pelayanan terbaik. Untuk dapur yang bermasalah tersebut, harus segera memenuhi standar dari BGN,” tegasnya.
Selain itu, ditemukan juga kekurangan fasilitas pengolahan limbah. Terdapat dua SPPG yang belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). “Di Pamekasan ada dua SPPG yang belum memiliki IPAL, yakni di Desa Murtajih dan Desa Buddagan, Kecamatan Pademawu,” ungkapnya.
Sebagai tindak lanjut, BGN menghentikan sementara operasional kedua SPPG tersebut. Operasional baru akan diizinkan kembali setelah fasilitas IPAL tersedia dan memenuhi ketentuan.
Kasus ini menyoroti pentingnya program MBG dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya pelajar. Evaluasi menyeluruh diharapkan dapat memperbaiki kekurangan yang ada dan memastikan standar pelayanan yang layak.
Kesimpulannya, upaya koordinasi antara Satgas MBG, BGN, dan pengelola SPPG menjadi kunci untuk memastikan program ini berjalan sesuai tujuan, tanpa mengabaikan aspek kebersihan, kualitas tenaga kerja, dan pengelolaan limbah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Bloom Putih Anggur: Lapisan Lilin Alami, Bukan Jamur
Rasa Terbakar Dada: Penyebab Utama dan Tanda Peringatan
Minum 3‑4 Cangkir Kopi Bisa Perlambat Penuaan 5 Tahun
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Berita Terbaru
Raffi Ahmad Operasi Benjolan Bahu Setelah Haji, Tertutup
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Indonesia Open 2026: 16 Besar di Istora Senayan, Menang
Prabowo Buka Penerbangan Bandara Bandung & Yogyakarta
Messi Terima Penghargaan Putri Asturias di Kansas City
Garuda Muda vs Timor Leste: Piala AFF 2026 di Sumut
Safari Apple: Kecepatan, Baterai, dan Privasi Unggul
