Mendikdasmen: Kombinasi Pembelajaran Konvensional dan AI di Sekolah
Gambar atau konten salah?
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyatakan bahwa ia tidak khawatir dengan penggunaan mata pelajaran artificial intelligence (AI) dalam pendidikan. Menurutnya, pihaknya telah menyiapkan strategi untuk mengatasi potensi malas pada murid akibat teknologi tersebut. Teknologi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak sekolah. Oleh sebab itu, pendidikan harus dapat menyesuaikan dengan perkembangan teknologi.
Mu'ti menekankan bahwa metode pembelajaran konvensional atau tradisional tetap akan dipertahankan. Kombinasi antara metode tradisional dan teknologi akan diterapkan dalam proses belajar mengajar. "Kami akan menggabungkan model pembelajaran konvensional dengan teknologi," ujar Mu'ti dalam sebuah pernyataan.
Contoh dari penggabungan ini terlihat dalam penugasan. Mu'ti ingin mendorong murid untuk aktif menulis. Ia menjelaskan bahwa murid bisa menggunakan alat seperti interactive flat panel untuk menonton film atau video pembelajaran, tetapi mereka harus membuat ringkasan secara manual. "Murid tidak hanya mengerjakan soal, tetapi juga membaca buku dan menulis resume," tambahnya.
Selama ini, pekerjaan rumah sering kali berupa lembar kerja siswa yang bisa dikerjakan oleh orang tua atau guru privat. Dengan adanya tugas yang mengharuskan murid menulis sendiri, Mu'ti yakin bahwa PR tersebut akan dikerjakan oleh murid secara mandiri. Pendekatan ini diharapkan dapat menekankan kemampuan otentik siswa dalam berpikir dan menulis.
Mu'ti juga menjelaskan bahwa menulis tidak hanya membantu mengembangkan ide, tetapi juga melatih keterampilan motorik anak. "Menulis melibatkan lebih banyak gerakan dibandingkan menggunakan ponsel," jelasnya. Dengan pendekatan ini, diharapkan anak-anak tetap aktif bergerak.
Dalam langkah lainnya, Mu'ti telah menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) 7 Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital serta Kecerdasan Artifisial dalam pendidikan. SKB ini melibatkan tujuh kementerian dan bertujuan untuk memastikan bahwa penggunaan teknologi dan AI dalam pendidikan dilakukan dengan bijak dan sesuai dengan kesiapan siswa di berbagai jenjang pendidikan.
Mu'ti menjamin bahwa materi untuk mata pelajaran koding dan AI akan aman dan mendukung proses belajar murid, termasuk bagi mereka yang berusia di bawah 16 tahun. Dalam upaya ini, Kemendikdasmen juga memberikan pelatihan kepada guru yang mengajar mata pelajaran tersebut. Selain itu, materi pembelajaran akan disediakan secara terpusat oleh Kemendikdasmen, menjamin bahwa pengajaran yang diberikan sesuai dengan standar yang aman dan mendukung.
Dengan kombinasi pendekatan pembelajaran yang modern dan tradisional, diharapkan anak-anak dapat memperoleh keterampilan yang diperlukan di era digital ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
OSN‑K 2026: 716 Ribu Peserta SD, SMP, SMA, 21% Kenaikan SD
PMB Sekolah Swasta Gratis Buka 103 Sekolah 15 Juni 2026
Reza Sayyid Pratama Diterima UGM, Dapat Beasiswa 100%
Libur Nasional 1 Muharram 1448: Sekolah Tutup 16 Agustus
BPS RI Adakan Webinar Analisis Statistik & AI 23 Juni
Pelatihan Excel Akuntansi Reguler Batch 7: Praktis di EVL
Berita Terbaru
Belanda-Jepang 0-0 di Piala Dunia 2026, Gagal Mencetak Gol Kejuaraan
OSN‑K 2026: 716 Ribu Peserta SD, SMP, SMA, 21% Kenaikan SD
Belanda-Jepang 2-2, Jepang Unggul lewat Fair Play di Grup A
Jerman Kalahkan Curacao 7-1 di Houston, Awal Piala Dunia 2026
Brasil dan Maroko Berakhir Seri 1-1 di Piala Dunia 2026
McKennie: Piala Dunia 2026 Buka Pintu Sepak Bola AS Kini
Pantai Gading Menang 1-0 di Philadelphia, Siapkan Grup E
Jepang Balikkan Kejutan, Imbang Belanda 2-2 di Dallas World Cup
Jerman Dapat Kemenangan 7-1, Pimpin Grup E Piala Dunia
Ayyoub Bouaddi: Penyeimbang Maroko di Piala Dunia 2026
