Meninggalnya Pencipta Nasi Jinggo, Men Jinggo, di Bali

Dani L. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 72 dibaca
Bisik.id
Meninggalnya Pencipta Nasi Jinggo, Men Jinggo, di Bali

Gambar atau konten salah?

Men Jinggo, nama yang terpatri di hati pecinta kuliner Bali, baru saja menghembuskan napas terakhirnya pada 09 Mei 2026. Pencipta nasi “kucing” ini, yang dikenal luas karena kreasi nasi bungkus kecil bernama Nasi Jinggo, telah meninggalkan warisan kuliner yang masih terasa di setiap sudut pulau ini.

Nasi Jinggo, atau juga disebut nasi jenggo, pertama kali muncul pada era 1970‑1980-an. Awalnya, Men Jinggo menjualnya di kawasan Pelabuhan Sanggaran sebagai sarapan dan bekal bagi para buruh pelabuhan. Nama “Jinggo” berasal dari panggilan anaknya, Chef Henry Alexie Bloem, yang biasa dipanggil “Jenggo”. Panggilan ini terinspirasi dari judul film laga “Django” yang populer pada masa itu.

Seiring berjalannya waktu, nasi jinggo berkembang menjadi ikon kuliner Bali. Penjualnya biasanya berada di pinggir jalan, menawarkan seporsi nasi bungkus dengan harga sangat terjangkau, sekitar Rp 2.000 – Rp 5.000. Penyajiannya sederhana, menggunakan daun pisang atau kadang kertas minyak. Seporsi nasi jinggo terdiri dari nasi, lauk pauk, dan sambal. Pilihan lauknya beragam: ayam, telur, dan berbagai sayuran.

Berita duka datang ketika Men Jinggo menghembuskan napas terakhirnya. Pada 09 Mei 2026, chef Yongki Gunawan (@yongki_gunawan_kue) mengunggah pesan di Threads dan Instagram, mengabarkan bahwa Men Jinggo telah berpulang dengan tenang. Ia juga menyatakan bahwa upacara ngaben akan dilaksanakan pada 12 Mei 2026.

Berikut kutipan langsung dari unggahan chef Yongki:

“Telah Berpulang Dengan Tenang Men Jinggo seorang ibu pencipta NASI JINGGO BALI yang juga ibunda dari @henryalexiebloem ex President ICA. Acara ngaben tanggal 12 Mei. Selamat jalan Men Jinggo dan memberikan ketabahan bagi yang di tinggalkan. Semoga diterima disisi Tuhan YME. Amin,”

Chef Henry Bloem, putra Men Jinggo dan mantan presiden Indonesian Chef Association (ICA), juga turut mengungkapkan rasa duka. Ia menulis di akun Instagram pribadinya (@henryalexiebloem):

“Selamat jalan Meme, berbahagialah disana. Karyamu akan selalu dicari dan dikenang, Men Djenggo, pencipta nasi djenggo,”

Ucapan bela sungkawa juga datang dari ICA. Di Instagram story @dapuricaofficial, Chef Santo, Presiden ICA, menulis:

“Kami atas nama Keluarga Besar INDONESIAN CHEF ASSOCIATION mengucapkan bela Sungkawa atas meninggalnya Ibunda Tercinta dari chef Henry Alexie Bloem, semoga Almarhumah ditempatkan ditempat Terbaik disisiNya. Chef Santo, President of ICA,”

Chef Juna, salah satu anggota ICA, menambahkan doa di kolom komentar unggahan chef Henry:

“My Deepest Condolences Brother. May she rest in Peace,”

Berbagai pesan duka dan doa tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh Men Jinggo dalam dunia kuliner Indonesia. Nasi Jinggo, yang dulunya hanya sekadar makanan sederhana, kini menjadi simbol kebersamaan dan tradisi kuliner Bali yang terus dikenang.

Penghargaan atas warisan Men Jinggo tidak hanya datang dari para chef, tetapi juga dari masyarakat luas. Nasi Jinggo tetap menjadi pilihan favorit di pagi, sore, maupun malam hari, menegaskan bahwa rasa sederhana dapat membawa kebahagiaan bagi banyak orang.

Dengan kepergian Men Jinggo, dunia kuliner kehilangan seorang pionir. Namun, resep dan semangatnya tetap hidup, menginspirasi generasi berikutnya untuk terus menciptakan dan memelihara tradisi kuliner Bali.

Men JinggoNasi JinggoKuliner BaliWarisan KulinerNgabenICAChef Henry Bloem

Komentar

Memuat komentar...