Menteri Energi Dorong Matikan Kompor Setelah Masak

Ningsih R. · 4 min baca · 3 bulan lalu · 70 dibaca
Bisik.id
Menteri Energi Dorong Matikan Kompor Setelah Masak

Gambar atau konten salah?

Pada 27 Maret 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengangkat topik yang sering terlewatkan dalam kehidupan sehari‑hari: kebiasaan memasak di dapur. Ia menyoroti bagaimana tindakan sederhana, seperti membiarkan kompor tetap menyala setelah makanan sudah matang, dapat mempengaruhi konsumsi energi rumah tangga. Meski tidak secara eksplisit menuntut mematikan kompor, ajakannya menegaskan pentingnya menggunakan energi dengan bijak, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.

“Saya memohon, menyarankan agar ayok, kita harus memakai energi dengan bijak. Yang tidak perlu, saya sarankan jangan. Contoh, katakanlah, kalau masak pakai LPG, kalau masakannya udah masak, jangan kompornya boros,” ujar Bahlil pada hari Jumat. Ia menekankan bahwa setiap pemborosan energi, sekecil apapun, dapat menambah beban pada sistem energi nasional.

Seorang pejabat senior, M Sarmuji, Sekjen Partai Golkar, menanggapi komentar tersebut. Ia menegaskan bahwa saran Bahlil hanyalah contoh sederhana. “Itu sekedar contoh saja. Secara teknis, pelaku dapur lebih memahami bagaimana caranya. Dan tidak secara khusus urusan masak saja. Tetapi juga tentang listrik dan pemakaian energi lainnya,” jelasnya. Sarmuji menegaskan bahwa pesan tersebut tidak mengarah pada tindakan ekstrem, melainkan pada kesadaran akan efisiensi energi di rumah.

Di sisi kesehatan, membiarkan kompor menyala terlalu lama dapat menimbulkan risiko. Proses memasak berlebih dapat mengubah kandungan gizi makanan, menurunkan vitamin dan mineral, serta memicu pembentukan senyawa kimia yang berpotensi berbahaya. Selain itu, penggunaan energi yang tidak efisien juga dapat meningkatkan emisi karbon dioksida, yang berkontribusi pada perubahan iklim. Oleh karena itu, mengoptimalkan waktu memasak menjadi dua hal penting: menghemat energi dan menjaga kualitas gizi.

Ketika membahas daging, kematangan diukur dari suhu internal, bukan hanya warna atau tekstur. Menurut USDA, daging ayam harus mencapai suhu internal minimal 74°C (165°F) agar bakteri seperti Salmonella mati. Daging merah seperti sapi aman pada suhu sekitar 63°C, dengan tambahan waktu istirahat beberapa menit setelah dimasak. WHO menegaskan pentingnya memasak makanan hingga matang sempurna untuk mencegah infeksi bakteri patogen. Daging yang belum matang sempurna masih berpotensi mengandung mikroorganisme berbahaya yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan hingga keracunan makanan.

Namun, memasak terlalu lama tidak menambah keamanan, justru menurunkan kualitas nutrisi dan membuat daging menjadi kering serta keras. Sebuah studi MDPI menunjukkan bahwa pemanasan pada suhu tinggi dalam waktu lama memicu denaturasi protein seperti myosin dan actin. Protein utama ini kehilangan kemampuan menahan air, sehingga tekstur daging menjadi lebih keras dan kering. Selain itu, proses memasak berlebih juga dapat meningkatkan oksidasi lemak, membuat rasa menjadi lebih tengik dan nutrisi lemak menurun. Beberapa vitamin sensitif panas, seperti vitamin B kompleks, juga berkurang ketika daging dimasak terlalu lama.

Penelitian lain dalam jurnal NIH menegaskan bahwa metode memasak dengan suhu tinggi, seperti memanggang atau menggoreng terlalu lama, mempercepat hilangnya air dan memperkeras serat otot pada daging. Ini menjelaskan mengapa daging yang overcook sering terasa alot dan kurang juicy. Dengan kata lain, setelah mencapai tingkat kematangan yang aman, memasak daging lebih lama tidak memberikan manfaat tambahan dari sisi kesehatan. Sebaliknya, hal tersebut justru dapat menurunkan kualitas gizi sekaligus mengurangi kenikmatan saat dikonsumsi.

National Cancer Institute melaporkan bahwa memasak daging pada suhu tinggi dapat menghasilkan senyawa heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). HCA terbentuk dari reaksi kimia di dalam daging saat terpapar panas tinggi, sementara PAH muncul ketika lemak menetes ke sumber panas, menghasilkan asap yang kemudian menempel kembali pada permukaan daging. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan tinggi terhadap HCA dari daging yang dimasak hingga sangat matang atau gosong (well‑done) dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker pada manusia. Studi epidemiologi menemukan adanya hubungan dengan kanker kolorektal, payudara, dan prostat. Secara biologis, HCA juga bersifat mutagenik, yaitu dapat merusak DNA dan memicu pembentukan tumor pada studi hewan. Meski demikian, National Cancer Institute menegaskan bahwa hubungan ini bersifat asosiasi, bukan sebab‑akibat langsung, dan risikonya dipengaruhi oleh frekuensi konsumsi serta pola makan secara keseluruhan.

Bagian daging yang gosong biasanya memiliki kualitas nutrisi lebih rendah. Paparan panas berlebih merusak protein serta mengurangi kandungan vitamin tertentu. Dari sisi rasa dan tekstur, daging yang terlalu matang juga cenderung lebih kering, pahit, dan kurang nikmat dikonsumsi. Karena itu, jika menemukan bagian daging yang sudah menghitam atau gosong, sebaiknya bagian tersebut dibuang. Memasak hingga matang memang penting, tetapi menjaga agar tidak berlebihan menjadi kunci untuk memperoleh manfaat gizi sekaligus meminimalkan risiko kesehatan.

Kebiasaan memasak yang sederhana ini sering terlupakan, namun memiliki dampak pada konsumsi energi rumah tangga dan kesehatan konsumen. Kesadaran akan suhu internal dan waktu memasak dapat membantu mengurangi pemborosan energi serta risiko kesehatan. Selain itu, penggunaan kompor LPG atau listrik yang efisien, serta pemilihan metode memasak yang tepat, dapat menurunkan emisi karbon dioksida dan meningkatkan kualitas makanan.

Dengan memperhatikan suhu internal daging, menghentikan memasak setelah mencapai tingkat aman, dan menghindari bagian gosong, konsumen dapat menghemat energi dan menjaga kualitas gizi. Sementara itu, kebiasaan mematikan kompor setelah makanan matang dapat menurunkan penggunaan energi di rumah. Praktik sederhana ini tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga mendukung upaya pengurangan emisi dan peningkatan kesehatan masyarakat.

Kesadaran akan efisiensi energi di dapur dan pemahaman tentang suhu memasak yang tepat menjadi dua pilar penting dalam menjaga kesehatan dan lingkungan. Melalui langkah sederhana, setiap rumah tangga dapat berkontribusi pada pengurangan konsumsi energi sekaligus meminimalkan risiko kesehatan yang terkait dengan proses memasak berlebih.

efisiensi energimasak berlebihHCAPAHkonsumsi energi rumah tanggakualitas giziemisi karbon

Komentar

Memuat komentar...