Menteri Keuangan: Rupiah Melemah, Tetap Kelola Nilai

Vera T. · 2 min baca · 1 jam lalu · 28 dibaca
Bisik.id
Menteri Keuangan: Rupiah Melemah, Tetap Kelola Nilai

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan tentang melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Menurut data Bloomberg, dolar AS menguat 77 poin atau 0,43 % sehingga mencapai nilai tukar Rp 18.044.

Purbaya menegaskan bahwa pengelolaan stabilitas nilai tukar adalah kewenangan Bank Indonesia (BI). Saat ditanya apakah perlu menggelar rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menanggapi pelemahan rupiah, ia mengatakan belum melihat kondisi yang memaksa langkah tersebut. “Nanti Anda ngelihat saya panik. Pada dasarnya BI masih menjalankan kegiatan dengan baik dan semuanya masih di bawah kendali mereka. Saya serahkan rupiah ke mereka,” ujarnya di Kompleks DPR RI, Jakarta, 4 Juni 2026.

Ia tetap mengakui bahwa melemahnya rupiah dapat menambah beban pembayaran utang luar negeri dalam mata uang rupiah. Meskipun kupon atau bunga utang dalam dolar tetap, jumlah rupiah yang harus disiapkan akan lebih besar ketika kurs melemah. “Harusnya sih fix kuponnya, tapi kan kalau dia jual di pembayaran utang kan lewat kupon. Kuponnya sih konstan. Cuma, pada waktu rupiah melemah ya ikut meningkat kan dalam rupiah pembayarannya,” jelas Purbaya.

Menurutnya, kondisi tersebut masih berada dalam rentang simulasi yang sudah diperkirakan pemerintah. Ia menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak terdampak dan tetap aman. “Menurutnya, kondisi tersebut masih berada dalam rentang simulasi yang sebelumnya telah diperhitungkan pemerintah. Oleh karena itu, ia memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak terdampak dan masih aman,” kata Purbaya.

Purbaya menjelaskan bahwa saat penyusunan APBN, pemerintah menggunakan asumsi dolar AS Rp 16.500, namun juga melakukan berbagai simulasi terhadap kemungkinan perubahan kondisi ekonomi, termasuk pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi. “Kan gini, pada waktu APBN pertama kan ada asumsinya berapa? Rp 16.500, ya? T api kan terus ada simulasi pada waktu harga BBM naik tinggi kan? Ya, kita hitung di situ. Adjustment-nya cukup tinggi, tapi kan saya nggak sebutkan kan nanti rupiah melemah signifikan, tapi basically, fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang, lebih kuat dari yang sekarang,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah melakukan intervensi di pasar surat utang negara untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Menurutnya, intervensi tersebut mencapai lebih dari Rp 8 triliun di pasar obligasi. “Mungkin Rp 8 triliun lebih yang di obligasi ya, tapi itu yang boleh diomongin, ya. Nggak apa-apa, biar Anda tahu, saya intervensi sedikit. Terus 10 tahun kan relatif stabil atau cenderung turun. Jadi, dampaknya ada ke surat utang kita,” tutup Purbaya.

Keputusan intervensi dan simulasi fiskal menunjukkan pemerintah tetap memantau kondisi mata uang. Meski rupiah melemah, langkah-langkah yang diambil dianggap cukup untuk menjaga stabilitas keuangan dan melindungi pembayaran utang negara.

rupiah melemahBank IndonesiaAPBNintervensi obligasiKSSKpasar surat utangsimulasi fiskal

Komentar

Memuat komentar...