Menteri: Logistik Timur Tengah Tak Ganggu Impor Bawang Putih
Gambar atau konten salah?
Budi Santoso, Menteri Perdagangan, menanggapi dampak biaya logistik akibat konflik di Timur Tengah pada 28 Maret 2026. Ia menegaskan bahwa hingga kini tidak ada pengaruh signifikan terhadap komoditas penting seperti bawang putih dan kedelai.
Menurutnya, impor bawang putih yang sebagian besar berasal dari China tetap berjalan normal karena jalur logistik masih dianggap aman. Bahkan volume impor belum mencapai kapasitas penuh, memberi ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan pasokan sesuai kebutuhan dalam negeri.
“Ya, ini pertama begini. Kalau bawang putih kan kebanyakan impornya dari China. Ya dari China memang kalau logistiknya masih aman. Jadi kita impor untuk bawang putih juga masih jalan, nggak ada masalah. Bahkan impornya dari China itu belum 100%,” kata Budi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (28/3/2026).
Budi menjelaskan bahwa pemerintah mengatur ritme impor agar tidak dilakukan secara besar-besaran dalam waktu singkat. Jika impor melonjak drastis, permintaan ke pemasok akan meningkat dan berpotensi memicu kenaikan harga dari negara asal.
“Yang artinya, apa sebenarnya, begini ya, kenapa kalau impor bawang putih karena suppliernya kan satu, artinya yang kita ambil itu kan dari China. Kalau kita tiba-tiba ambil banyak, harga naik. Karena permintaan melonjakan, supplier China juga pasti akan naikin harga,” tuturnya.
Oleh karena itu, pemerintah memilih menyesuaikan volume impor secara bertahap. Hal ini juga dilakukan demi menjaga stabilitas harga di dalam negeri.
“Makanya salah satu caranya adalah impornya itu pelan-pelan gitu ya. Jadi sesuai kebutuhan di dalam negeri, menyesuaikan sehingga harga di dalam negeri jadi stabil. Kalau tiba-tiba kita justru impor banyak, nanti yang dari suppliernya akan menaikkan harga,” tambah Budi.
Sementara itu, untuk komoditas kedelai, Budi memastikan kondisi masih relatif aman dan belum menunjukkan adanya kenaikan harga.
“Kedelai sampai sekarang juga masih aman, gak ada kenaikan,” tutupnya.
Dengan pendekatan bertahap, pemerintah berharap dapat menyeimbangkan pasokan dan harga, menjaga konsumen tetap terhindar dari lonjakan biaya yang disebabkan oleh gangguan logistik internasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Indonesia 108 GW, 85% Fosil, 15% Terbarukan, Target Tercapai
IHSG Tutup 5.839,78, Garuda Naik Setelah Jatuh Pasar
Fiskal Indonesia Aman: Defisit APBN 0,7% PDB, Purbaya
Alfamidi Laba Kuartal 2026 Naik 39,5% dengan Ekspansi Gerai
Tarif Listrik Tetap 2017, Subsidi Naik Rp201 Triliun
BEI Hadiri Pertemuan Investor Global, Kuatkan Pasar Modal
Berita Terbaru
Gaji Tertinggi Pelatih Tim Nasional: Ancelotti Rp 182,2 M
Telkom Luncurkan AIcosystem: Ekosistem AI Jakarta Nusantara
Mengajar di Ponpes Cipasung: Santri Kuasai Konten Digital
Indonesia 108 GW, 85% Fosil, 15% Terbarukan, Target Tercapai
IHSG Tutup 5.839,78, Garuda Naik Setelah Jatuh Pasar
Fiskal Indonesia Aman: Defisit APBN 0,7% PDB, Purbaya
