Menteri Pendidikan: Matematika Indonesia Terbakar Ketakutan
Gambar atau konten salah?
Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, menyoroti ketakutan yang masih melekat pada pelajaran matematika di kalangan siswa. Ia mengamati bahwa banyak murid menganggap mata pelajaran ini menakutkan, sehingga ia membuat perumpamaan bahwa “math” identik dengan “death”.
“Kesulitan yang mereka hadapi ketika belajar matematika di masa awal itu akan berdampak terus dalam jenjang berikutnya. Sehingga ada istilah ‘math’ itu identik dengan ‘death’. Sampai ada yang bilang matematika itu pelajaran ‘mati‑mati‑an’. Pelajarannya apa? ‘Mati‑mati‑an,’” kata Mu'ti di Gedung A Kemendikdasmen, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, pada 9 April 2026.
Mu'ti kemudian membandingkan sistem pembelajaran matematika untuk anak usia dini di Indonesia dengan yang di Australia. Ia baru saja dihubungi oleh seorang rekan yang kembali dari negara kangguru tersebut, yang menceritakan bahwa anaknya mendapat nilai matematika rendah, namun ia bersyukur anaknya mendapat nilai 2.
“Matematika di Australia itu pada masa awal ya rendah saja, lebih banyak bermain. Karena logikanya yang ditekankan,” ungkap Mu'ti. Ia menekankan bahwa anak-anak di Australia lebih fokus pada logika daripada angka pada tahap awal.
Menurut Mu'ti, persepsi negatif siswa muncul karena masih ada sekolah PAUD yang memperkenalkan matematika dengan metode yang berat. Ia mencontohkan kelas 2 yang sudah diberi materi pembagian kompleks.
“Tolong nanti tim dicek, jangan‑jangan kelas 2 SD kita sudah diajarkan pembagian yang kompleks sekali. Malah TK pun sudah diajari itu. Padahal masa awal itu yang penting logikanya,” tambahnya.
Data PISA 2022 menunjukkan 366 poin untuk siswa Indonesia, jauh tertinggal dibandingkan Singapura yang meraih 575 poin. Hasil TKA jenjang SMA/sederajat juga menegaskan tantangan numerasi, dengan rata‑rata nilai 36,10.
“Hasilnya tidak jauh berbeda dengan tes PISA. Ini menunjukkan kita belum sepenuhnya pulih (not yet recovered) dari persoalan fundamental kemampuan dasar membaca dan berhitung,” tegas Mu'ti.
Kesimpulannya, matematika masih menjadi tantangan utama dalam sistem pendidikan Indonesia. Upaya reformasi kurikulum dan pendekatan pembelajaran yang lebih berfokus pada logika diharapkan dapat mengurangi rasa takut dan meningkatkan kemampuan numerasi siswa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
